Bapak dan Toko Kelontongnya

Tya Fitria
Chapter #4

Bapak dan Toko Kelontongnya

Senandung lirih aku gumamkan mengikuti irama musik dari ponselku menjadi pelipur lara dari berbagai rasa sakit karena penolakan lamaran kerja yang aku terima sampai hari ini. Sebenarnya, beberapa kali aku mendapatkan undangan wawancara kerja, tapi hasilnya tidak pernah sesuai harapan. Kalau tidak digantung tanpa kabar berarti ya ditolak secara resmi.

Aku menatap kosong langit-langit kamar yang berwarna putih itu. Rasanya hidupku seperti langit-langit itu yang hanya ada satu warna, sama sekali tidak menarik. Tapi aku tak benar-benar fokus memperhatikan langit-langit kamarku. Mataku hanya tertuju ke sana, tubuhku hanya diam, sementara pikiranku berkelana ke tempat-tempat yang bahkan tidak ingin aku singgahi sama sekali.

Semua terasa begitu berat.

Rumah yang terasa semakin dingin setiap harinya karena tak pernah ada yang menciptakan kehangatan. Semua orang sibuk untuk saling menyalahkan. Jika Bapak. Ibu, dan Yumna saling menyalahkan satu sama lain, aku justru menyalahkan diriku sendiri atas semua kekacauan yang terjadi di keluargaku. Aku selalu berandai jika saja aku tidak pernah terlahir di dunia ini, mungkin saja keluarga ini akan menjadi keluarga yang benar-benar sempurna dan harmonis seperti tampak luarnya saat ini.

Belum lagi, sekarang aku adalah seorang pengangguran yang membuat hari-hariku menjadi semakin terasa berat. Aku bahkan selalu menghindar apabila ada pertemuan keluarga karena aku terlalu lelah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tak tahu jawabannya. Lebih dari itu, aku juga merasa malu karena merasa menjadi orang yang gagal karena belum mendapatkan pekerjaan.

Tiba-tiba suara musik dari ponselku sempat terhenti sejenak dan terdengar bunyi notifikasi WhatsApp. Aku menghiraukan pesan masuk itu karena sudah bisa aku tebak jika itu adalah pesan dari Bapak di WhatsApp grup keluarga yang isinya harga-harga terbaru sembako hari ini. 

Ponselku kembali berbunyi, tapi kali ini sebuah panggilan masuk dari Ibu yang sedang pergi bersama Bapak belanja sayuran dan kebutuhan dapur yang memang tidak dijual di toko. Ibu memintaku untuk segera mengangkat jemuran karena langit sudah mulai gelap meski waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Terlalu terhanyut dalam lamunan membuatku tidak menyadari jika hujan mungkin akan segera turun. 

Sejak pertengkaran Bapak dan Ibu tempo hari yang mengakibatkan rumah menjadi seperti kapal pecah, Ibu benar-benar membuktikan ucapannya dengan tidak lagi membantu Bapak menjaga toko di siang hari. 

Jadi, mau tidak mau Bapak harus mencari pengganti Ibu. Mulai dari pukul delapan sampai pukul lima sore, toko dijaga oleh Arum, seorang gadis kelahiran tahun 2005 yang sangat cekatan dalam menjaga toko sejak pertama kali bekerja, enam bulan lalu. Terkadang, aku sengaja datang ke toko hanya untuk mengobrol dengan Arum untuk menghabiskan waktu agar hari-hari gelapku cepat berlalu dan segera datang hari yang cerah untuk aku.

Sebelum melaksanakan perintah Ibu, aku akhirnya melihat pesan WhatsApp yang tadi sempat masuk. Ternyata bukan dari Bapak melainkan dari seseorang yang nomornya tak ada di kontakku. Aku mengernyit sesaat, memastikan jika pesan ini bukan pesan penipuan, melainkan benar-benar pesan dari HRD SuaraKita, perusahaan media yang dulu pernah aku impikan. Tapi karena sudah terlalu lama tidak ada jawaban maka aku pun sudah melupakannya dan tak lagi berharap pada perusahaan ini.

Tapi bagaimana dengan hari ini?

Apa mungkin hari ini benar-benar membawa harapan baru untukku?

Aku membaca lagi pesan itu dengan perlahan dan ternyata benar pesan itu adalah pesan undangan tes psikotes dan wawancara langsung ke Jakarta untuk menjadi seorang jurnalis. Segera aku membalas pesan itu tanpa ragu. Aku memastikan kehadiranku pada hari seleksi meskipun aku masih tidak tahu bagaimana caranya nanti memberitahu Bapak dan Ibu karena situasi rumah belum sepenuhnya membaik.

Seperti ada kupu-kupu terbang di perutku, aku tersenyum girang dan segera keluar mengangkat jemuran. Di teras rumah, aku bertemu dengan Yumna yang baru pulang kuliah, tidak ada sapaan apalagi senyuman. 

Yumna masih marah kepadaku karena kejadian kemarin malam. Aku pun tetap memilih diam dan membiarkan Yumna mengambil waktu sebanyak yang dia mau untuk marah kepadaku. Daripada aku ikut menyembunyikan kelakukan buruk Yumna, itu justru akan semakin membuatku merasa bersalah.

Deru suara mobil mulai terdengar masuk ke pekarangan rumah, ingin rasanya aku langsung menghampiri Bapak dan Ibu untuk memberitahu kabar baik ini. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan saat Bapak sedang menyeduh kopi di dapur dan Ibu sedang membereskan belanjaan, aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk bicara.

“Pak, Bu. Ada yang mau Kanna sampein.” Bapak dan Ibu langsung menghentikan aktivitasnya dan beralih menatapku.

“Apa?” tanya Ibu sementara Bapak hanya terdiam dan kembali mengaduk segelas kopi.

“Kanna dapet undangan wawancara lagi , tapi kali ini nggak online kaya sebelumnya. Harus ke Jakarta langsung karena ini undangan dari media SuaraKita.”

“Tuh kan, Ibu udah bilang. Pasti nanti ada kesempatan lagi buat kamu,” ujar Ibu tetap sambil memasukan sayuran ke dalam kulkas.

“Yaudah, kamu berangkat aja ke Jakarta ya buat wawancara. Nanti Bapak tanggung semua biayanya,” kata Bapak sembari berlalu membawa segelas kopi untuk dinikmati di teras depan.

Lagi dan lagi, aku hanya mendapatkan respons dingin dari orang tuaku atas sesuatu yang menurutku merupakan hal patut untuk dirayakan. Meski aku belum tentu diterima bekerja di SuaraKita, tapi paling tidak aku ingin mendengar kata-kata yang membuatku merasa layak untuk memperjuangkan mimpiku.

Aku kembali tersenyum getir menyadari bagaimana hidupku berjalan.

Aku langsung menyiapkan semua keperluan untuk ke Jakarta, termasuk membeli tiket kereta karena wawancara akan dilangsungkan lusa. Aku berharap, Bapak dan Ibu bisa mendampingi aku untuk pergi wawancara karena ini adalah wawancara tatap muka pertama aku setelah sekian lama hanya mengikuti wawancara online. Harapan tetaplah menjadi harapan karena Bapak tetap memilih tokonya daripada anak perempuannya.

“Bu, kita jadinya pergi berdua?” Aku memastikan berapa tiket kereta yang harus dibeli.

“Bentar, Ibu khawatir kalau Yumna sama Bapak aja di rumah. Ibu penginnya Yumna ikut,” ucap Ibu sedikit berbisik.

“Tapi Yumna kan harus kuliah, Bu.”

“Sebentar Ibu tanya anaknya dulu.”

Ibu lantas memanggil Yumna ke ruang tengah, dia keluar dengan muka yang masih cemberut karena melihat aku ada di samping Ibu.

“Apa?!” ujar Yumna ketus.

“Mbak Kanna, ada panggilan wawancara di Jakarta, besok harus berangkat. Ibu mau nemenin Mbak kamu, ikut ya?” tanya Ibu halus.

“Nggak!” kata Yumna singkat dan kembali masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.

“Yaudah lah, Bu. Yumna pasti belajar dari kejadian kemarin. Sekarang Ibu coba percaya aja sama Yumna.”

“Atau kalau memang Ibu khawatir sama Yumna, aku berangkat sendiri aja enggak apa-apa kok, Bu.” Aku menggengam tangan Ibu untuk menyakinkan Ibu jika aku akan baik-baik saja jika pergi sendirian.

“Kamu yakin, nggak apa-apa?”

Aku mengangguk, tersenyum dari luar dan menangis di dalam hati.

Lihat selengkapnya