Jakarta tak pernah tidur. Lalu lintas jalanan tak pernah sepi, selalu dipenuhi oleh suara kendaraan, dan lampu gedung-gedung tinggi seolah tak pernah benar-benar padam yang menandakan aktivitas manusia di dalam gedung tak pernah berhenti.
Pekerjaanku semuanya berjalan dengan sangat baik pada awalnya. Aku menikmati pekerjaan yang aku impikan menjadi seorang jurnalis. Rasanya begitu menyenangkan ketika aku menghadiri acara jumpa pers bersama dengan menteri luar negeri atau pun dengan duta besar dari negara lain. Setelahnya, aku mengkonversi hasil wawancara menjadi sebuah tulisan yang dibaca banyak orang, dan terakhir adalah bagian yang aku suka, menuliskan namaku di bagian atas artikel berita. Pekerjaan ini membuatku merasa benar-benar ada di dunia ini.
Aku sempat mengira kalau hidupku akan mulai stabil di kota ini karena aku tidak perlu lagi mendengar pertengkaran Bapak dan Ibu. Aku merasa bisa mulai melepaskan trauma dan beban yang selama ini membelenggu aku di rumah. Sekarang, aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri untuk hidupku sendiri. Setiap bulan, aku bisa memberikan penghargaan kepada diriku atas kerja keras yang sudah aku lakukan.
Teringat dalam benakku, saat pertama kali mendengar kata terima kasih dari Bapak, Ibu, dan Yumna saat aku mengirimkan baju gamis untuk Ibu, baju batik untuk Bapak, dan tas untuk Yumna. Aku benar-benar merasa bahagia ketika melihat keluargaku senang menerima pemberian yang aku belikan dari gaji pertamaku. Selanjutnya, aku ingin mengirimkan sedikit uang dari gajiku untuk Ibu, tapi selalu ditolak.
Aku sudah merasa cukup dengan kehidupanku saat ini, pengorbananku menjauh dari keluarga ternyata dapat menciptakan kebahagiaan baru yang tak pernah bisa aku rasakan sebelumnya. Di kantor pun, meskipun aku tidak terlalu menonjol, namun aku tetap bisa diandalkan. Aku bisa menulis dengan cepat, runtut, dan rapi. Aku juga tahu cara menggali informasi tanpa membuat narasumber merasa sedang diinterogasi. Kupikir aku akan bertahan lama di sini.
Bahkan ada kalanya aku diminta untuk meliput dari bagian rubik lain karena kemampuanku yang cekatan dalam mengolah hasil wawancara menjadi naskah berita yang apik. Seperti hari ini, aku ditugaskan untuk meliput dari rubik parenting. Aku akan menemui beberapa narasumber untuk peringatan Hari Ayah yang akan jatuh pada 15 Juni, esok hari.
Tidak seperti biasanya, liputan kali ini membuat aku merasa grogi dan cemas karena topik yang harus aku gali adalah tentang fenomena fatherless generation. Rasa hati ingin menolak tugas itu, tapi aku tidak punya kuasa untuk mengatakan keinginanku yang sebenarnya karena aku juga sebenarnya tidak punya alasan kuat untuk menolak tugas itu. Aku tidak ingin mencampuradukkan antara urusan pekerjaan dengan kehidupan pribadi aku.
Aku mulai mewawancarai perempuan-perempuan remaja hingga dewasa yang tumbuh tanpa sosok ayah yang utuh. Kisah mereka rata-rata menunjukkan kalau ayah mereka tidak hadir sepenuhnya dalam hidup mereka karena jarang pulang akibat pekerjaan, ayah yang tak acuh dengan keluarga, dan ayah yang ada, tapi tak pernah benar-benar hadir.
Empat narasumber yang aku wawancara sama-sama menceritakan rasa kesepian yang mereka alami ketika di rumah. Mereka tidak lagi percaya istilah ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Ketidakhadiran ayah dalam hidup mereka membuat mereka takut untuk membuat keputusan sendiri karena tak pernah ada yang membimbing. Dulu, aku pun merasakan hal yang sama sebelum merasa lelah dan akhirnya tanpa berpikir panjang aku membuat keputusan untuk datang ke Jakarta ketika diundang wawancara.
Baru kali ini, aku wawancara narasumber di mana aku benar-benar merasakan berdiri di sepatu mereka.
Berbeda denganku yang membiarkan ruang kosong itu berdebu, para narasumberku mengatakan mereka terus mencari sesuatu untuk mengisi ruang kekosongan atas ketidakhadiran sosok ayah seperti, mencari pasangan yang lebih dewasa.
Aku mencatat semuanya dengan tenang tanpa penghakiman apa pun. Dalam hati aku seperti melihat kehidupanku di kehidupan orang lain.
Salah satu narasumber yang usianya tidak berbeda jauh dariku berkata dengan menahan rasa sakit dan air mata yang membuatku seketika berhenti mencatat dan merasa tertegun.
“Ayahku memang kepala keluarga, tapi dia seperti benalu. Hidupnya hanya menumpang padaku dan Ibu. Kami banting tulang cari uang, tapi dia hanya bisa meminta untuk rokok dan judi online. Berkali-kali aku meminta Ibu untuk bercerai, tapi karena Ibu takut dengan status janda, dia memilih untuk bertahan.”
Rasanya jantungku seperti diremas mendengar cerita itu. Selama ini, aku terlalu sibuk dengan lukaku sendiri sampai lupa kalau Bapak meski kaku, dingin, dan kurang perhatian terhadap keluarga, tapi Bapak tetap mengantar aku ke rumah sakit ketika sakit, masih membayar biaya kuliahku tanpa pernah telat, dan masih terus berdiri di balik etalase toko setiap harinya tanpa henti untuk memastikan keluarganya tidak kurang apa pun secara materil.
Bapakku memang bukan ayah yang ideal seperti yang banyak diimpikan oleh anak perempuan. Tapi, paling tidak Bapak tetap tinggal dan bertanggung jawab.
Malam itu, menjadi malam yang panjang untukku karena setelah wawancara aku langsung menulis naskah artikel untuk diterbitkan besok pagi. Aku mendapatkan banyak pelajaran dari liputanku malam ini. Aku melihat kisah mereka sebagai refleksi untuk diri sendiri. Tentang bagaimana bentuk kasih sayang itu kadang bukan berupa pelukan atau pertanyaan-pertanyaan hangat nan penuh perhatian. Kadang ia hadir justru dalam bentuk lain, seperti kuitansi pembayaran kuliah, kebutuhan sehari-hari yang tak pernah kurang, atau hadir dalam diamnya yang entah mengapa masih tetap terasa.
Artikel yang aku tulis semalam, ternyata mendapatkan banyak perhatian dari publik. Baru beberapa jam artikel itu naik di website sudah mendapatkan jumlah pembaca yang cukup tinggi. Karena hal ini aku mendapatkan apresiasi dari atasan yang membuatku semakin semangat untuk bekerja. Aku semakin merasa nyaman dengan pekerjaanku saat ini dan aku pikir aku akan bertahan lama di sini.
Namun, pelan-pelan semuanya berubah.
Dua bulan menjelang satu tahun aku bekerja, redaktur di divisi internasional diganti. Dari situ jadwal kerjaku mulai tak menentu. Shift malam yang awalnya hanya seminggu sekali, berubah menjadi dua, lalu tiga, dan hampir setiap hari aku mendapatkan jadwal shift malam. Lintang, teman satu angkatanku bahkan sampai tumbang karena terlalu banyak shift malam dan ketika Lintang izin karena sakit, mau tidak mau aku yang harus menggantikan karena rekan yang lain sedang menjadi suami siaga dan rekan perempuan lain sudah senior.
Aku baru bisa tidur di pagi hari dan bangun menjelang maghrib sebelum jam delapan malam aku kembali lagi ke kantor. Jam makan aku pun menjadi berantakan sampai berakibat aku terkena asam lambung. Aku berhenti berolahraga, berhenti membaca buku, dan berhenti merasa segar saat bangun tidur. Hidupku benar-benar berubah selama dua bulan ini.
Malam-malamku bukan lagi waktu untuk istirahat, tapi waktu untuk berpura-pura kuat dan tangguh. Aku duduk di depan layar komputer, mengetik berita perkembangan dunia sambil menguap tanpa henti, menahan kepala yang begitu berat, dan perut yang terasa perih. Aku merindukan malam-malam nyenyak tidur di kamar kos bukan di ruang kerja seperti ini setiap hari.
Aku bahkan sempat menghadap atasanku untuk memprotes jadwalku yang sangat tidak adil ini. Tapi jawaban yang aku peroleh hanya lah senyum simpul dan kalimat singkat yang mengesalkan.
“Kamu sanggup kan? Yang lain juga capek, kok.”