Pagi itu, cuaca Jakarta kurang bersahabat. Sebelum berangkat ke kantor, aku mengantar Yumna ke stasiun Pasar Senen terlebih dulu. Setelah obrolan semalam, aku berhasil membujuk Yumna untuk segera pulang ke rumah karena ia masih harus menyelesaikan perkuliahannya sebelum libur semester.
Aku dan Yumna berdiri di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang tanpa henti. Suara kereta, roda koper yang bergesekan dengan lantai, dan pengumuman dari pengeras suara bercampur menjadi satu membentuk suara bising yang aneh, semacam berada di tengah keramaian yang justru membuat hati merasa sepi dan kosong.
Yumna dengan tas ransel yang menempel di punggungnya, berdiri di sampingku, ia tak banyak bicara, tapi wajahnya melihatkan jika ia merasa berat untuk pulang. Rasanya baru semalam aku bisa mengenal adikku sendiri dengan lebih mendalam, duduk bersama di kedai kopi, saling membuka luka yang selama ini tersimpan rapi. Tapi pagi ini, kami harus dipisahkan oleh jarak dan kembali ke rutinitas masing-masing.
“Jangan lupa makan di kereta.” Aku sempat membekali Yumna dengan sekotak nasi ayam krispi dan sebotol air mineral.
“Iya, Mbak Kanna juga. Jangan kerja terus sampai lupa istirahat. Nanti bisa sakit.”
Aku hanya tersenyum. Sebenarnya, aku ingin cerita kalau aku sudah tak tahu lagi bagaimana caranya untuk beristirahat. Tapi lagi-lagi aku merasa tak perlu memberi tahu bebanku kepada Yumna karena khawatir akan membuatnya merasa semakin terbebani.
Kereta sebentar lagi berangkat dan Yumna segera melangkah ke arah pintu peron dan menoleh sekali lagi, melambaikan tangan sebelum hilang di antara kerumunan manusia.
Aku berdiri cukup lama setelah kereta yang ditumpangi Yumna pergi. Ada rasa kosong yang kembali terasa dalam diriku. Meski Yumna datang secara mendadak dan hanya dua hari satu malam, tapi itu cukup untukku sedikit mengobati luka yang terpendam.
Dan di tengah keramaian ini, aku kembali sendiri.
Air mata yang hampir jatuh segera aku tepis, aku masih harus melanjutkan hari panjangku dengan bekerja. Hari ini ada harapan baru untukku karena jadwal kerja bulan ini akan segera keluar. Aku berharap, jadwal shift malamku tak segila bulan kemarin.
Di mejaku sudah ada jadwal untuk bulan ini dan seketika mataku membulat sempurna bagaimana bisa dari jadwal kerja selama 30 hari, aku dapat jadwal shift malam selama 20 hari. Ini benar-benar sudah gila dan enggak masuk akal. Dengan emosi yang tertahan, aku beranjak dari kubik kerjaku dan menuju ruangan Mbak Rima, yang menjadi redaktur bagian internasional dan juga yang mengatur jadwal para jurnalis internasional.
“Mbak Rima, bulan kemarin saya udah hampir 15 hari shift malam, tapi ternyata bulan ini justru 20 hari. Apa ini enggak salah Mbak?”
“Kanna tenang dulu, ya. Saya juga bingung harus gimana lagi karena divisi internasional kan lagi kurang orang, kamu tahu sendiri. Arman sama Deo, lagi jadi suami siaga kalo istrinya lahiran malem-malem terus mereka dapat shift malam kan saya juga yang kena. Terus Bu Kalis, dia juga udah senior nggak mungkin aku kasih jadwal malem. Jadi, yang memungkinkan ya cuma kamu sama Lintang.”
Aku benar-benar tak habis pikir dengan penjelasan Mbak Rima yang sangat menggampangkan posisiku.
“Oh iya, Kanna. Kamu pulang aja dulu ya, Hari ini sama dua hari ke depan kamu shift malam gantiin Lintang karena tadi orang tuanya telepon Lintang opname di rumah sakit.”
“Apa?!” Bicaraku sedikit meninggi membuat Mbak Rima menatapku tajam.
“Kalau enggak ada yang mau dibicarain lagi. Saya mau pergi dulu jemput anak sekolah.” Setelahnya Mbak Rima meninggalkan aku di ruangannya yang sudah tak bisa lagi menahan air mata.
Aku keluar dari ruangan Mbak Rima dengan mata sembab dan tak ada satu pun dari orang-orang di divisi internasional ini peduli denganku yang sudah dikorbankan untuk kepentingan mereka.
***
Malam itu, aku kembali menatap layar komputer pada jam di mana tubuhku seharusnya beristirahat. Aku menahan kantuk dan migrain di kepala yang datang dan pergi. Belum lagi ditambah dengan perutku yang terasa sangat mual.
Bukan hanya tiga hari aku hidup dengan siklus yang tidak sehat melainkan lima hari, lebih lama dari yang Mbak Rima janjikan karena memang kondisi Lintang belum sepenuhnya pulih.
Pada hari kelima aku bekerja di shift malam, tubuhku sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Mual yang tak kunjung reda, kepala terasa begitu berat, dan jantung yang berdebar tanpa sebab. Aku kira aku masih bisa bertahan paling tidak sampai jam kerjaku usai, tapi ternyata aku tak sekuat itu. Tiba-tiba pandanganku kabur ketika aku baru saja meletakkan segelas air hangat di atas meja kerja dan bersiap untuk kembali bekerja. Dan sebelum sempat kembali ke kursi, tubuhku ambruk dan semuanya menjadi gelap.
Kabarnya, ada satpam yang sedang patroli dan menemukan aku tergeletak begitu saja di tengah ruangan yang kosong. Dari situ, aku langsung dilarikan ke rumah sakit dan saat tersadar entah siapa yang menghubungi, aku melihat Dinar sedang tertidur di kursi sebelah ranjangku.
“Din…,”
Dinar terlihat mengerjap. “Na, kamu udah sadar. Syukurlah, gimana keadaanmu? Udah mendingan?”
Aku mengangguk lemah.