Bapak dan Toko Kelontongnya

Tya Fitria
Chapter #7

Tempat yang Tak Pernah Terbayangkan

Sempat terbesit harapan ketika aku pulang ke rumah, aku akan menemukan sebuah ketenangan yang selama dua bulan terakhir ini tak pernah bisa aku rasakan di Jakarta. Hari-hariku selalu dibayangi dengan rasa takut dan cemas ketika sedang piket malam, tapi aku menahan semuanya seorang diri sampai aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi. Bahkan, aku sampai memiliki kekuatan untuk mengkonfrontasi Mbak Rima, padahal kepribadianku cenderung selalu diam dan menyimpan semuanya sendiri. Kejadian di kantor tempo hari membuatku tersadar jika aku selalu membawa bom waktu akan luka-luka batin yang selama ini aku pendam sendiri.

Hidupku semakin dipenuhi dengan rasa bersalah yang tak kunjung usai ketika aku pulang ke rumah.

Beberapa hari aku pulang dari Jakarta, aku mendapati Ibu menangis di dalam kamarnya. Ingin rasanya aku menenangkan Ibu, tetapi aku tidak tahu caranya. Dari kamar, aku sempat mendengar obrolan Bapak dan Ibu yang berakhir dengan keributan. Ibu hanya meminta uang untuk membeli keperluan sehari-hari dan membeli obat, tetapi yang terjadi Bapak justru marah dan merasa Ibu terlalu boros untuk hal-hal yang tidak penting. Padahal, Ibu adalah sosok paling sederhana yang pernah aku kenal.

Selama Ibu menikah dengan Bapak, tak pernah sekali pun aku melihat Bapak memperlakukan Ibu dengan penuh cinta kasih. Jangankan uang untuk membeli emas atau baju, ditawari saja, rasanya Ibu tidak pernah. Ibu menahan semuanya dan bertahan dalam hubungan toxic ini demi aku dan Yumna. Fakta ini semakin membuatku  merasa bersalah, apalagi saat ini aku sudah kembali menjadi pengangguran. Meskipun, aku memiliki uang simpanan, tapi uangku tidak akan cukup untuk membeli rumah jika Ibu benar-benar memutuskan akan bercerai.

Suasana di rumah menjadi dingin, tanpa sedikit pun adanya kehangatan, rasa aman dan nyaman yang seharusnya diciptakan oleh kepala keluarga. Nahkoda dalam kapal yang aku tumpangi hanya sibuk menjaga kapal agar tetap berjalan, sampai lupa bahwa ada awak kapal di dalamnya yang hampir tenggelam dalam diam.

Aku ingin memeluk Ibu.

Bener-bener ingin.

Tapi, lagi-lagi aku tidak tahu caranya untuk memeluk.

Aku takut justru akan membuat suasana menjadi aneh dan canggung karena kita sebagai keluarga sangat asing dengan yang namanya berpelukan.

Akhir-akhir ini hubunganku dengan Ibu juga sedang tidak terlalu baik. Aku dan Ibu sama-sama sedang ada di fase sensitif dan jika aku dan Ibu bicara yang ada justru akan menimbulkan pertengkaran baru. Meskipun begitu, semua ucapan Ibu yang terkadang ketus dan menyakitkan itu tak sedikit pun mengurangi rasa sayangku kepada Ibu.

Entah disadari atau tidak, Ibu kerap mengatakan kalimat-kalimat yang mengatakan seolah kehadiranku ini justru menambah beban.

Aku selalu mencoba membantu sebisa mungkin. Mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, menjemur pakaian, bahkan memasak jika diperlukan. Tapi entah mengapa, Ibu selalu terlihat kelelahan. Tetap merasa sendiri dan yang paling menyakitkan tetap merasa mengerjakan semuanya sendiri tanpa ada yang membantu.

Selama ini memang pekerjaan rumah hampir semuanya dikerjakan oleh Ibu. Sedangkan Bapak hanya tidur, makan, dan menikmati secangkir kopi di pagi dan sore hari. Selain itu, Bapak akan sibuk di toko atau keliling pasar mencari barang dagangan. Meskipun telah mengerjakan semua pekerjaan rumah, bahkan dulu Ibu ikut membantu menjaga toko, tidak pernah sedikitpun aku melihat Bapak bertanya kepada Ibu tentang rasa lelahnya. Ibu seolah menjadi mesin yang tak boleh lelah dan sakit. Aku mengira, kondisi Ibu akan membaik setelah tidak lagi menjaga toko, tapi yang terjadi justru Ibu semakin terlihat kelelahan.

Rasa lelah yang tak pernah dihargai, membuat Ibu akhirnya melakukan pemberontakan dalam diam. Ibu sudah tidak lagi mau membuatkan kopi dan menyiapkan makan untuk Bapak. Ibu bahkan sudah tidak peduli lagi jika ia bangun lebih siang daripada Bapak.

Sebenarnya, aku merasa sedih dan pengap dengan kondisi di rumah karena Bapak tidak pernah benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi akibat ketidakhadirannya di rumah untuk Ibu, aku, dan Yumna. Kami menjadi sosok yang tak pernah merasakan bagaimana hangatnya perhatian dan kasih sayang dari Bapak karena yang menjadi prioritas Bapak selalu saja toko kelontongnya. 

Hari-hariku terasa semakin berat.

Kecemasan yang dulu hanya muncul di sela-sela shift malam saat bekerja, kini ikut pulang terbawa sampai rumah. Tapi setelah hampir satu tahun aku merantau, suasana rumah pun berubah yang membuat hariku semakin terasa menyesakkan. Tak ada lagi percakapan basi-basi yang dulu bisa menjadi penanda bahwa kami masih saling hidup. Ibu yang biasanya menghidupkan suasana menjadi lebih pendiam. Dan kini yang ada hanya suara langkah Ibu yang mondar-mandir ke sana ke mari untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan suara TV yang menyala, tapi tak pernah benar-benar ditonton.

Tak ada yang bisa menjadi tempat berbagai untukku, sementara cemas yang kurasakan semakin membesar, seperti suara dalam kepala yang tak mau diam. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, mengapa aku berubah menjadi semakin lemah seperti ini, tapi yang jelas aku sedang tidak baik-baik saja.

Aku semakin kehilangan semangat untuk hidup. Hanya sekedar untuk keluar kamar, makan, bahkan untuk bangun di pagi hari pun rasanya sangat berat. Berat badanku turun, mataku selalu tampak lelah, dan pandangku kosong. Aku sering menatap langit-langit kamar sampai berjam-jam tanpa sadar waktu telah berlalu.

Dan Yumna menjadi orang yang pertama kali menyadari perubahanku.

Siang itu, Yumna mengetuk pintu kamarku, tanpa banyak tanya ia mengajakku keluar untuk makan di caffe.

“Ayo, Mbak kita makan enak di caffe baru. Kali ini, biar aku yang traktir. Itung-itung gantian, kan waktu di Jakarta Mbak Kanna terus yang traktir aku.”

“Aduh, Yum. Tapi aku lagi males banget buat keluar.”

“Udah, ayo. Mau sampai kapan Mbak Kanna mengurung diri terus kaya gini coba?” tanya Yumna sambil menarik tanganku untuk bangkit dari tempat tidur.

“Enggak, Mbak di rumah aja, lagian suasana ramai sama sekali enggak cocok buat Mbak.” Aku masih berusaha menghindari ajakan Yumna.

“Tenang aja, Mbak. Kali ini caffenya meskipun ramai, tapi enggak bakal bikin bising karena lokasinya itu hidden gem.” 

“Udah, ayo cepetan ikut. Aku yang boncengin Mbak Kanna dan aku juga yang traktir. 10 menit aku dateng lagi, Mbak Kanna harus udah siap.”

Akhirnya, mau tak mau aku bangkit dari tempat tidur dan memakai baju seadanya celana jeans yang aku padukan dengan kaos berwarna hitam. Aku bahkan tak membawa tas, hanya membawa ponsel yang aku selipkan di saku celana. Yumna membawaku ke sebuah jalanan yang tak terlalu besar, tapi masih sangat asri. Di sana memang tidak ramai, baru hanya satu caffe yang berdiri, yaitu Caffe Tjetar yang kami kunjungi.

Demi menghargai Yumna, meski aku tidak selera untuk makan, aku tetap memilih memesan rice bowl ikan dori sambal matah dengan segelas lemon tea. Yumna juga membeli dimsum, lumpia, dan klapertart yang katanya untuk appetizer dan dessert. Aku sempat mencegah Yumna untuk jangan terlalu banyak memesan makanan. Tapi katanya semua ini Yumna lakukan untuk merayakan aku yang telah berani mengambil langkah besar untuk resign demi menghargai diri sendiri,

Aku berusaha untuk menikmati makanan yang ada di meja meski perutku rasanya seperti ingin memuntahkan makanan yang masuk.

Kami tidak terlalu banyak bicara, tapi sikap Yumna yang seperti ini sudah cukup membuatku merasa tidak sendirian. Aku menatap kosong mangkok yang isinya separuh saja belum habis, saat aku melihat ke arah luar lewat jendela caffe, aku menemukan sebuah papan kecil di seberang jalan kecil ini yang tulisannya membuatku tersentak.

Layanan Konseling Psikologi.

Setelah acara makan siang dengan Yumna, aku pulang dengan suara yang semakin penuh. Sebelum pulang dari Caffe Tjetar, aku mencatat nomor yang tertera di papan kecil itu. Meskipun, sebenarnya aku tak tahu kapan aku akan menghubungi nomor itu.

Tapi malam harinya, aku tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang mengganjal di dada lebih berat dari biasanya. Mungkin karena aku mulai sadar bahwa aku benar-benar sedang membutuhkan bantuan. Bukan hanya pelukan, bukan cuma pengertian, tepi pertolongan yang sesungguhnya.

Lihat selengkapnya