Kalimat yang Tidak Asing Lagi
Ini cerita ingatanku pada tahun 2005 di kota Banjarmasin.
“Anak orang gila ... anak orang gila!"
“Jauhi anak itu berbahaya dia gila ... ibunya saja gila ... pasti dia juga gila!”
Kalimat yang tidak asing kudengar kalau ada anak laki-laki bernama Renardi Sega Tureza. Terkadang aku kasihan juga dengan anak itu, tapi rasa kasihanku menjadi hilang, kalau anak laki-laki itu bersama Ampi.
“Ayah Sega.”
“Iya,“ sahutku sambil tersenyum. Lalu kulihat Ampi tiba-tiba berlari ke arah anak laki-laki itu yang tadinya aku tersenyum, kemudian senyumku hilang.
Aku berjalan pelan mengikuti arah larinya Ampi.
“Kak Sega," suara Ampi pelan.
“Ampi.”
“Kenapa kamu tidak seperti mereka-mereka yang takut dengan orang gila?” tanya anak laki-laki itu.
Ampi hanya diam menatap ke arahnya lalu anak laki-laki itu memalingkan arah kepalanya entah apa tujuannya.
“Ampi,” panggilku, namun Ampi tidak mendengarkanku wajahnya tetap melihat ke arah anak laki-laki itu. Lalu aku mencoba meraih tangannya. Tapi Ampi malah meraih tangan anak laki-laki itu. Aku membatalkan niatku untuk mencoba meraih tangannya.
Aku melihat ke arah tanganku lalu menggenggamnya.
Ibunya Datang Membawakan Baju Olahraga ke Sekolah.
Ini cerita ingatanku pada tahun 2005 di kota Banjarmasin.
Ada seorang ibu yang mondar-mandir di lapangan basket sekolah, terlihat bingung, dan di tangannya memegangi baju olahraga.
Semua siswa berbisik satu dan lainya, karena aku penasaran, lalu aku mencoba untuk menanyakannya.
“Siapa ibu itu?”
“Katanya ibunya Renardi Sega.”
Semua siswa kemudian saling berlari berteriak, karena ibu itu mengejar mereka. Ekspresi ibu itu terlihat sedih, sambil mengulurkan tangannya sambil memegangi baju olahraga. Guru-guru keluar dari ruang kantornya dan menanyakan ada apa ini, ada apa ini, namun tidak ada yang menjawabnya semua siswa hanya menggelengkan kepalanya lalu berlari dan berteriak.
Tiba-tiba aku lihat jarak ibu itu sangat dekat dengan Ampi, aku menarik tangan Ampi untuk berlari menghindari ibu itu. Namun tangan Ampi tiba-tiba terlepas, Ampi berlari dan arah matanya seperti ada yang dia cari.
Lalu Tama muncul menghampiriku, sehabis dia juga berlari. Karena Tama, aku membatalkan niatku untuk kembali mengejar Ampi.
“Ga.”
“Ada apa ini?” tanyaku.
“Ibu Renardi Sega membuat takut semua orang di sekolah, kita tidak bisa tinggal diam saja.” Lalu tama berlari dengan ekspresi muka yang terlihat marah.