Aroma tajam tinta spidol yang menguap di bawah sengatan udara siang selalu berhasil melipatgandakan kecemasan di dalam ruang kelas XII MIPA 1. Pendingin ruangan di sudut kelas mendengung parau, seolah ikut kelelahan menanggung beban ambisi tiga puluh dua kepala yang kini tertunduk tegang. Hari ini adalah hari penghakiman untuk ujian sisiap Fisika—sebuah momok yang sengaja diciptakan Pak Bambang untuk menguji batas kewarasan murid-muridnya.
Hila Nirmala duduk dengan punggung tegak lurus di barisan depan, membentuk sudut sembilan puluh derajat yang sempurna dengan sandaran kursi-kursi kayunya. Jemarinya yang ramping bergerak ritmis, mengetuk-ngetuk permukaan meja kembarannya dengan pulpen gel hitam. Matanya tak berkedip menatap tumpukan kertas bersampul mika biru di atas meja guru. Bagi Hila, lembaran-lembaran itu bukan sekadar kertas, melainkan cermin yang memantulkan harga dirinya.
“Hila Nirmala.”
Suara berat Pak Bambang memecah keheningan. Pria paruh baya berkacamata tebal itu tidak tersenyum. Beliau tidak pernah tersenyum saat membagikan hasil ujian.
Hila berdiri tanpa ragu. Langkah kakinya mantap, membelah keheningan kelas yang menahan napas. Ketika lembar ujian itu diserahkan, pandangan Hila langsung tertuju oada sudut kanan atas. Sebuah angka besar tertulis di sana dengan guratan spidol merah yang tegas.
99
Bagi sebagian besar penghuni SMA Brajamukti, angka itu adalah sebuah pencapaian kosmik yang patut dirayakan dengan syukuran. Bagi Hila, angka itu adalah sebuah cacat. Satu poin yang hilang terasa seperti sebuah tamparan tak kasat mata.
Hila kembali ke bangkunya dengan bibir terkatup rapat, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia segera membalik kertasnya, mengabaikan tatapan kagum sekaligus iri teman-teman sekitarnya. Fokusnya kini beralih pada pencarian satu poin yang hilang itu.
“Bara Mahardika.”
Nama itu diucapkan Pak Bambang dengan nada yang datar, cenderung malas. Seorang remaja laki-laki tersentak bangun dari posisi nyaris menlengkup di atas meja dari barisan paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke pohon flamboyan. Rambutnya agak berantakan, mencuat ke berbagai arah akibat terlalu lama bersandar pada lengan seragamnya yang kusut.
Bara bangkit berdiri, menguap tipis tanpa repot-repot menutup mulut dengan sopan, lalu melangkah ke depan dengan menyeret kakinya. Sepatunya yang sedikit pudar warnanya berdecit pelan di atas lantai tegel.
Pak Bambang menggeleng-gelengkan kepala saat menyerahkan lembaran kertas itu. “Pertahankan, Bara. Setidaknya kamu tidak perlu ikut remidial minggu depan.” ujar Pak Bambang, nadanya separuh menyindir, separuh pasrah.
Bara menerima kertas itu dengan dua jari, membungkuk sekilas dengan gestur yang tampak terlalu formal untuk ukuran anak sekolahan, lalu berbalik. Hila yang secara tidak sengaja mengalihkan pandangan dari kertasnya sejenak, menangkap angka yang tertera di lembar ujian Bara sebelum laki-laki itu melipatnya menjadi dua bagian yang tidak simetris.
68
Angka yang magis, pikir Hila dengan dengusan sinis yang tertahan di tenggorokan. Enam puluh delapan adalah batas paling bawah dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran Fisika. Kurang satu poin saja, Bara akan bergabung dengan barisan anak-anak malang yang harus menghafal ulang rumus termodinamika di hari Sabtu pagi. Tetapi, alih-alih menunjukkan gurat penyesalan atau ketakutan, wajah Bara justru memancarkan kelegaan luar biasa. Laki-laki itu tersenyum tipis. Sebuah senyuman malas yang membuat Hila mendadak merasa kesal tanpa alasan yang jelas.