Bara

Kumbang Kumbara
Chapter #2

BAB 2 - Program Bimbingan

Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela XII MIPA 1 membawa serta gumpalan debu halus yang menari-nari di udara. Bagi sebagian besar murid, hari Jumat seharusnya menjadi gerbang menuju kebebasan akhir pekan yang dinanti. Tetapi, atmosfer di dalam ruangan itu justru terasa seberat timah. Pengumuman mendadak yang tertera di papan pengumuman sekolah mengenai restrukturisasi nilai akademik semester akhir telah menciptakan kecemasan baru.

Hila Nirmala duduk dengan jemari yang tertata rapi di atas pangkuan. Punggungnya masih seanggun kemarin, tapi ketegangan di bahunya tidak dapat disembunyikan. Matanya tertuju pada seembar kertas edaran resmi dari ruang kurikulum yang baru saja diletakkan ketua kelas di mejanya. Pada bagian atas kertas itu tertera judul dengan cetak tebal yang seolah mengejek ketenangannya.

 

Program Bimbingan Akademik Terpadu Mandiri

           

Pak Bambang berdiri tegak di depan degan kedua tangan bertumbu di atas meja guru, memandangi murid-muridnya melalui lensa kacamata yang memantulkan cahaya lampu neon. Beliau berdeham, sebuah isyarat universal yang seketika menghentikan bisik-bisik khotbah keputusasaan di barisan belakang.

           

“Sekolah tidak ingin melihat ada satu pun murid kelas dua belas yang tertinggal dalam ujian akhir nasional nanti,” suara Pak Bambang terdengar berat, mengisi setiap sudut ruangan yang sunyi. “Hasil ujian sisipan kemarin menunjukkan ketimpangan yang sangat mengkhawatirkan. Ada yang melampaui target, tetapi ada pula yang berjalan di tempat, seolah-olah sekolah ini adalah tempat peristirahatan siang.”

 

Tatapan Pak Bambang sengaja digeser, berhenti selama beberapa detik pada sudut belakang kelas, tepat ke arah bangku tempat Bara Mahardika sedang sibuk membersihkan sisa rautan pensil di atas mejanya dengan ujung jari. Bara sama sekali tidak mendongak, menunjukkan ketidakpedulian yang murni seolah pidato di depan kelas itu ditunjukan untuk makhluk di planet lain.

Hila merasakan firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. Ia tahu benar bagaimana sistem di SMA Brajamukti bekerja jika menyangkut masalah penurunan reputasi akademik. Sekolah ini memuja angka-angka sempurna dan bagi para pengajar, murid dengan nilai pas-pasan adalah noda yang harus segera dibersihkan.

           

“Oleh karenanya, kurikulum memutuskan untuk menerapkan metode tutor sebaya yang bersifat mengikat,” lanjut Pak Bambang tanpa kompromi. “Saya tidak akan membiarkan kalian memilih pasangan sendiri karena hal itu hanya akan berakhir menjadi ajang bergosip. Saya telah menyusun daftar pasangan berdasarkan analisis silang antara nilai tertinggi dan nilai yang berada di batas rawan.”

 

Hila menahan napas. Ia melirik lembar kertas di mejanya sendiri, di mana angka sembilan puluh sembilan masih menyisakan sedikit rasa perih di hatinya. Sebagai pemilik nilai tertinggi di kelas, ia tahu tugas besar sedang menantinya. Ia membayangkan akan dipasangkan dengan seseorang yang setidaknya memiliki ambisi untuk belajar, seseorang yang menghargai waktu dan kerja keras.

Pak Bambang mulai membacakan daftar itu satu per satu. Setiap nama yang dipanggil memicu reaksi yang beragam, mulai dari helaan napas lega hingga keluhan lirih yang tertahan. Hila mencatat beberapa nama dalam benaknya, menghitung kemungkinan siapa yang akan diserahkan kepadanya untuk dibimbing.

Lihat selengkapnya