Bara

Kumbang Kumbara
Chapter #3

BAB 3 - Pertemuan yang Gagal

Jika waktu adalah uang, maka Bara Mahardika baru saja merampok Hila Nirmala secara terang-terangan.

 

Arloji perak di pergelangan tangan kiri Hila menunjukkan pukul 14.00 tepat ketika ia mengempaskan pantatnya di kursi kayu perpustakaan sekolah yang paling pojok. Sengaja memilih tempat terpencil demi menghindari distrasi. Segalanya telah tertata dengan simetris di atas meja. Buku paket Fisika tebal di sebelah kiri, buku catatan bersampul binder kulit di sebelah kanan dan kotak pensil transparan yang memamerkan deretan pulpen gel yang disusun berdasarkan gradasi warna.

Hila siap bertempur. Ini adalah hari pertama Program Bimbingan Akademik Terpadu Mandiri, alias hari pertama misi Hila untuk menguliti topeng di wajah malas Bara. Namun, jarum jam terus berputar tanpa ampun.

 

14.15. Hila mulai mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke meja. Ritme ketukannya setara dengan tempo lagu marching band yang sedang panik.

14.30. Punggung tegak sembilan puluh derajat milik Hila mulai goyah. Matanya menatap tajam ke arah pintu perpustakaan seolah-olah ia bisa meledakkan kayu jati itu hanya dengan kekuatan pikiran.

14.40. Tepat ketika Hila sudah menggenggam pulpennya dengan begitu erat hingga kuku-kuku jarinya memutih, siap untuk menulis surat pengunduran diri dari program terkutuk ini, seketika itu juga pintu perpustakaan akhirnya berdecit pelan.

 

Sesosok remaja laki-laki melangkah masuk dengan santai, nyaris tanpa dosa. Seragamnya sudah dikeluarkan, dasinya entah ke mana dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah kantong plastik transparan berisi bola-bola tepung yang berenang di dalam saus kacang kental.

           

Bara Mahardika datang membawa cilok.

 

Tanpa rasa bersalah, Bara menarik kursi di hadapan Hila, membuat kaki kursi itu berdecit nyaring di atas lantai sunyi perpustakaan dan memicu tatapan tajam dari ibu penjaga perpus di kejauhan. Bara hanya tersenyum tipis, membungkuk meminta maaf pada sang pustakawan dengan gestur sopan yang aneh, lalu beralih menatap Hila.

 

“Sori terlambat,” ucap Bara enteng, meletakkan kantong plastik cilok yang masih mengepulkan uap panas tepat di sebelah binder kulit milik Hila yang higienis. “Antrean Mang Oleh siang ini bener-bener kayak ular naga. Kalau gue lepas barisan demi tepat waktu, bumbu kacangnya kehabisan. Lu mau ga? Mumpung masih anget-anget nyoi ini.”

Lihat selengkapnya