Hila masih berdiri di koridor luar perpustakaan, meratapi noda minyak berbentuk lingkaran sempurna di halaman bindernya yang kini ternoda secara permanen. Kepalanya berdenyut ritmis, seolah-olah rumus Hukum Newton tadi menjelma menjadi kurcaci-kurcaci kecil yang sedang memukuli dinding otaknya.
Tepat ketika Hila berniat melangkah pergi untuk menjauh dengan radius tiga kilometer dari Bara Mahardika, pintu perpustakaan kembali berdecit pelan. Si Pelaku Kriminal Akademik, Bara, berjalan keluar sambil menenteng plastik ciloknya yang sudah kosong melompong. Ia melemparkan plastik itu ke tempat sampah dengan gaya slam dunk yang gagal total, membuat plastiknya jatuh mengenaskan di lantai tegel. Dengan helaan napas malas, Bara membungkuk, memungutnya, lalu memasukkannya kembali dengan benar.
“Bara!”
Sebuah suara nyaring, secerah langit musim kemaru, tiba-tiba memecah keheningan koridor.
Seorang siswi dengan seragam yang pas di badan, sangat kontras dengan seragam Bara yang awut-awutan, berlari kecil mendekat. Rambutnya dikuncir kuda dan bergoyang lincah mengikuti langkah kakinya yang riang. Kedua tangannya membawa dua cup besar es teh manis yang berembun dingin, memamerkan bulir-bulir air yang menyegarkan di bawah hawa siang yang gerah.
Ambar.
Hila mengenali gadis itu. Ambar dari kelas XII IPS 3. Anak teater sekolah yang terkenal dengan kepribadiannya yang sewarna kembang api—meledak-ledak, berisik dan selalu berhasil menjadi pusat perhatian ke mana pun ia pergi. Satu hal yang langsung membuat Hila terpaku di tempatnya adalah atmosfer di antara mereka yang langsung terasa akrab.
Tanpa ada canggung sedikit pun, Ambar melangkah masuk ke dalam ruang pribadi Bara. Gadis itu tanpa permisi menempelkan cup es teh yang dingin itu ke pipi Bara, membuat laki-laki itu terlonjak kaget sambil mengomeli refleksnya sendiri.
“Aduh! Dingin, Mbar,” protes Bara. Namun, Hila menyadari sesuatu yang aneh. Tidak ada nada ketus, malas atau topeng apatis di dalam suara Bara yang sekarang. Terlebih, Hila menemukan bahwa ada nada kehangatan yang kasual di sana.
“Lagian dicariin di kantin nggak ada, taunya malah mendekam di tempat suci ini. Sejak kapan kamu tobat dan suka ke perpus, hah?” Ambar terkekeh geli, menyodorkan salah satu cup es teh ke tangan Bara. “Nih, minum. Biar otakmu nggak konslet dan kepalamu nggak berasap gara-gara kebanyakan liat buku.”
Bara langsung menerima es teh itu, langsung menyedotnya dengan rakus hingga tersisa setengah. “Tadi ada urusan kenegaraan sebentar di dalam.”
“Urusan kenegaraan apa yang melibatkan cilok?” Ambar menggeleng-gelengkan kepala.
Secara natural, tangan Ambar terulur begitu saja untuk membenarkan kerah seragam Bara yang melipat keluar. Gerakannya begitu santai dan terlatih, seolah-olah itu adalah rutinitas yang sudah mereka lakukan selama ribuan kali.
“Kamu tuh ya, udah dibilangin ibu tadi pagi, abis sekolah tuh langsung makan nasi. Jangan ngemil aci terus. Nanti kalau maag kamu kambuh lagi, siapa yang repot? Aku juga yang digedor malam-malam buat nganterin obat,” omel Ambar panjang lebar, menjulurkan lidahnya dengan jahil.