Kamar Hila Nirmala adalah cerminan dari otaknya yang simetris, dingin dan sangat terorganisir. Tidak ada selembar kertas pun yang boleh melenceng dari sudut sembilan puluh derajat di meja belajarnya. Tetapi malam ini, kesempurnaan itu terganggu oleh sebuah misteri bernama Bara Mahardika.
Hila duduk di depan laptopnya, menatap layar monitor yang memancarkan cahaya biru. Di hadapannya terbuka sebuah dokumen Excel yang baru saja selesai ia susun dengan cermat. Sebagai wakil ketua kelas sekaligus sekretaris tidak resmi yang selalu memegang rekapitulasi nilai kelompok belajar sejak kelas sepuluh, Hila mempunyai akses serta memori fotografis yang mampu menghafal angka setiap nilai hasil dari ujian kawan-kawannya.
Awalnya, Hila hanya ingin membuktikan bahwa penurunan rumus kalkulus lanjut di lembar ujian Fisika Bara kemarin adalah sebuah kebetulan impulsif. Sebuah fluke. Keberuntungan anak malas yang pernah membaca buku kalkulus tua di perpustakaan.
Tetapi semakin Hila menggali lebih dalam data nilai Bara dari semester ke semester, bulu kuduknya semakin meremang. Jemarinya yang ramping menari di atas touchpad, menyorot baris demi baris angka milik Bara. Hila menemukan bahwa nilai Bara selalu tepat di batas KKM mulai dari semester awal dia bersekolah.
Hila memajukan tubuhnya, memicingkan mata hingga matanya menyempit. Ia memasukkan rumus deviasi standar ke dalam spreadsheet tersebut. Grafik distribusi nilai Bara muncul di layar dalam bentuk garis lurus yang hampir tanpa deviasi.
Sangat mulus. Bahkan terlalu mulus.
Siswa yang benar-benar malas atau bodoh akan memiliki kurva nilai yang fluktuatif. Kadang mereka mendapat nilai 40 karena lupa belajar, kadang 55 karena beruntung menebak jawaban pilihan ganda atau sesekali 75 jika soalnya terlalu mudah.
Tetapi berbeda dengan Bara. Nilai Bara tidak pernah melonjak naik ke angka 80 dan yang lebih gila lagi, nilainya tidak pernah sekalipun turun ke bawah garis KKM. Ia selalu hinggap tepat di batas aman. Seperti seorang pesulap yang berjalan di atas tali tipis melintasi jurang remedial, tanpa pernah tergelincir walau satu milimeter pun.
“Ini ga masuk akal,” gumam Hila pada kamar yang sunyi.
Hila mengambil pulpen gel hitamnya, meremasnya erat-erat. Pikiran logisnya mulai merekonstruksi bagaimana sebuah ujian bekerja. Untuk mendapatkan nilai sempurna 100, seseorang hanya perlu menguasai seluruh materi. Hila tahu betul rasanya, karena ia melakukannya setiap hari. Tapi untuk mendapatkan nilai tepat 68 pada ujian Fisika Pak Bambang yang terdiri dari 20 soal esai dengan bobot poin yang berbeda-beda dan rumit, seseorang harus tahu persis mana soal yang harus dijawab benar, mana soal yang harus disalahkan setengah dan mana soal yang harus dikosongkan agar poin akhirnya tidak menyentuh angka 69 atau turun ke 67.
Mengincar batas KKM dengan tingkat akurasi seratus persen membutuhkan tingkat kecerdasan yang jauh lebih menakutkan daripada sekadar meraih nilai tertinggi. Itu membutuhkan kalkulasi tingkat dewa, pemahaman tentang bobot nilai guru dan kontrol diri yang mengerikan.