Bara Asmara

Oleh: Subhan Mars

Blurb

Jakarta, 1994. Di sebuah bioskop tua yang nyaris dilupakan zaman, Bara jatuh cinta kepada Mara sejak pertama kali melihat perempuan itu melukis papan reklame dengan rokok di bibir dan tato berduri di lengan kirinya.

Bara baru berusia dua puluh tahun—naif, impulsif, dan yakin cintanya cukup kuat untuk menghadapi apa pun. Baginya, Mara adalah warna paling terang di tengah kehidupannya yang sederhana. Sementara Mara, yang sembilan tahun lebih tua, telah mengenal sisi kehidupan yang belum mampu dibayangkan Bara.

Di tengah riuh Jakarta tahun 1990-an, keduanya mencoba membangun hubungan di antara gulungan film, aroma cat minyak, dan sebuah studio lukis. Namun, semakin jauh Bara melangkah ke dalam kehidupan Mara, sebuah rahasia perlahan mengubah cinta mereka menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Lihat selengkapnya