“What is done out of love always takes place beyond good and evil.” - Nietzsche
Suara klakson mobil dan Metromini saling bersahutan. Asap hitam kendaraan berkeliaran di mana-mana, rutin mengunjungi paru-paru kami para penghuni kota ini. Ya, Jakarta. Kota metropolitan, katanya. Kota yang sering menyemburkan makian dan kotoran dari mulut orang-orangnya. Muda-mudi seliweran dengan celana gombrang dan rambut mengembang kaku oleh hairspray—katanya sih fashion, meski aku sama sekali tidak mengerti apa fungsinya.
Aku masih beradaptasi. Baru sekitar satu tahun lebih aku tinggal di sini, sejak diterima di salah satu kampus negeri di Jakarta pada tahun ’93 lalu. Kini, saat kuliahku memasuki semester tiga, demi bertahan hidup dan tak terus-terusan menyusahkan orang tua, aku harus bekerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bintang Mulia Theater. Bioskop usang itu menjadi tempatku mencari makan tiga bulan terakhir. Entah apa jabatanku di sana, aku melakukan semua yang disuruh. Jongos. Mungkin itu jabatan resmiku. Sial memang, mentang-mentang aku anak kampung dari Jawa Timur.
Meski begitu, aku selalu semangat tiap kali berangkat kerja. Karena di sana, aku akan bertemu dia lagi. Membayangkannya saja sudah sukses membuatku senyum-senyum sendiri.
Sesampainya di Bimul—sebutan kami untuk Bintang Mulia Theater—aku langsung saja melengos ke belakang, mengecek studio lukis papan iklan bioskop ini.
Duh, masih sepi ternyata. Agak kecewa.
"Bara!!"
Suara Pak Tono, pemilik bioskop tua ini, memanggil jongosnya.
"Iya, Pak."
"Sini kamu, bersih-bersih depan dulu sama loket karcis!"
Aku bergegas mengambil peralatan dan mulai membersihkan sesuai perintah. Si gendut itu hanya menatap sambil terus memberikan instruksi layaknya pelatih sepak bola.
Aduh, ni orang kapan perginya sih? Kalau diawasi terus begini, pekerjaanku tak akan ada habisnya.
"Pak, Bapak!"
Akhirnya.
Suara Bu Marni memanggil suaminya ke dalam. Pak Tono seketika bergegas masuk ke ruang kantor, tempat istrinya itu mengatur keuangan bioskop ini.
Aku menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Di hari Minggu aku memang full-time bekerja di sini karena libur kuliah, lagipula bayarannya lumayan. Sedangkan di hari biasa, aku masuk pagi hingga siang, atau sore hingga malam, sangat tergantung pada jadwal kuliahku.
Pemutaran film pertama jam sepuluh pagi, dan aku masih harus membersihkan dua studio. Gila memang.
Aku melirik ke arah loket karcis. Sheila, salah satu penjaga loket, masih sibuk menata karcis. Huh, sepertinya memang harus kukerjakan sendiri. Semua orang sibuk dengan tugas masing-masing. Andai saja si gendut mau membantuku beres-beres, pasti badannya tak akan segendut itu.
Bagian depan dan loket akhirnya rampung. Saatnya beralih ke dua studio di dalam. Sebenarnya sih tidak terlalu berat, karena pasti semalam sudah disapu seadanya oleh Kang Cecep, seniorku di kampus sekaligus Jongos Senior di bioskop ini.
"Sini gua bantu. Lu beresin studio dua aja."
Sebuah suara dari belakang menawarkan bantuan.
Aku segera menengok.
Ternyata Mara sudah datang.
Ia berdiri santai mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang sengaja tak dikancingkan dan celana pendek. Rambut panjangnya masih tergerai agak berantakan, beberapa helai menempel di sisi wajahnya. Ketika ia berjalan mendekat, samar-samar tercium aroma rokok yang bercampur dengan wangi manis dari rambutnya.
Aku yakin sekali di balik kemeja itu, ia pasti mengenakan "baju ketek" ketat seperti biasa. Dalam sepersekian detik, otak pemudaku mulai berpikir jorok lagi.
"Gak usah, Kak. Nanti aku dimarahin Pak Tono!" jawabku meledek.
"'Kak' lagi. Udah gua bilang jangan pake 'Kak'! Mara aja!" jawabnya cepat sambil menoyor kepalaku.
Padahal usia kami terpaut lumayan jauh: aku dua puluh, sedangkan Mara dua puluh sembilan tahun. Tapi tiap aku panggil Kak, Mbak, atau Mpok, dia pasti marah karena tidak mau dianggap tua. Padahal kalau dilihat dari bentuk tubuhnya, jelas-jelas dia sudah sangat "dewasa".
Bara goblok.
Itu melulu yang terlintas di pikiranku. Kata temanku, pikiran seperti ini normal untuk anak muda seusiaku. Tapi tetap saja aku tidak nyaman. Aku merasa jadi orang berotak ngeres.
Sampai umur berapa, ya, aku akan begini terus?
Tapi mau bagaimanapun, Mara memang sangat cantik. Bahkan namanya saja sangat cantik.
Asmara.
Nama yang cantik, cocok dengan penyandangnya.
Dia seniman pelukis reklame bioskop ini, sekaligus "penghuni" tetap studio lukis di ruang belakang bioskop. Wajahnya tirus, hidungnya tidak mancung tetapi tegas, matanya sayu, dan rambut panjangnya hampir selalu dibiarkan agak berantakan. Ia punya kebiasaan menyibakkan rambut menggunakan punggung tangan kalau kedua telapak tangannya sedang belepotan cat. Bibirnya manis meski hampir selalu ketempelan rokok.
Kadang, saat sedang melukis, ia akan menyipitkan mata lama-lama ke arah papan reklame, lalu memiringkan kepala sedikit seolah sedang bertengkar dengan lukisannya sendiri.
Entah kenapa, gerak-gerik sederhana seperti itu pun terlihat memesona di mataku.
Aku masih ingat betul momen pertama kali mataku menangkap sosoknya, saat aku baru menginjakkan kaki di Bimul tiga bulan lalu. Waktu itu aku melamar kerja atas saran seniorku di kampus yang juga bekerja sebagai "jongos" di Bimul. Pak Tono langsung menerimaku karena kebetulan sedang kekurangan staf.
Aku pun diajaknya berkeliling bioskop sambil diperkenalkan dengan pegawai yang lain: Bu Marni, istrinya yang mengatur keuangan, lalu Sheila, si penjaga loket tiket. Lalu aku diajak masuk ke area belakang.
Begitu Pak Tono membuka pintu studio lukis, langkahku langsung tertahan.
Di sana, seorang perempuan cantik bersimbah keringat tengah melukis papan reklame dengan sebatang rokok menyala di sudut bibirnya. Lengan kirinya dipenuhi tato, sementara kedua tangannya kotor oleh berbagai warna cat.
Sesekali ia mundur beberapa langkah dari papan, memicingkan mata menilai lukisannya, lalu maju lagi dan menyapukan kuas tanpa ragu. Hari itu dia mengenakan "baju ketek" berwarna merah jambu dan celana jeans biru muda yang sangat pendek, sehingga seluruh pahanya terpampang jelas di mataku.
Kupikir pemandangan seperti ini hanya akan aku lihat di film bule seumur hidupku. Ternyata aku menyaksikannya langsung di Jakarta.
Memang bukan main bebasnya kota ini.