Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #2

The End of The World

"Ayo, Bara. Ikuti saya."

“Saya terima nikah dan kawinnya, Sri Asmara Wulandari binti...”

Tabuhan gamelan mendadak membahana, menenggelamkan sebagian ucapanku.

Siapa suruh mulai main, sih? Ijab kabulnya saja belum selesai.

Aku tetap melanjutkannya dengan lantang.

“...dengan maskawin cincin emas sepuluh gram, dibayar tunai!”

“Sah?”

“Saaah!”

Riuh sekali.

Entah berapa banyak tamu yang hadir di pernikahan kami. Aku menoleh ke samping. Mara cantik sekali mengenakan pakaian pengantin tradisional Jawa lengkap dengan riasannya. Tidak masuk akal ada perempuan secantik ini.

"Sekarang kalian sudah sah. Leher putih, tubuh dewasa, dan bibir manis itu sudah jadi milikmu."

Aku melirik heran ke arah Pak Penghulu. Kurang ajar sekali. Tapi bodo amat! Aku mau memeluk Mara di sampingku sekuat-kuatnya sampai puas.

Namun, saat aku hendak mendekat, raut wajah Mara memudar, berganti menjadi gurat kekhawatiran. Semuanya terasa ganjil. Posisinya menyamping seolah melayang di udara, sementara suara gamelan perlahan tenggelam oleh dengung panjang di telingaku.

Denyut nyeri seketika meledak dari rahang hingga ke ubun-ubun. Hidungku tak lagi menghirup wangi melati dari sanggul pengantin, melainkan aroma tajam karbol dan alkohol medis yang menyengat. Silau cahaya putih dari lampu neon yang berkedip-kedip memaksa kelopak mataku terbuka.

"Udah sadar lu, Bar?"

Suara Mara menyeretku kembali ke dunia nyata, membuyarkan sisa-sisa mimpiku siang itu.

Ternyata aku sedang terbaring di atas brankar berseprai putih di sebuah klinik kecil tak jauh dari Bimul. Mara duduk di kursi plastik tepat di samping ranjang, menatapku dengan wajah cemas sambil menggenggam kain kasa bernoda darah.

Baru saat itulah aku sadar, dia masih mengenakan "baju ketek" hitam yang dipakainya saat bekerja tadi. Biasanya, setiap keluar dari studio, Mara selalu memakai kembali kemeja flanelnya. Sepertinya Mara panik bukan main sampai buru-buru keluar dari studio dan tanpa sadar meninggalkan kemeja flanelnya yang masih tergantung di sana. Baju hitam itu tampak lembap oleh keringat, terutama di bagian dada dan sisi tubuhnya. Sepertinya dia memang ikut berlari saat membawaku kemari.

Mata kami berserobok.

Biasanya aku sering lupa mimpi setelah bangun tidur. Tapi mimpi tadi—mimpi aku menikahi Mara—mana mungkin bisa kulupa? Melihat wajahnya sedekat ini, ditambah bayangan mimpi luar biasa barusan, membuat wajahku panas bukan main. Sepertinya sudah pasti memerah juga.

"Wah, gara-gara luka jadi demam," kata Mara sok tahu saat melihat wajahku memerah.

Dia meletakkan tangan kirinya di dahiku.

"Panas."

Telapak tangannya terasa sejuk di kulitku.

Tega sekali Tuhan memberikanku cobaan tanpa henti. Setelah menahan sakitnya bogem mentah si Codet, sekarang aku harus menahan buasnya perasaanku sendiri. Tapi memang lembut sekali tangan Mara.

Aku menaikkan bola mataku, berusaha melihat tangan kirinya yang menempel di dahiku. Saat Mara menarik tangannya, aku melihat bercak merah hampir memenuhi seluruh telapak tangannya. Apa itu darahku?

"Mara, tangan kamu... kotor kena darahku?"

Mara langsung menatap telapak tangannya sendiri.

"Iya, tapi emang dari tadi udah kotor kena cat merah, sih," jawabnya santai.

"Bersihin dulu aja. Aku udah gak apa-apa, kok."

Aku memaksakan diri beranjak, mendudukkan tubuh di brankar. Mara malah tersenyum menatap telapak tangan kirinya yang nyaris merah sempurna. Dia memekarkan kelima jarinya, lalu menghadapkan telapak tangan itu ke wajahku.

"Biarin aja. Jadi bunga mawar," ucapnya sambil tertawa kecil.

Aku terpaku.

Entah ke mana perginya rasa sakit bekas pukulan dan tendangan tadi. Melihat Mara tersenyum dengan telapak tangan merah terbuka di depanku, rasanya otakku mendadak lupa kalau tubuhku baru saja dihajar manusia.

Kini aku mengerti arti tatonya. Lengannya adalah tangkai berduri, dan telapak tangannya adalah kelopak bunganya. Aku hanya bisa diam menikmati adegan barusan yang terus berputar-putar di kepalaku. Tak lama kemudian, dokter klinik mendatangi kami. Setelah memeriksaku sekali lagi, ia menjelaskan bahwa untungnya aku tidak mengalami luka serius.

"Tidak ada tulang yang retak. Bibirmu pecah dan ada beberapa memar. Untuk sementara istirahat dulu. Kalau pusing atau mualnya semakin berat, kembali ke sini," ujar sang dokter.

Setelah mendengar penjelasan dokter, Mara pamit kembali ke Bimul, sekalian memberi tahu Pak Tono kalau aku sudah sadar.

"Lain kali jangan nekat gitu lagi," ujar Mara sambil mengerutkan alis.

Dia beranjak dari kursinya. Aku masih tidak bisa fokus. Pesona perempuan ini rupanya jauh lebih ampuh daripada obat pereda nyeri.

"Tapi..."

Mara berhenti di dekat pintu. Mataku otomatis mengikuti gerak-geriknya.

"Makasih, ya, udah jagain aku, Bang Bara Ganteng."

Dia tersenyum semringah lalu berlalu keluar. Aku terpaku.

Dia membalas godaanku saat di studio satu tadi! Sakit di wajah dan badanku mendadak terasa sepele saat kewarasan perlahan menguap dari kepalaku. Aku memutar otak, mencari-cari alasan logis agar suatu hari bisa mencium si cantik menawan itu.

Di negara mana, sih, mencium pipi teman perempuan dianggap biasa? Eropa? Eropa mana? Italia? Spanyol? Atau Prancis? Aah, sial. Harusnya aku lebih banyak baca buku.

Gawat. Sepertinya aku memang sudah tergila-gila pada Mara.


Beberapa waktu berselang setelah Mara keluar, Pak Tono dan Bu Marni masuk melihat kondisiku sehabis disikat Bang Codet. Pak Tono memarahi sikapku yang nekat dan sembrono, sementara Bu Marni malah memuji keberanianku menjaga Mara.

Tentu saja. Tanpa disuruh pun, pasti akan kujaga Mara mati-matian.

Pak Tono kemudian menceritakan bahwa Bang Codet sempat ditahan oleh beberapa pengunjung laki-laki dan nyaris digebuki massa. Untungnya, Pak Tono sigap memanggil polisi dari pos terdekat. Bosku itu menjelaskan bahwa si preman tengik sekarang sudah diamankan di kantor polisi dan ia berjanji akan mengurus semuanya.

Mereka juga memberiku libur tiga hari untuk memulihkan diri. Aku bahkan ditawari tumpangan untuk diantar pulang ke kosan, tapi lekas kutolak. Aku beralasan ada barangku yang tertinggal di Bimul.

Tentu saja, itu cuma siasat. Aku tidak mau kehilangan momentum setelah melakukan aksi heroik. Aku mau melihat Mara lagi.

Padahal baru berpisah beberapa menit, tapi kerinduanku kepadanya sudah memuncak tak tertahankan, seolah kami tidak bertemu selama puluhan tahun.

Lihat selengkapnya