Dalam kondisi hancur lebur seperti ini, hanya rasa lapar dan haus yang dapat membuatku bergerak dari kasur. Mi instan yang hanya kuremukkan mentah-mentah tanpa dimasak menjadi asupanku yang paling bergizi—cukup untuk memberiku tenaga melanjutkan tangis.
Di hari kedua liburku, beberapa teman kampus bersama Kang Cecep—seniorku yang tak lain adalah si Jongos Senior Bimul—datang menjengukku di kosan.
“Walah, matamu bengkak gitu, Bara,” ujar Kang Cecep ketika pertama melihatku saat kubukakan pintu.
Kang Cecep dan beberapa teman sekelasku datang setelah ia mendapat kabar dari Pak Tono bahwa aku dihajar Bang Codet. Setelah semuanya duduk merapat di dalam kos, Kang Cecep kembali mengamati wajahku.
“Kata Pak Tono muka kamu bengkak, tapi kok mata kamu malah kelihatan lebih parah, ya?”
Aku hanya bisa diam, kebingungan setengah mati mencari alasan. Bagaimana caranya aku menjelaskan bahwa mata bengkak ini sama sekali bukan ulah si preman, melainkan akibat menangisi Asmara?
“Udah dijenguk Asmara belum?” tanya Adrian, anak setan tempatku biasa bercerita soal Asmara.
“Loh, kok kamu tahu soal Asmara, Dri?” tanya Kang Cecep bingung, alisnya berkerut.
“Dia kan curhat terus ke aku, Kang,” jawab Adrian tanpa rasa bersalah.
Ember memang Adrian si anak setan! Aku benar-benar cerita ke orang yang salah.
“Cie... cieee...”
Seisi kamarku langsung bersorak, menggoda habis-habisan. Kecuali Adrian yang tertawa paling puas di sudut kamar, dan Kang Cecep yang masih memasang muka melongo.
“Ini teh beneran, Bara?” tanya Kang Cecep. Tampaknya ia masih kesulitan mencerna kenyataan.
Ya, wajar saja dia heran. Mengingat usia kami terpaut sembilan tahun, cerita ini pasti terdengar seperti lelucon paling absurd di telinganya. Atau justru mengkhawatirkan.
Akhirnya teman-teman sekelasku pamit pulang. Meskipun dari tadi kerjanya cuma meledekku, setidaknya mereka meninggalkan makanan. Jadi malam ini aku tidak perlu lagi makan mi instan mentah.
“Istirahat, jangan maksain masuk kelas ya, Bar. Tenang aja, dosen udah gua kabarin,” ujar Adrian sebelum berlalu.
Satu per satu mereka keluar dari kamar kosku. Namun, Kang Cecep tidak ikut berdiri. Dia masih duduk di kursinya sambil memutar-mutar gelas di tangan. Dari wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang sejak tadi ingin dia katakan.
“Bara.”
“Hm?”
“Kata si Adrian tadi... beneran?”
Aku tahu persis apa yang dia maksud. Tapi aku hanya diam. Mau jawab apa? Iya, aku suka Mara? Atau sekalian saja, Enggak, Kang. Aku baru ditolak dan nangis sampai mata bengkak begini?
Kang Cecep menghela napas pendek. “Saya ngerti ini bukan urusan saya,” katanya, kali ini dengan nada jauh lebih pelan. “Tapi kita sama-sama anak rantau. Jadi ya... saya cuma mau bilang, jangan terlalu jauh dulu masuk ke hidup Mara.”
Aku langsung mengerutkan dahi. “Kenapa?”
“Ya... umurnya juga jauh sama kamu. Kalau cuma soal cantik mah, di kampus juga banyak yang cantik.”
Aku mulai jengkel. “Tapi Akang juga pacaran sama Sheila.”
Kang Cecep langsung menggeleng. “Yee, bukan itu maksud saya. Bukan soal pacaran sama teman kerja.”
“Terus apa, Kang?”
Dia terdiam cukup lama sampai aku semakin tidak sabar. “Aduh, gimana ya ngomongnya...”
“Ya ngomong aja.”
Kang Cecep mengusap tengkuknya. “Saya tahu sedikit soal Mara. Sedikit banget. Itu juga bukan dari dia langsung.”
Aku yang tadinya bersandar langsung menegakkan badan. “Tahu apa?”
“Kampung saya sama kampungnya masih satu kecamatan. Jadi dulu saya pernah dengar cerita soal keluarganya.”
“Cerita apa?”
“Katanya Mara dulu pulang dari Jakarta buat ngurus bapaknya yang sakit. Lama. Bertahun-tahun kalau nggak salah.”
Aku tidak menyela.
“Setelah bapaknya meninggal, Mara tiba-tiba pergi dari kampung. Nggak ada yang tahu dia ke mana.”
“Ya berarti prihatin dong, Kang. Kasihan Mara,” potongku. “Bapaknya sakit sampai tahunan.”
“Yee, belum selesai atuh, Bara.”
Aku mendecakkan lidah. Kang Cecep terlihat ragu lagi sebelum melanjutkan.
“Soalnya kematian bapaknya itu... kata orang-orang agak janggal.”
Aku menatapnya. “Janggal gimana?”
“Nah, itu dia. Saya juga nggak tahu.”
“Lah?”
“Saya kan dari kampung sebelah. Tahunya cuma dari omongan orang. Ada yang bilang bapaknya memang sakit, ada yang bilang...” Kang Cecep berhenti.
“Ada yang bilang apa?”
Dia menatapku sebentar, lalu mengalihkan pandangan. “Ah, sudahlah.”
“Kang.”
“Bara, saya nggak mau ikut nyebarin sesuatu yang saya sendiri nggak tahu benar apa enggak.”
Semakin dia menahan cerita, semakin tidak enak perasaanku. “Akang tadi mau bilang apa soal Mara?”
Kang Cecep menghela napas. “Pokoknya setelah bapaknya meninggal, banyak omongan nggak enak. Ada juga yang sampai bawa-bawa Mara.”
Aku tersentak.
Pasti bohong. Mengada-ada juga ada batasnya. Orang-orang kampung itu sudah gila kali.
“Akang jangan nuduh sembarangan kalau nggak ada bukti!” sergahku.