Setelah rapat bubar dan bioskop mulai beroperasi, pemutaran film pertama pun dimulai pukul sebelas siang. Karena ini hari kerja, pengunjung yang datang tidak begitu ramai. Bahkan jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.
Mataku mengabsen keadaan sekitar. Kulihat Sheila sedang santai membaca buku sambil menjaga loket karcis yang sepi. Bu Marni rupanya sudah pulang setelah rapat tadi—mungkin urusan keuangan dan pembukuannya hari ini sudah selesai. Sementara suaminya, Pak Tono, sudah pasti sedang mengurung diri mengawasi penayangan film di ruang proyektor.
Ini saatnya.
Jantungku berdetak liar, persis seperti satu set drum yang sedang ditabuh gila-gilaan memainkan African Symphony karya Van McCoy. Aku melangkah hati-hati menuju studio lukis, mengendap-endap seperti intel yang sedang mengintai kegiatan mahasiswa anti-rezim.
Tiba di depan pintu kayu reyot studio, langkahku terhenti. Aku hanya bisa berdiri terpaku di sana, mati-matian berusaha membuka indra keenam untuk meramal apa yang akan terjadi di dalam. Ratusan kemungkinan buruk berkelebat di kepalaku. Satu per satu kucoret, tetapi semuanya tetap berakhir dengan penolakan.
“Bara? Kenapa nggak masuk?”
Suara Mara mendadak memecah lamunanku.
Sial.
Pasti bayangan kakiku terlihat dari celah bawah pintu reyot ini.
Aku menelan ludah, lalu perlahan menekan kenop dan membuka pintu. Mara sedang berdiri agak jauh dari pintu sambil menghadap ke arahku. Kedua tangannya ia sembunyikan di belakang punggung—persis seperti tentara yang sedang istirahat di tempat.
Aku yakin dia belum mulai bekerja karena kemeja flanelnya masih terpasang rapi.
Apa dia menungguku?
Aku melangkah masuk perlahan. Benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya bisa menelan segala ketidakpastian itu dengan sisa-sisa kepasrahan.
“Bar, aku minta maaf soal waktu sore itu,” ujar Mara membuka pembicaraan.
Kata-katanya langsung membuat hatiku ngilu.
Lagi-lagi dia menggunakan kata aku.
Aku hanya terdiam sambil menundukkan kepala, memandangi ujung sepatuku.
“Aku kaget banget...” Mara menghentikan kalimatnya. Ia tampak ragu untuk melanjutkan. Setelah beberapa saat, suaranya terdengar lebih pelan saat kembali bertanya, “Kamu serius, Bar? Suka sama aku?”
Aku tidak langsung menjawab. Tiba-tiba saja cerita Kang Cecep tentang masa lalu Mara berkelebat silih berganti di kepalaku.
Apakah aku akan tetap mencintai Mara kalau rumor gelap itu benar?
Perlahan aku mengangkat kepala, memberanikan diri menatapnya langsung. Raut wajah Mara saat ini... cemas? Sedih? Khawatir? Entahlah, aku sendiri tidak tahu pasti. Tapi tatapannya terasa begitu lembut dan hangat.
Tidak.
Tidak mungkin Mara melakukan hal-hal mengerikan seperti yang dirumorkan orang-orang kampungnya.
“Iya. Aku suka kamu, Mara. Sudah dari pertama kali kita ketemu.”
Mara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapku lama. Kedua tangannya yang tadi bersembunyi di belakang punggung perlahan jatuh ke sisi tubuh. Entah kenapa, semakin lama tatapannya justru semakin gelisah.
“Kenapa, Bara?”
Aku mengerutkan dahi.
“Kenapa harus aku?” Suaranya mulai meninggi. “Kamu mau apa kalau kita pacaran? Seks? Apa yang kamu mau dariku, Bara?”
Pertanyaannya datang bertubi-tubi. Nada suara Mara semakin meninggi hingga nyaris terdengar seperti bentakan.
Aku tersentak.
Ini pertama kalinya aku melihat Mara seserius dan semarah ini. Biasanya dia selalu santai, cuek, dan masa bodoh pada dunia. Jangankan urusan cinta, kalau besok Perang Dunia Ketiga meletus pun, aku yakin dia hanya akan rebahan sambil merokok.
Sebenarnya, aku punya jawaban untuk rentetan pertanyaannya barusan. Tapi... apa pantas kuutarakan saat ini juga? Apakah melontarkan hal sebesar itu justru akan membuatku terdengar kekanak-kanakan? Menegaskan dengan sangat jelas bahwa aku hanyalah pemuda naif yang belum dewasa?
Tapi sungguh, aku tidak punya jawaban lain. Hanya ada satu jawaban tulus yang mengendap di kepalaku saat ini.
“Aku mau menikah denganmu, Mara! Aku mau kamu jadi istriku! Aku mau hidup bersamamu sampai mati!”
Kalimat itu meledak begitu saja dari mulutku.
Maaf kalau terdengar luar biasa norak.
Tapi memang hanya itu jawaban paling jujur yang aku punya. Hanya itu satu-satunya hal yang aku inginkan dari Mara.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Mudah-mudahan dia bisa mengerti ketulusanku.
“Gila kamu, Bar! Usia kita beda jauh, tahu?!”
“Aku tahu...”
Mara menggeleng pelan. “Nggak. Kamu nggak tahu.”
Aku terdiam.
“Kamu baru kenal aku berapa lama, sih? Tiga bulan?” Pandangannya beralih dariku. “Terus sekarang tiba-tiba ngomong nikah.”
Aku hanya bisa menunduk.
“Aku cuma...” Mara menarik napas pendek. “Takut nanti kamu nyesel.”
Perlahan aku mengangkat wajah. “Aku nggak akan—”
“Pokoknya nggak segampang yang kamu pikir,” potongnya cepat.
Entah kenapa, jawaban itu terasa seperti alasan yang sengaja ia lempar untuk menutupi sesuatu. Seolah ada hal lain yang sebenarnya ingin ia katakan, tetapi terus ditahannya. Dan semakin Mara menghindar, semakin jengkel aku dibuatnya.
“Aku nggak pernah bilang bakal gampang. Tapi aku juga capek pura-pura nggak punya perasaan apa-apa sama kamu. Kalau kamu memang nggak mau, ya bilang aja. Tolak aja aku seka—”
Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku.
Mara tiba-tiba maju dan memelukku erat.
“Aku juga suka kamu, Bar,” ucapnya, suaranya bergetar. “Itu justru yang bikin aku takut.”
Dia membenamkan wajah di bahu kiriku.
Apa, ya?
Aku sungguh tidak tahu ini perasaan apa. Segalanya mendadak terasa tenang. Dunia di sekelilingku seperti kehilangan suara. Apakah Mara benar-benar sedang memelukku? Apakah beberapa detik lalu dia baru saja bilang suka kepadaku?
Aku bahkan tidak sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi.
Satu-satunya hal yang menyeretku kembali ke dunia nyata adalah rasa hangat yang mulai merembes ke kaus di bahu kiriku.
Mara menangis.
Sadar akan hal itu, aku langsung membalas pelukannya tak kalah erat. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada alam semesta hari ini, tetapi pikiranku mendadak luar biasa tenang. Wangi manis sampo anggur dari rambut Mara menguar samar di dekat hidungku, bercampur dengan aroma cat yang sudah begitu akrab di studio ini.
Entah kenapa, studio lukis yang reyot dan pengap itu mendadak terasa jauh lebih terang. Seolah pengakuan Mara barusan menambahkan warna baru pada dunia yang selama ini kulihat.
“Kita coba pelan-pelan, ya,” bisiknya. “Jangan bicara nikah dulu.”
“Hmm...”
Sementara aku? Lagi-lagi cuma bisa merespons momen emosional seperti ini dengan suara lenguhan persis seperti sapi.
Mara tertawa kecil di pelukanku. Aku bisa merasakan getaran halus tubuhnya saat tertawa. Perlahan ia mengurai pelukan, dan aku pun ikut melepaskan rengkuhanku.
Kini kami berdiri berhadapan. Mata kami kembali bertemu, lalu entah siapa yang memulai, kami sama-sama tertawa kecil. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kami tertawakan. Mungkin kebodohanku. Mungkin kegugupan Mara. Mungkin semua yang baru saja terjadi.
Yang jelas, rasanya melegakan sekali.
“Kamu...” Aku masih belum bisa menghilangkan senyum dari bibir. “Mulai suka sama aku tuh dari kapan? Kok bisa?”
Mara tertawa kecil. “Sebenernya pas pertama ketemu, aku malah takut sama kamu.”