Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #5

Benteng Bintang Mulia

Keesokan harinya, hari-hari kami sebagai sepasang kekasih pun dimulai. Sialnya, kami hanya bisa menghabiskan waktu bersama di area Bimul. Mara sepertinya masih enggan menceritakan alasan sebenarnya mengapa ia dilarang pulang dan harus menginap di bioskop ini.

Aku sendiri memilih untuk tidak mendesaknya. Toh, kemarin aku sudah bilang akan menunggu sampai dia siap bercerita. Jangan sampai niatku menemani malah berubah jadi interogasi.

Pagi tadi, aku melihat Sheila menyerahkan sebuah kantong kain berisi pakaian ganti kepada Mara. Rupanya semalam Mara menitipkan kunci kosnya dan meminta Sheila mampir mengambil beberapa baju.

Tentu saja aku tahu isi kantong itu murni pakaian Mara, bukan baju Sheila yang dipinjamkan. Dari gaya pakaiannya saja sudah beda, belum lagi... ehem, “ukuran” mereka berdua yang terpaut lumayan jauh.

Padahal arah kos Sheila dan Mara berlawanan. Aku jadi sedikit tidak enak hati karena Sheila harus memutar jalan cukup jauh demi pacarku. Merasa harus bertindak layaknya kekasih yang siap siaga, aku pun menawarkan diri. Kukatakan kepada Mara bahwa untuk ke depannya, biar aku saja yang mengambilkan baju gantinya.

“Dih, ngeres ya kamu?” Mara langsung menatapku dengan mata menyipit. “Kamu mau gratak isi lemari aku, kan? Nggak boleh!”

Aku terkesiap lalu tertawa canggung.

Benar juga.

Laki-laki sepertiku diberi kebebasan mengacak-acak lemari pakaian Mara?

Kedengarannya memang cukup... mengkhawatirkan.


Selepas kuliah, aku bergegas kembali ke Bimul. Kudapati Mara sedang melukis di dalam studio seperti biasa, ditemani kepulan asap dari batang rokok yang menempel di bibirnya. Aku mencoba mengajaknya mencari makan di luar, sekalian mencari suasana baru untuk kencan sore kami.

Namun, Mara terus menolak dengan berbagai alasan.

Setelah penolakan yang kesekian kali, aku mulai merasa ada yang aneh. Mara bukan sekadar malas keluar. Setiap kali kuajak makan di luar, selalu saja ada alasan baru. Seolah-olah ia memang tidak ingin menginjakkan kaki keluar dari Bimul.

Malam itu Mara kembali bermalam di bioskop, sementara aku pulang membawa sisa rasa penasaran yang sama.


Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Seharusnya ini hari liburku, baik dari kuliah maupun kerja. Berdasarkan jadwal rutin, hari Sabtu adalah giliran Kang Cecep bekerja seharian, sementara hari Minggu giliranku.

Tapi karena ingin menemui Mara yang masih tertahan di Bimul, aku memutuskan tetap datang saat hari menjelang siang.

Setelah melewati tikungan terakhir, aku bisa melihat Kang Cecep sedang sibuk di lobi, mengatur antrean penonton yang membludak sambil sesekali menjawab pertanyaan pengunjung.

Aku berniat mengendap-endap agar tidak tepergok olehnya. Tujuanku adalah pintu belakang, yang berarti aku harus masuk melalui gang di samping gedung Bimul.

Namun, ketika langkahku sudah cukup dekat dengan mulut gang, mataku menangkap pemandangan yang membuat bulu kuduk meremang.

Dua orang pria berbadan tegap dan besar sedang mendekati Kang Cecep.

Seketika aku menghentikan langkah. Aku merapat ke dinding samping bioskop, lalu diam-diam mengintip sambil memasang telinga lebar-lebar.

“Mana Asmara?! Saya tahu dia kerja di sini!” bentak salah seorang dari mereka.

Pria itu bertubuh besar dengan rambut lebat yang entah kenapa mengingatkanku pada pohon beringin.

“Asmara siapa? Nggak ada di sini yang namanya Asmara,” jawab Kang Cecep.

Suaranya berusaha terdengar tegas, tetapi dari tempatku mengintip, gelagat tubuhnya sudah cukup menunjukkan kalau sebenarnya dia ketakutan setengah mati.

“Jangan bohong kamu! Ini urusan serius, jangan main-main!” sahut pria satunya lagi. Kulitnya lebih gelap, dengan rambut mengembang mirip singa.

“Saya nggak bohong. Kalau memang nggak ada, mau bagaimana lagi?” Kang Cecep memaksakan diri tetap berdiri tegak di hadapan keduanya.

“Halah! Panggil bos kamu! Saya mau ngomong sama dia!” bentak si pohon beringin.

Kang Cecep melirik sekilas ke samping, kemungkinan besar ke arah loket karcis, memberi isyarat kepada Sheila untuk memanggil Pak Tono.

Orang-orang yang mengantre mulai menjauh. Beberapa masuk lebih cepat ke dalam, sementara yang lain memilih berdiri jauh-jauh. Semua orang rupanya cukup pintar untuk tahu kapan sebaiknya tidak ikut campur.

Tak lama kemudian, Pak Tono muncul di lobi.

“Ada apa lagi ini, Abang-abang?” tanyanya dengan nada santai tanpa beban.

“Anda bohong, kan, Pak?” Si rambut beringin langsung menyerang. “Kemarin kami tanya baik-baik, Bapak bilang nggak ada perempuan bernama Asmara yang kerja di sini.”

“Ya memang tidak ada,” jawab Pak Tono tenang.

Hebat juga si bos tua ini.

Selama ini aku mengira Pak Tono adalah pria penakut karena selalu menyerahkan jatah preman kepada Bang Codet dan anak buahnya. Ternyata bukan cuma badannya saja yang besar, nyalinya juga lumayan besar.

“Jangan bohong, Pak! Kata abang-abang yang di sana, ada pegawai sini yang namanya Asmara,” ujar si rambut singa sambil menunjuk ke arah gang pasar tak jauh dari gedung Bimul.

Ah.

Itu tempat biasa Bang Codet dan anak buahnya nongkrong. Karena Bang Codet sendiri masih mendekam di kantor polisi gara-gara menghajarku tempo hari, tampaknya anak buahnyalah yang membocorkan informasi kepada dua orang asing ini.

“Yah, itu salah kalian sendiri,” balas Pak Tono. “Kok malah percaya sama preman pasar? Kalian lebih percaya saya—pemilik sah bioskop ini—atau preman jalanan?”

Kedua lelaki itu tampak kehabisan kata-kata, meskipun raut wajah mereka masih menyiratkan amarah.

“Awas kalau sampai kami tahu Bapak bohong,” ancam si rambut beringin. “Urusannya bakal panjang!”

Setelah melontarkan ancaman terakhir, keduanya berbalik dan meninggalkan lobi.

Aku baru berani menarik napas lega setelah punggung mereka benar-benar menjauh. Memanfaatkan keadaan yang mulai mereda, aku segera melanjutkan langkah menuju pintu belakang Bimul.


Aku langsung menuju studio lukis untuk menemui Mara.

Begitu kubuka pintunya, Mara tersentak dari sofa butut. Rokok yang terselip di antara jemarinya bahkan nyaris terlepas.

“Eh, maaf! Maaf,” ujarku buru-buru.

Aku segera masuk dan menutup pintu kembali.

Mara tidak berkata apa-apa. Ia hanya menepuk ruang kosong di sebelah kanannya, memintaku duduk mendekat.

Baru saja tubuhku mendarat di sofa, Mara langsung menerjang dan memelukku erat.

Namun kali ini, debar jantungku sama sekali bukan karena salah tingkah atau rasa bahagia.

Tubuh Mara gemetar di dalam pelukanku. Jari-jarinya mencengkeram kain di punggung bajuku begitu kuat sampai bisa kurasakan tarikannya.

Mara benar-benar ketakutan.

Tanpa banyak kata, aku membalas pelukan itu dan mendekapnya erat. Tanganku perlahan mengusap bagian belakang kepalanya, mencoba menenangkan meskipun aku sendiri tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Setelah beberapa menit, Mara akhirnya melepaskan pelukan. Ia hanya duduk menunduk, sementara ujung kakinya mengetuk-ngetuk lantai tanpa henti.

Aku memandanginya dalam diam.

Ini pertama kalinya seumur hidupku melihat perempuan yang biasanya paling tak kenal gentar itu ketakutan separah ini.

Tiba-tiba pintu studio terbuka.

Lihat selengkapnya