Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #6

Kencan Vespa

Aku bangun pagi dengan rasa tidak sabar untuk bekerja. Memang terdengar aneh. Siapa pula orang waras yang bangun pada hari Minggu dengan semangat hanya karena ingin cepat-cepat masuk kerja?

Tapi tujuanku jelas hanya satu: Mara.

Semalaman aku tidak bisa berhenti memikirkannya yang sendirian di Bimul. Apalagi setelah tahu ada dua pria bertubuh besar yang sedang mencarinya. Rasanya aku ingin segera memastikan sendiri bahwa Mara baik-baik saja.

Pukul tujuh pagi aku sudah berangkat. Tak apa datang terlalu awal; toh, Pak Tono rupanya juga sudah berada di sana. Aku hanya sempat melempar salam sekilas sebelum langsung berlalu menuju bagian belakang.

Sepertinya aku memang mulai tertular penyakit tidak punya tata krama dari para penghuni Bimul. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, aku langsung membuka pintu studio lukis dan melangkah masuk.

“Eh! Bara!”

Aku membeku.

Mara berdiri di sana dengan tubuh hanya terbalut sehelai handuk. Rambutnya masih basah kuyup, dengan beberapa tetes air mengalir turun dari ujungnya. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Yang lebih ajaib, sebatang rokok menyala masih terselip di antara bibirnya yang basah.

Apa Mara mandi sambil merokok?

Tentu saja bukan itu yang kupikirkan saat melihat pemandangan tersebut.

Alih-alih buru-buru keluar demi menjaga kesopanan, aku malah terpaku di tempat. Jantungku langsung berdetak bukan main. Sampai akhirnya—

Plak!

Sebungkus rokok melayang dan mendarat tepat di wajahku.

“Eh! Maaf, maaf!”

Aku buru-buru berbalik dan kabur keluar.

Aduh... Malunya minta ampun.

Di titik inilah aku baru sadar betapa pentingnya pelajaran tata krama warisan nenek moyang kita.


Karena tidak tahu harus berbuat apa setelah kejadian memalukan itu, aku langsung mengambil peralatan kebersihan dan mulai menyapu serta mengepel area lobi.

Pak Tono sama sekali tidak berkomentar melihatku sudah mulai bekerja sebelum jam kerjaku dimulai. Entah karena memang tidak peduli atau sebenarnya sudah bisa menebak apa niatku datang sepagi ini. Lebih baik tidak usah kutanyakan.

Saat aku hendak membersihkan Studio 1, Mara sudah berdiri tegak di depan pintu. Kali ini dia sudah berpakaian lengkap—sayang sekali—dengan kaus merah gelap dan celana pendek hitam. Raut wajahnya jelas masih kesal.

Aku tahu betul siapa sasaran kekesalan itu. Ya, tentu saja aku.

Masih didera rasa malu luar biasa, aku hanya memberinya senyum basa-basi lalu mencoba melewati Mara seolah tidak terjadi apa-apa. Sayangnya, baru saja aku hendak lewat, telingaku keburu dijewer.

“Aduh!”

“Mau ke mana kamu, buru-buru banget?” tanyanya sambil terus menarik telingaku.

“Aduh... iya, maaf. Aku kan nggak tahu.”

“Makanya ketuk pintu dulu!”

“Iya, iya...”

Mara terus mengomeliku habis-habisan. Dan ya, kali ini aku memang tidak punya pembelaan apa pun. Murni salahku sendiri.

Sialnya, suasana hati Mara langsung berubah buruk. Pagi yang tadinya kubayangkan akan dipenuhi canda dan kemesraan setelah hari manis kemarin malah berubah menjadi hari ketika pacarku terus memasang wajah ketus setiap kali melihatku.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan kembali bekerja.


Hari Minggu memang sangat ramai. Aku bahkan tidak punya kesempatan mencuri waktu untuk membujuk Mara yang masih dongkol. Pengunjung terus berdatangan sampai tanpa terasa matahari sudah tinggi. Ketika kulirik jam dinding, waktu hampir menunjukkan pukul dua siang.

“Aduh! Bara, ikut Ibu sebentar!”

Suara Bu Marni terdengar dari arah kantor.

Aku segera menghampirinya. Begitu masuk ke ruang Pak Tono, kudapati wajah Bu Marni sudah panik bukan main.

“Aduh, bagaimana ini, Bara?”

“Ada apa, Bu?”

“Rol filmnya belum diantar!”

Aku mengernyit. “Gimana maksudnya, Bu?”

“Rol film buat tayangan berikutnya masih di Bioskop Agung Raya. Kurir mereka belum balik dari nganter film ke bioskop lain, katanya kena macet. Kita sendiri nggak punya orang buat ngambil. Padahal tiketnya sudah habis!”

“Hah?”

Aku ikut panik.

Memang sudah bukan rahasia lagi kalau Bimul kekurangan pegawai. Jangankan punya kurir khusus, kalau ada satu orang izin sakit saja rasanya seluruh bioskop bisa langsung pincang.

“Kamu bisa bawa motor nggak, Bar?” tanya Bu Marni. “Kalau bisa, ambil ke Agung Raya sana.”

“Maaf, Bu. Saya nggak bisa bawa motor.”

“Aduh, siapa yang bisa...” Bu Marni mendadak terdiam. “Eh, iya! Mara kayaknya bisa!”

Karena ikut terbawa kepanikan, aku sama sekali tidak sempat memikirkan satu pertanyaan yang sebenarnya sangat jelas.

Kenapa bukan Pak Tono saja yang bawa motor?

Vespa itu miliknya sendiri. Aku bahkan siap menemani. Tapi bukannya mempertanyakan itu, aku langsung bergegas menuju studio lukis. Dan kali ini, tentu saja aku mengetuk pintu terlebih dahulu.

Aku masih sayang telinga.

Setelah Mara mempersilakan masuk, aku menjelaskan kalau Bu Marni memanggilnya karena ada masalah dengan rol film.

“Kamu bisa bawa motor, kan, Mar?” tanya Bu Marni begitu Mara masuk ke kantor.

“Bisa, Bu.”

Aku meliriknya.

Jujur saja, baru sekarang aku tahu Mara bisa naik motor.

Apalagi motor Pak Tono bukan motor kecil. Vespa butut itu kelihatannya berat bukan main.

“Aduh, tapi kamu kan lagi nggak boleh keluar dulu sama si Bapak...” Bu Marni kembali bingung.

Dia berpikir sebentar sebelum akhirnya mengibaskan tangan.

“Ayo deh, kalian berdua ikut Ibu.”

Aku dan Mara mengikuti langkahnya keluar.

Tapi... Loh?

Kenapa kami malah dibawa menuju kamar mandi karyawan?

Bu Marni berhenti di depan salah satu bilik WC.

“Pak!” teriaknya sambil menggedor pintu.

“Iya! Gimana, Bu? Apa kata Agung Raya?” sahut suara Pak Tono dari dalam.

Oh. Sekarang aku tahu kenapa bosku tidak bisa mengendarai Vespa.

“Kurirnya belum balik juga tadi! Biar Mara sama Bara saja yang ambil filmnya,” usul Bu Marni.

“Jangan, Bu!” suara Pak Tono langsung meninggi. “Mara jangan keluar dulu. Takut kelihatan sama abang-abang yang kemarin!”

“Terus gimana? Setengah jam lagi harus tayang! Kalau telat ya pasti telat, tapi jangan sampai penontonnya nunggu kelamaan!”

“Tunggu saya sebentar lagi selesai! Nanti saya yang ambil sama Bara!”

Dari balik pintu terdengar suara-suara perjuangan yang cukup mencurigakan.

Lihat selengkapnya