Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #7

Bintang Malam

Aku dan Mara tiba di Bimul ketika hari mulai beranjak sore. Setelah memarkir Vespa, kami berjalan menuju lobi. Bu Marni terlihat sibuk mengatur lalu-lalang pengunjung.

“Wah, beneran santai, ya, kalian di jalan,” sindir Bu Marni, menyinggung waktu tempuh kami yang cukup lama.

Dari balik loket karcis, Sheila yang menyaksikan kami ditegur hanya menutup mulut, berusaha menahan tawa.

“Iya, Bu. Maaf, tadi macet,” jawabku, berusaha mengambil alih tanggung jawab.

“Ya sudah, lanjut kerja,” ujar Bu Marni sebelum kembali ke ruangan Pak Tono, menyerahkan urusan para pengunjung kepadaku dan Mara.

Aku dan Mara pun berjaga di lobi, mengatur arus manusia yang terus berdatangan. Sesekali mata kami bertemu, lalu kami saling bertukar senyum dan tawa kecil.


Tanpa terasa, malam semakin larut dan kami mulai bersiap menutup bioskop. Pak Tono dan Bu Marni menghampiri aku dan Mara yang sedang membersihkan area lobi. Sepertinya Pak Tono sudah menuntaskan perjuangannya hari ini.

“Bagaimana ini, Mara? Kamu nggak bisa nginep di sini lagi. Takutnya mereka lihat kamu keluar-masuk sini tadi siang,” ujar Pak Tono membuka pembicaraan. Tampaknya, ia sudah tidak berniat merahasiakan masalah itu dariku. “Saya takut mereka nanti nekat membobol masuk.”

“Iya, Pak. Nggak apa-apa. Biar saya pulang ke kosan aja.”

“Ya, tapi hati-hati. Sudah gelap begini, takutnya kamu diikutin. Apa mau nginep di rumah saya dulu sementara?” tawar Pak Tono.

“Aduh, jangan, Pak. Saya udah banyak ngerepotin Bapak. Lagian, nanti saya dianter pulang sama Bara,” jawab Mara, mencoba meyakinkannya.

“Wah, iya, Bar? Memang hebat jagoan kita yang satu ini. Bang Codet aja dilawan, lho,” sahut Pak Tono sambil merangkulku di depan Mara.

Jagoan apanya, coba? Apa dia lupa kalau aku dihajar habis-habisan oleh si Gigi Emas itu?

Mara tertawa melihatku. Entah aku sedang dipuji atau justru dipermalukan oleh Pak Tono.

“Ya sudah. Kalau ada apa-apa, langsung ke rumah saja, ya, Mar. Atau telepon,” pesan Bu Marni.

Mara mengangguk sambil tersenyum.


Setelah seluruh pekerjaan selesai, aku dan Mara pamit pulang kepada Pak Tono dan Bu Marni. Kami berjalan berdua menyusuri jalanan yang temaram, saling bergandengan tangan. Hembusan asap dari rokok Mara seolah menambah pekatnya remang malam itu.

Sesekali aku menengok ke belakang, waswas kalau-kalau kami diam-diam diikuti. Aku memang tidak bisa memastikannya seratus persen, tetapi sepertinya situasi cukup aman. Aku tidak melihat ada satu orang pun yang membuntuti kami.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba Mara menghentikan langkahnya. Aku pun refleks ikut berhenti, lalu memutar tubuh untuk menatapnya.

“Bar... aku takut sendirian,” ucap Mara pelan.

Terdengar jelas betapa berat baginya untuk mengakui kerapuhan tersebut. Padahal sedari tadi di Bimul, sikapnya terlihat begitu santai dan sama sekali tidak menunjukkan ketakutan.

Aku masih terdiam, bingung harus menjawab apa. Semua balasan yang berkelebat di kepalaku entah kenapa terdengar kurang tulus atau sekadar klise belaka.

“Aku mau numpang nginep di kosan kamu, boleh?”

Aku spontan menelan ludah.

Bara bodoh! Bukan waktunya, Bar! Di tengah situasi yang sedang genting-gentingnya begini, bisa-bisanya isi kepalaku malah terbang melayang ke kahyangan.

Aku tidak tahu kata atau kalimat apa yang harus kugunakan untuk menjawab pertanyaan itu tanpa terdengar seolah-olah punya niat kotor.

“Boleh, ayo!”

“Tentu boleh...”

“Boleh banget!”

Semuanya terdengar salah di kepalaku. Akhirnya, aku hanya bisa mengangguk pelan sambil kembali mengeluarkan gumaman aneh yang lebih mirip suara sapi.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sementara itu, jantungku berdetak ugal-ugalan di dalam dada. Aku hanya bisa terus berdoa, mudah-mudahan irama liarnya tidak merambat hingga ke telapak tanganku yang sedang digenggam erat oleh Mara.


Setibanya di kosanku, Mara langsung memintaku mengunci pintu. Aku tahu kenapa. Mara masih takut dua orang bertubuh besar yang mencarinya kemarin nekat datang lagi. Meskipun, di kepalaku... alasannya sempat melenceng ke mana-mana.

Mara meneguk air putih dan beberapa kali menguap. Sepertinya ia sudah benar-benar mengantuk.

Tentu saja dia menginap untuk tidur, Bara! Memangnya mau apa lagi?

Selagi Mara mencuci muka dan kaki di kamar mandi, aku lekas menggelar kasur palembang. Aku juga buru-buru mengganti sarung bantal yang sudah membentuk “negara kepulauan” dengan sarung baru yang bersih dan wangi.

Setelah itu, aku mempersilakan Mara tidur lebih dulu, sementara aku pura-pura sibuk mencuci piring di wastafel.

Mara menanggalkan kemeja flanelnya, hanya menyisakan kaus merah gelap yang membalut tubuhnya. Untung saja hari ini dia tidak sedang memakai “baju ketek”. Setidaknya, aku bisa bernapas sedikit lebih lega.

Rencanaku, begitu Mara tertidur lelap nanti, aku akan tidur di lantai saja. Namun, Mara malah memanggilku mendekat. Ia menepuk-nepuk sisi kasur yang kosong, menyuruhku tidur di sampingnya. Layaknya anjing yang sangat terlatih, aku langsung membaringkan diri di sebelahnya tanpa perlawanan sedikit pun.

Sialnya, aku hanya punya satu bantal. Ya, mana mungkin aku tahu atau sempat bersiap-siap kalau Asmara—perempuan yang selama ini hanya bisa kukagumi dari kejauhan di tempat kerja—bakal benar-benar menginap di kamar kosku yang gembel ini!

Akhirnya, kepala kami terpaksa berbagi satu bantal. Kami terbaring bersebelahan, dengan bahu saling bersentuhan. Namun, mata kami sama-sama menatap lurus ke arah bintang malam yang... sayangnya tertutup rapat oleh atap kosanku.

“Bara, kamu nggak mau tanya soal orang-orang yang nyariin aku?” Mara membuka percakapan, memecah keheningan.

“Kalau kamu belum mau cerita, ya nggak apa-apa,” jawabku, berusaha meyakinkannya bahwa aku memang tidak keberatan. Walaupun sebenarnya, rasa penasaranku sudah hampir meledak.

“Mereka penagih utang, Bar. Aku punya banyak utang,” Mara mulai bercerita.

Aku hanya terdiam. Rasanya, mendengarkan adalah reaksi paling tepat untuk saat ini.

“Utang buat biaya pengobatan bapakku.”

Entah karena kami sedang berada sedekat ini, atau karena perasaanku kepadanya sudah telanjur terlalu dalam, aku sama sekali tidak menganggap masalah utang itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Di kepalaku, persoalan sebesar itu mendadak terasa sepele.

“Setelah bapakku meninggal... aku kabur. Aku belum mampu membayar utang itu,” lanjut Mara. Suaranya terdengar semakin berat.

“Kamu kok diem aja, Bar? Nggak ada yang mau kamu tanyain?” Mara menengokkan wajahnya ke arahku yang masih menatap lurus ke atap. Aku bisa melihat wajah Mara dari sudut mataku.

Rasanya ingin sekali aku bertanya, Bapakmu meninggal karena apa? Namun, entah karena takut membuatnya sedih, atau karena takut cerita Kang Cecep malah terbukti menjadi kenyataan, aku buru-buru mengurungkan niat tersebut.

“Aku pikir kamu orang kaya, soalnya bisa kuliah di kampus yang tadi,” kataku, sengaja mengalihkan topik pembicaraan.

Setelah tertawa kecil, Mara menjawab, “Bukan, Bar. Waktu SMA aku ngirim lukisanku untuk pameran di sana, eh... malah ditawarin beasiswa penuh buat kuliah di jurusan Seni Rupa.”

Berarti, kualitas lukisan Mara memang benar-benar bukan sembarangan. Hatiku mendadak merasa miris melihat nasibnya sekarang. Padahal, dulu ia mungkin adalah bibit muda jenius di dunia seni lukis yang masa depannya begitu cerah.

Tapi... kalau saja Mara berhasil menjadi pelukis ternama, apakah ia akan berbaring di sampingku seperti sekarang ini?

Lagi-lagi, jalan pikiranku menjadi sangat egois.

Bodoh kamu, Bara.

“Kalau tato kamu, kenapa kamu buat?” tanyaku, berusaha melarikan diri dari pikiran egoisku sendiri.

Mara perlahan mengangkat lengan kirinya, seolah hendak menggapai langit-langit kamar.

“Nggak kenapa-kenapa. Waktu aku di kampung ngerawat Bapak, temenku waktu SMA mau buka jasa tato. Karena dia masih baru belajar, dia minta aku jadi kelinci percobaan.”

“Kenapa harus kamu?”

“Nggak tahu. Mungkin karena dia nganggep aku anak seni?”

“Terus, kok kamu mau?” tanyaku, semakin penasaran.

“Ya, nggak apa-apa. Waktu itu aku udah nggak peduli sama hidupku,” jawab Mara datar. “Aku bertahun-tahun ngerawat Bapak di kampung. Beasiswaku dicabut, terus aku kena DO karena bertahun-tahun nggak pernah masuk dan nggak ngasih kabar. Temenku juga mau bayar lumayan. Jadi, ya udah... aku mau. Aku udah nggak peduli lengan aku mau digambar apa.”

Aku sedih sekali mendengar ceritanya. Hidup Mara benar-benar telah keluar dari jalur yang dahulu ia bayangkan sebagai jalan menuju masa depannya. Hampir saja air mataku menetes, tetapi masih mampu kutahan, meski hidungku mulai berkedut menahan tangis.

“Tapi...” Mara tiba-tiba menggantung kalimatnya. “Kalau sekarang aku diminta bikin tato lagi, aku pasti ngomong sama kamu dulu.”

“Kenapa?”

Lihat selengkapnya