Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #8

Cerita di Ujung Hari

Hari yang sejak beberapa hari terakhir kutunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi itu, Mara sudah lebih dulu membangunkanku. Sepertinya dia benar-benar bersemangat. Bahkan sebelum aku membuka mata sepenuhnya, si cantik sudah rapi dan siap berangkat.

Ia mengenakan kemeja biru oversize yang dibiarkan terbuka, dengan kaus putih yang cukup pas di tubuhnya sebagai dalaman. Kaus itu dimasukkan ke dalam celana jeans berwarna gelap. Rambutnya juga terlihat lebih tertata dari biasanya.

“Baru jam setengah delapan,” keluhku, masih cukup mengantuk.

“Ayo dong. Naik Metromini bisa satu jam, loh, Bar,” desak Mara sambil menarik tanganku.

Mau tidak mau, aku segera mandi. Begitu aku selesai, Mara malah masuk lagi ke kamar mandi untuk bercermin. Sepertinya dia masih belum puas dengan rambutnya dan kembali merapikannya.

Aku cuma bisa memperhatikannya dari luar.

Jujur saja, saat Mara berpenampilan serapi ini, kecantikannya seperti bertambah dua kali lipat. Biasanya dia lebih sering terlihat dengan pakaian kerja seadanya, rambut yang kadang dibiarkan berantakan, dan wajah yang sama sekali tidak peduli dengan penampilan. Tapi pagi ini berbeda.

Aku sendiri sudah siap dengan kemeja batik yang agak kebesaran, kumasukkan ke dalam celana jeans biru muda.

Mara keluar dari kamar mandi, menatapku dari atas sampai bawah, lalu langsung tertawa.

“Kayak bapak-bapak.”

“Apaan, sih?”

Bukannya menjawab, Mara malah menghampiriku dan membuka tiga kancing teratas kemejaku. Dalaman hitam yang kupakai pun langsung terlihat.

“Nah, gini lebih bagus.”

Aku menatapnya dengan wajah pasrah.

“Kita nggak makan dulu? Aku lapar,” pintaku manja.

“Nanti aja sekalian di jalan,” jawab Mara. Nada suaranya terdengar begitu bersemangat sampai-sampai aku mulai merasa, jangan-jangan justru aku yang diajak kencan oleh orang yang sudah tidak sabar ingin jalan-jalan ini.


Akhirnya kami berangkat naik Metromini. Mungkin karena masih Sabtu pagi, suasananya belum terlalu ramai. Kami bahkan bisa duduk bersebelahan. Sayangnya, suara mesin Metromini yang meraung-raung tetap membuat kami kesulitan mengobrol. Beberapa kali aku harus mendekatkan wajah ke telinga Mara hanya untuk memastikan dia mendengar ucapanku.

Kami turun di pemberhentian pertama untuk melanjutkan perjalanan dengan Miniarta. Namun, baru saja hendak mencari kendaraan berikutnya, aku kembali membujuk Mara untuk makan dulu. Perutku sudah tidak berhenti mengeluarkan protes sejak tadi.

Mara tertawa melihatku memelas sambil memegangi perut.

“Ya udah, ayo makan dulu.” 

Akhirnya kami berhenti di sebuah gerobak bubur di pinggir jalan. Kami makan sambil duduk seadanya, ditemani asap kendaraan yang lalu-lalang dan, tentu saja, bonus bumbu tambahan berupa debu jalanan.

Kencan pertama kami benar-benar sederhana.


Setibanya kami di taman bunga, mataku seketika dimanjakan oleh pemandangan yang luar biasa. Hamparan luas bunga zinnia dan matahari menjelang siang membentang sejauh mata memandang, membentuk lautan warna kuning cerah, merah marun, dan ungu menyala yang berpadu sempurna di bawah langit yang biru bersih.

Mara langsung berhenti melangkah. Ia memejamkan mata perlahan, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya, seolah ingin meresap seluruh udara segar pagi itu. Aku ikut meniru gerakannya, memejamkan mata dan menarik napas panjang.

Kupikir bakal tercium wangi bunga.

Ternyata tidak juga.

Ketika membuka mata, Mara sudah tersenyum ke arahku. Matanya terlihat begitu berseri, jauh lebih cerah daripada biasanya.

“Ayo masuk.”

Kami pun melangkah lebih jauh memasuki area taman. Suasananya ternyata cukup hidup tapi tetap menenangkan. Ada beberapa keluarga yang membawa anak-anak kecil berlarian mengejar kupu-kupu, sepasang kakek-nenek yang berjalan bergandengan tangan dengan mesra, dan tentu saja, muda-mudi seusia kami yang sibuk berfoto. Ada pula beberapa orang yang mendorong orang tua mereka dengan kursi roda.

Entah kenapa pemandangan sederhana itu terasa menghangatkan hati. Melihat orang-orang menghabiskan waktu bersama keluarganya membuat taman ini terasa begitu damai.

Aku dan Mara berjalan menyusuri jalan setapak sambil bertaut tangan. Sesekali Mara melepaskan genggamannya, merogoh tasnya, lalu mengeluarkan buku sketsa kecil dan pensil arang. Setiap kali ia menemukan bentuk kelopak bunga yang unik—seperti bunga terompet atau lavender liar—ia akan berhenti sejenak, memicingkan mata, dan mulai menggoreskan garis-garis cepat di atas kertas.

Aku ikut memperhatikannya.

“Kenapa kamu gambar?”

“Buat referensi aja,” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.

Aku memperhatikan gambar yang perlahan terbentuk di halaman bukunya.

“Tapi jadi nggak ada warnanya.”

Mara berhenti menggambar. Ia mengetukkan ujung pensil ke kepalanya sambil tersenyum.

“Warnanya aku simpan di sini.”

Aku jadi ikut tersenyum.

“Tahu gitu aku bawa tustel.”

Mara menoleh kepadaku. “Emang kamu punya?”

“Nggak punya, sih.”

Aku langsung tertawa. Mara ikut tertawa melihat jawabanku sendiri.

Setelah selesai menggambar, Mara kembali menggenggam tangan kananku.

Beberapa orang yang berpapasan dengan kami tampak melirik. Awalnya aku tidak mengerti apa yang mereka lihat, sampai akhirnya aku mengikuti arah pandangan mereka.

Ternyata tangan kami.

Gambar tato yang dibuat Mara dengan spidol tadi malam membuat kedua lengan kami terlihat seperti memiliki tato yang saling menyambung. Saat aku lihat, memang seolah tato Mara sudah menjalar ke lenganku. Sepertinya Mara menyadarinya. Ia malah mengayunkan tangan kami sedikit lebih tinggi, seolah sengaja ingin memperlihatkannya kepada orang-orang yang berpapasan dengan kami.


Setelah berjalan beberapa saat, Mara kembali melepaskan tanganku dan mulai menggambar lagi.

Tak jauh dari tempat Mara menggambar, ada sebuah bangku kosong. Aku pun tidak melewatkan kesempatan untuk duduk sejenak menjadi penonton setia bagi seniman pribadiku sembari mengawasinya. Sesekali pandanganku beralih ke sekitar, menikmati suasana taman yang semakin membuatku betah.

Lihat selengkapnya