Pagi itu aku terbangun dengan wajah yang tak mau berhenti tersenyum, sedangkan Mara masih tertidur lelap di pelukanku. Aku bahkan tak berani menggerakkan tubuhku sedikit pun, takut mengganggu istirahat sang "nyonya ratu".
Aku hanya bisa menatap langit-langit kamar yang tak hentinya memutar ulang rekaman kejadian tadi malam. Lagi-lagi aku tersenyum, hampir tertawa kecil. Aku seperti tak percaya dengan daya ingatku sendiri, seolah takut semua ini hanyalah ingatan palsu yang sengaja dibuat otakku untuk menghiburku dari keterpurukan kemarin.
Tak lama kemudian, Mara membuka matanya. Ia mengangkat wajah untuk menatapku. Menyadari aku sedang senyam-senyum sendiri seperti orang gila, ia malah ikut tersenyum tipis sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di dadaku.
Aku memejamkan mata dan merapatkan mulut kuat-kuat, berusaha menahan tawa yang mendesak ingin menerobos pertahananku. Namun, aku tak kuasa. Tawa kecil akhirnya lolos dari bibirku, membuat tubuhku mulai bergetar mengikuti iramanya. Tak berselang lama, tubuh Mara di pelukanku ikut bergetar karena tawa.
Mataku kembali menatap langit-langit kamar. Entah sejak kapan, noda-noda bekas genteng bocor di atas sana mendadak terlihat menyerupai bentuk kupu-kupu dan bunga.
Mara kemudian memukul dadaku pelan—sebuah pukulan manja—lalu beranjak duduk.
“Ayo ah, bangun… Kita kan masuk kerja pagi,” ucap Mara sambil menarik-narik tanganku agar ikut duduk.
Lagi-lagi, aku menjelma menjadi manusia sapi yang penurut. Aku berdehem pelan, lalu beranjak menuju kamar mandi.
Tentu saja kami berangkat ke Bimul bersama. Di perjalanan, kami berhenti sejenak untuk sarapan lontong sayur. Di sela-sela makan, kadang mata kami saling menatap. Kami langsung tersenyum dan tertawa kecil tanpa alasan yang jelas. Ibu penjual lontong sayur dan beberapa orang yang ada di sana tampak keheranan melihat tingkah kami, tapi kami tidak peduli.
Ketika langkah kami sudah mendekati Bimul, aku berusaha melepaskan genggaman tangan Mara karena takut diledek yang lain. Tapi Mara malah menguatkan cengkeramannya. Aduh, aku tidak punya pilihan lain selain menguatkan mental.
“Pagi, Pak,” sapa Mara pada Pak Tono yang sedang berdiri di depan lobi—tetap tanpa mau melepaskan tanganku.
“Pagi, Mara. Eh… Bara,” Pak Tono tampak terkejut melihat kami bergandengan tangan.
Lalu, Mara menarik tanganku berjalan masuk ke dalam. Pak Tono malah memberi tepuk tangan pelan sambil menatapku, seolah ia sedang menyaksikan pertunjukan musik klasik di gedung opera.
Shiela yang melihat kami lewat dari dalam loket langsung berteriak histeris penuh semangat.
“Ciee, akhirnya udah berani terang-terangan!”
Aku hanya tertunduk, tak sanggup menatap wajah Shiela. Wajahku terasa panas tak karuan. Sementara itu, Mara terus berjalan dengan yakin sambil menggenggam tanganku erat.
Sesampainya kami di area belakang, tepat di depan studio lukis, Mara akhirnya melepaskan tanganku. Ia membalikkan tubuhnya ke arahku.
“Kamu kerja sana, aku mau beresin studioku dulu,” ucapnya.
Namun, ada yang mengejutkan. Saat ia mendongak, ternyata wajah Mara tak kalah merahnya dari wajahku. Suaranya juga sedikit bergetar. Kami berdua sama-sama tak kuasa menatap rona merah di wajah masing-masing.
Lalu, Mara berlalu buru-buru masuk ke studio lukis, sementara aku berdiri mematung sejenak sebelum mengambil alat-alat kebersihan dan membawanya kembali ke lobi.
Aku membersihkan lobi dengan tenang. Sepertinya Pak Tono sudah masuk ke ruangannya, sehingga tantangan sesungguhnya tinggal satu: membersihkan area depan loket.
Ketika aku berjalan menuju ke sana, Mara ternyata sudah keluar dari studionya.
“Sini aku bantu,” tawar Mara.
Akhirnya, kami membersihkan area depan loket berdua. Sementara itu, Shiela menikmati pemandangan tersebut dari dalam loket seolah sedang menonton pertunjukan layar tancep gratis.
Beberapa kali punggung tangan atau bahu kami tak sengaja bersentuhan. Setiap kali itu terjadi, rasanya seperti tersengat kejutan listrik kecil yang membuat aliran darahku mendadak mendesir cepat. Anehnya, tegangan "listrik" saat bersentuhan dengan Mara hari ini terasa jauh lebih kuat daripada saat kami berpegangan tangan kemarin-kemarin.
Kami hanya bisa saling melirik dan bertukar tawa kecil. Di balik kaca loket, Shiela menyandarkan kepalanya di atas tangan kanan, menikmati setiap detik tingkah salah tingkah kami berdua dengan senyum penuh arti.
Hari-hari kami berjalan damai, penuh canda tawa dan ledekan dari orang-orang Bimul. Hampir setiap hari Mara tidur di kosanku—aku bahkan sudah lupa alasan awal mengapa ia mulai sering menginap di sini. Barang-barang Mara sepertinya juga sudah hampir semuanya pindah ke kosanku. Aku kadang heran sendiri kenapa ia masih repot-repot membayar sewa kos lamanya, padahal setiap malam ia selalu tidur di kosanku.
Semua masalah utang Mara dan rasa kecil hatiku seolah menguap begitu saja setelah sepekan lebih kami tinggal bersama di kosanku.
Hingga suatu pagi, saat bioskop belum buka dan aku sedang membersihkan lobi, sebuah suara menghentikan gerakanku. Hari itu aku masuk pagi karena Kang Cecep berhalangan datang untuk mengurus tugas kuliahnya. Kami akhirnya bertukar jam kerja, yang berarti aku harus bolos kuliah.
“Dek, maaf, mau tanya. Apa benar Asmara kerja di sini?”
Aku segera menoleh ke sumber suara. Seorang perempuan paruh baya dengan rambut hitam mengembang dan pakaian modis berdiri di sana. Wajahnya cantik dengan riasan yang pas dan natural.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada pria berbadan besar di sekitar, sekaligus mencari apakah ada Pak Tono atau Shiela yang bisa kumintai bantuan.
Aku terdiam cukup lama, bingung harus menjawab apa. Baru saja aku memutuskan untuk berbohong, wanita itu melanjutkan pertanyaannya,
“Saya ibunya Asmara.”