Pak Tono menghela napas panjang. “Kamu udah tahu sejauh apa tentang masalah Mara?” tanyanya, memecah keheningan.
Aku masih membeku di kursi. Lidahku terlalu kelu untuk sekadar menjawab.
“Semenjak kalian mulai dekat, saya memang sudah agak waswas. Saya tahu ini cepat atau lambat bisa jadi bom waktu,” lanjut Pak Tono, seolah tak menghiraukan kediamanku. “Tapi, jujur saja saya juga ikut senang, melihat Mara jadi lebih banyak senyum sejak dekat sama kamu.”
Pandangan Pak Tono agak menunduk, menatap kosong ke arah meja kayunya.
“Saya sudah tahu semua tentang masalahnya langsung dari mulut Mara, waktu dia melamar kerja penuh waktu di sini setahun lalu. Saya menerima dia karena dulu Mara memang pernah kerja sambilan di sini sebentar waktu awal-awal kuliah, sebelum akhirnya berhenti karena makin sibuk sama tugas.”
Pak Tono kembali menatapku. Tatapannya menyiratkan rasa kasihan yang mendalam.
“Saya nggak tahu sejauh apa Mara sudah cerita ke kamu soal masalah keluarganya. Jadi, saya merasa nggak berhak mendahului dia untuk menceritakan kejadian tadi.” Pak Tono memberi jeda sejenak, membuat udara di ruangan ini terasa semakin menipis.
“Tapi intinya, Bar…” Nada suara bosku itu memberat. “Kamu lebih baik segera putus sama Mara. Karena ibunya mau bawa Mara pulang… untuk dinikahkan.”
Nikah? Kok jadi nikah? Bukannya ini cuma masalah utang?
Kepalaku mendadak pening mendengar penjelasan yang sama sekali tidak masuk akal ini. Rasa jengkel seketika meledak dan menggerogoti dadaku. Aku merasa seperti sedang dipermainkan, seolah diajak berlari ke sana kemari secara paksa tanpa arah tujuan yang jelas.
Aku tetap membisu, merapatkan rahang dan tak mau menjawab.
Suasana ruangan itu berubah hening mencekam. Saking heningnya, suara detak jarum jam dinding di belakang Pak Tono mendadak terdengar sangat nyaring. Tek... tek... tek... Bunyinya menggemakan kekosongan di kepalaku, membuatku luar biasa risih.
Lama-kelamaan, rasanya gatal sekali tanganku ingin meraih gelas kopi yang tergeletak di meja Pak Tono, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah jam itu hingga hancur berantakan, sekadar untuk menghentikan bunyi bangsat tersebut!
Suara jarum jam itu tak mau berhenti menggangguku. Rasanya kepalaku benar-benar hampir meledak.
“Bara, gimana?”
Pertanyaan pendek Pak Tono itu pada akhirnya menjadi pelatuk yang meledakkan kepalaku.
Brak!
Tanpa sadar, aku menghantam meja kerja Pak Tono sekuat tenaga. Entah sekeras apa bunyinya, pukulan itu sukses membuat Pak Tono tersentak mundur dengan wajah syok bukan kepalang.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Bu Marni dan Shiela bergegas melongok ke dalam dengan wajah panik. Namun, melihat posisiku yang menunduk dengan sebelah tangan masih menekan meja, napas yang memburu, dan tubuh yang bergetar, mereka berdua membeku. Keduanya hanya berani berdiri mematung di ambang pintu tanpa berani melangkah maju.
Tunggu dulu… aku menangis?
Aku baru menyadari pandanganku mengabur. Air mataku ternyata sudah berlinang, jatuh menetes satu per satu hingga membasahi kain celanaku.
“Saya nggak mau putus,” ungkapku tegas tanpa mengangkat wajah. Suaraku bergetar bukan main hebatnya.
Aku langsung bangkit dari kursi dan berjalan keluar, menerobos celah di antara tubuh Bu Marni dan Shiela begitu saja. Entah benda apa yang baru saja kuhantam di atas meja Pak Tono tadi, tapi telapak tanganku terasa kebas. Darah pekat tampak mulai merembes menetes dari sela-sela jariku.
“Bara, tangan kamu berdarah…” panggil Shiela panik, setengah berlari menyusul langkahku.
Aku tak menghiraukannya. Kepalaku kosong melompong. Aku terus melangkah menyeret kaki tanpa tujuan yang jelas. Namun, alam bawah sadarku nyatanya lebih tahu ke mana aku harus pergi. Tanpa kusadari, langkahku telah terhenti tepat di depan daun pintu studio lukis Mara.
Aku membuka daun pintu dan melangkah masuk ke dalam studio perlahan.
Aroma yang mungkin sudah puluhan kali kuhirup langsung menyengat hidungku—campuran antara bau cat minyak, thinner, bau asap rokok, dan jejak wangi sampo anggur. Perpaduan aroma yang aneh dan tak karuan, yang selama ini selalu kunikmati tanpa pernah sadar bahwa pada akhirnya, wangi inilah yang akan menjadi sesuatu yang paling kudambakan.
Aku menatap jam dinding. Sudah hampir pukul dua belas siang. Seharusnya Bimul sudah buka, dan seharusnya Mara sedang duduk di kursinya di sudut sana, sibuk melukis dengan jemari yang sudah belepotan noda cat.
Aku menunduk cepat, berusaha menepis bayangan menyakitkan itu dari kepalaku. Namun, tatapanku malah jatuh pada tangan kananku yang masih meneteskan darah. Di sana, gambar tato yang dibuat Mara dengan spidol itu sudah semakin memudar, nyaris hilang terhapus waktu.
Melihat itu, pertahananku runtuh total. Aku tak kuasa lagi. Aku berjongkok lemas di lantai, menenggelamkan wajah di balik lipatan lutut, dan menangis tersedu-sedu sejadi-jadinya layaknya anak kecil yang kehilangan arah.
Tak berselang lama, Shiela menyusul masuk. Ia membawa sebotol air mineral, beberapa helai kain bersih, dan sebotol obat merah. Tanpa banyak bicara, ia berlutut di hadapanku, menarik tanganku dengan lembut, lalu mulai membersihkan lukanya.
Di tengah isak tangisku, telingaku lamat-lamat menangkap suara senggukan samar. Shiela ternyata ikut menangis bersamaku.
Setelah selesai membalut tanganku, ia mengulurkan tangan lalu mengusap-usap kepalaku dengan agak kasar hingga rambutku berantakan. Usapan itu kasar, tetapi penuh kehangatan—persis seperti seorang kakak perempuan yang sedang berusaha menenangkan adik laki-lakinya yang tengah hancur lebur.
Entah sudah berapa lama aku meringkuk di sana. Perlahan, aku mulai bisa sedikit menguasai diriku. Shiela sudah pergi entah ke mana, meninggalkan tanganku yang kini telah dibalut rapi. Aku beranjak bangkit, berjalan keluar mengambil alat-alat kebersihan, dan melangkah gontai menuju lobi. Entah apa yang sebenarnya mau kulakukan. Aku bergerak seperti mesin rusak, seolah kehilangan orientasi waktu dan akal sehat.
Namun, langkahku dicegat oleh Pak Tono.
“Bara, kamu pulang aja. Hari ini kita libur dulu.”
Entahlah, aku sama sekali tidak peduli. Aku berniat terus melangkah, hingga Pak Tono tiba-tiba menahan dan menggenggam erat kedua bahuku.
“Maaf, Bar. Saya nggak bisa nahan Mara,” ucap Pak Tono pelan. Ia menundukkan kepalanya. “Saya sudah jelasin ke ibunya kalau Mara nggak bisa berhenti kerja tiba-tiba karena terikat kontrak. Tapi ibunya tetap nggak mau dengar.”
Aku mendecih dalam hati. Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Pak Tono repot-repot menceritakan hal teknis di saat seperti ini. Mana mungkin aku peduli soal kontrak kerja?