Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #11

Pemegang Kendali

Aku tak kuasa lagi membendung air mata. Saat berbalik dan menyusuri lorong menuju lobi, pertahananku akhirnya runtuh. Aku menerobos keluar tanpa memedulikan siapa pun yang berpapasan denganku, tak sudi repot-repot menyapa, apalagi pamit. Aku terus berjalan pulang menuju kosan.

Sepanjang jalan hingga tiba di kamar, kepalaku terus berputar. Aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sikap Mara mendadak berubah drastis kepadaku? Apa sebabnya? Apa tujuannya bersikap sedingin itu? Apa semua ini cuma cara agar aku menyerah dan mengakhiri hubungan kami?

Saat hari mulai gelap, rasa penasaran akhirnya mengalahkan harga diri yang sudah terlanjur hancur. Aku memutuskan berdiri di depan gerbang kos, menunggu Mara pulang kerja. Aku tahu dia pasti akan melewati jalan ini nanti.

Benar saja. Cukup larut malam, ketika gang sudah sepi dan hanya sesekali terdengar suara kendaraan dari kejauhan, sosok Mara terlihat berjalan santai menuju kosannya.

“Mara. Aku mau ngomong,” ucapku sambil melangkah maju menghalangi jalannya.

Langkahnya terhenti. Akhirnya, setelah sekian lama, ia kembali menatap mataku.

“Aku udah kasih kamu waktu. Sekarang aku mau dengar jawaban kamu,” desakku.

Mara membuang pandangan ke samping. “Belum, Bar,” jawabnya pelan.

“Berapa lama? Kamu perlu waktu berapa lama lagi?!” cecarku. Aku benar-benar ingin kepastian.

“Gak tahu.”

Jawaban yang terlalu ringan itu kontan menyulut kembali kejengkelanku.

“Terus kenapa sikap kamu tiba-tiba berubah?!” paksaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi.

Mara sama sekali tidak menjawab. Wajahnya tetap datar. Keheningan itu justru terasa lebih menyakitkan daripada kalau dia memarahiku.

Rasa kesalku akhirnya benar-benar tak tertahankan. Logikaku mati. Dalam keputusasaan yang buta, sebuah kalimat beracun meluncur begitu saja dari mulutku.

“Apa bener kata ibu kamu... kalau bapakmu meninggal gara-gara kamu?”

Entah iblis dari mana yang merasuki pikiranku sampai aku bisa selancang itu. Padahal, aku hanya ingin memancing reaksinya. Aku ingin dia marah, membantah, menangis—apa saja, asalkan bukan diam.

Berhasil.

Mara menoleh. Sorot matanya berubah begitu tajam sampai membuat tubuhku seketika kaku. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah maju dan menerobos hadanganku dengan kasar. Aku terlalu terkejut oleh perubahan auranya hingga tak berdaya menahan langkahnya.

“Mara!” panggilku keras.

Mara berhenti.

Ia menoleh sedikit, menatapku dari sudut matanya, lalu menjatuhkan kalimat yang membuat darahku seketika berdesir hebat.

“Iya, gua yang bunuh.”

Setelah itu, Mara kembali berjalan menembus kegelapan malam, meninggalkanku yang mematung tanpa tahu harus percaya pada apa yang baru saja kudengar.


Keesokan harinya, Mara sepertinya sengaja masuk siang demi menghindariku. Saat aku bersiap membolos kuliah lagi untuk mencegatnya, Kang Cecep memergokiku.

Ia menegurku keras dan mengingatkan kembali tujuan utamaku jauh-jauh merantau ke ibu kota: belajar, bukan untuk luntang-lantung tak karuan.

Siang itu, dengan langkah berat dan terpaksa, aku akhirnya berangkat ke kampus.

Begitu kelas pertama selesai, Adrian menghampiriku. Katanya, sejak kemarin aku dicari Bu Chaca, salah satu dosen kami.

Sebenarnya aku sedang malas berurusan dengan siapa pun. Namun, anak setan satu ini malah memaksaku, bahkan sampai merangkul dan memapah bahuku secara paksa. Berkat tarikannya, aku akhirnya tiba di ruang dosen.

“Loh, Bara, kamu lagi sakit?” tanya Bu Chaca begitu melihat wajahku.

“Sakit hati, Bu,” celetuk Adrian.

Aku refleks menyikut rusuknya lalu merenggut lepas rangkulannya. Adrian cuma tertawa puas, nyaris tanpa dosa.

“Ada-ada saja kalian ini,” ujar Bu Chaca sambil ikut tertawa kecil.

Aku duduk di kursi menghadap meja beliau, sementara Adrian melenggang keluar ruangan.

“Ada apa ya, Bu?” tanyaku penasaran. Aku mulai menebak-nebak apakah ada masalah akademik yang harus kuselesaikan.

“Gini, Bara. Kamu masih ingat waktu Ibu suruh ikut tes TOEFL tempo hari?”

“Iya, Bu. Saya ingat.”

“Karena nilai TOEFL kamu bagus sekali, Ibu memutuskan untuk mengajukan nama kamu ke program pertukaran mahasiswa ke luar negeri,” lanjut Bu Chaca.

Aku tersentak. “Hah? Ke luar negeri, Bu?”

“Iya. Kampus kita punya kerja sama dengan beberapa universitas mitra. Untuk tahun ini, ada beberapa universitas di Australia yang membuka kesempatan untuk mahasiswa kita. Penempatannya nanti tergantung hasil seleksi.”

Australia?

Mendadak pikiranku dipenuhi berbagai bayangan tentang negeri yang selama ini hanya kukenal dari buku, televisi, dan cerita orang.

“Saya... nggak usah deh, Bu. Saya nggak punya uang kalau harus ke sana.”

Bu Chaca langsung tersenyum. “Tenang. Biaya kuliah dan keberangkatan ditanggung program. Untuk kebutuhan hidup di sana juga ada tunjangan.”

Aku terdiam.

“Aduh... itu berapa lama, Bu?”

Lihat selengkapnya