Mara menahan napas, meredam rintihan yang nyaris meledak, seraya menjaga akal sehatnya yang mulai mengawang.
Sementara aku terus mengatur napas agar tak kehabisan udara, berusaha keras membawanya terbang.
Kami berputar-putar bagai roda nasib kehidupan yang bimbang.
Bergonta-ganti peran tanpa merenggang.
Kadang aku mengatur tempo sebagai pemenang.
Sesekali ia mengambil alih, memandang dari tempat menjulang.
Mulut Mara merapalkan mantra-mantra, membuatku mabuk kepayang.
Kadang hanya sekadar sumpah serapah, aku menggila dan menerjang.
Malam itu, kami berenang, di lautan cahaya remang.
Suasana pagi itu cukup dingin. Hujan sepertinya tak kunjung reda sejak semalam, meski kini hanya menyisakan rintik-rintik kecil yang mengetuk kaca jendela.
Mara masih terlelap. Ia tampak begitu kelelahan setelah segala rentetan peristiwa yang menguras fisik dan emosinya belakangan ini. Sengaja kubiarkan ia tertidur lebih lama. Aku yang sudah mandi dan membeli sarapan, kini hanya duduk diam, memandangi wajah lelahnya dan menikmati alunan dengkuran halusnya.
“Take my hand, take my whole life, too...”
Sayup-sayup terdengar suara lagu dari radio tape di kamar sebelah. Aku tahu persis lagu Elvis Presley ini.
“For I can't help falling in love with you...”
Sialan. Lagi-lagi tetanggaku ini mengintip adegan kami di depan kamar kosku, di tengah hujan semalam. Aku nikmati saja alunan musik ini.
Sampai tiba-tiba, pintu kamarku digedor cukup kencang.
“Bara! Buka, Bar!”
Suara Shiela. Mendengar nada paniknya, entah kenapa perasaanku langsung tidak enak. Aku seolah bisa menebak berita buruk apa yang sedang dibawanya.
Begitu pintu kubuka, Shiela langsung merangsek masuk, menggagalkan upayaku yang hendak menahannya di ambang pintu.
“Bara! Ibunya Mara dateng ke Bimul, ngamuk-ngamuk nyariin Mara!” seru Shiela dengan napas memburu. “Kamu tahu Mara ada di man—”
Pertanyaannya terputus seketika di udara. Langkahnya terhenti. Matanya tertuju lurus pada sosok Mara yang tengah tertidur pulas di atas kasurku, hanya berbalut sehelai kain selimut tipis yang menutupi tubuhnya.
Shiela langsung memutar wajah ke arahku. Matanya membelalak lebar, seolah menembakkan ribuan pertanyaan penuh penghakiman. Lagi-lagi, aku tertangkap basah oleh Shiela.
Aku buru-buru menempelkan telunjuk di depan bibir, memberinya isyarat keras agar tidak berisik.
Shiela tampak jengah. Ia melangkah maju ke arahku dengan mata yang menyorot tajam, bersiap menumpahkan omelannya. Lalu...
Prang!
Langkah Shiela tanpa sengaja menginjak sebuah piring kotor yang tergeletak sembarangan di lantai. Shiela terlonjak kaget dan refleks menoleh ke bawah.
Suara piring terlempar itu seketika membuat Mara terbangun. Matanya terbuka lebar karena terkejut. Setelah beberapa detik mengumpulkan nyawa dan menyadari ada Shiela berdiri di dalam ruangan, Mara langsung berteriak kecil. Ia buru-buru menarik kain itu hingga sebatas leher, membungkus tubuhnya rapat-rapat.
Shiela hanya bisa memijat pelipisnya dan geleng-geleng kepala. Ia tampak kehabisan kata-kata, mungkin juga bingung harus mulai mengomel dari mana di tengah situasi ini.
“Bara, ayo ikut ke Bimul sekarang,” pinta Shiela tegas, memutuskan untuk mengabaikan pemandangan di depannya demi masalah yang jauh lebih mendesak.
“Eh? Iya, ayo,” jawabku agak gagap, cukup kaget karena Shiela memilih untuk tidak mencecarku. Aku bergegas mengambil jaket.
“Bara, tunggu.” Suara parau Mara menghentikan langkahku. “Aku... enggak ada baju.”
Mendengar itu, mata Shiela kembali membelalak ke arahku, seolah berusaha melubangi kepalaku dengan tatapan mautnya.
“Pake baju aku dulu aja, yang mana aja di lemari,” jawabku singkat, berusaha menghindari tatapan mematikan Shiela.
Aku bergegas melangkah keluar kamar. Shiela mengikutiku dari belakang. Namun, baru beberapa langkah di lorong kos, aku tersadar bahwa membiarkan Mara sendirian dalam kondisi bingung dan ketakutan seperti ini bukanlah ide yang bagus.
Aku berhenti dan menahan bahu Shiela di ambang pintu. “La, kamu di sini aja, ya? Tolong jagain Mara.”
Shiela menatapku dengan raut wajah kesal tak percaya, lalu melirik ke arah Mara yang masih meringkuk di atas kasur. Tanpa merespons dengan sepatah kata pun, Shiela menepis tanganku, melangkah masuk kembali ke kamarku, dan langsung menutup pintu tanpa basa-basi.
“Nah, itu orangnya! Pasti dia yang ngumpetin anak saya!”
Teriakan itu adalah hal pertama yang menyambutku setibanya aku di lobi Bimul. Pak Tono dan Kang Cecep terlihat kewalahan menghalangi laju ibu Mara yang meronta ingin mendekat ke arahku.
“Mana Asmara?! Mana anak saya?!” cecarnya langsung dengan mata melotot marah.
“Mana saya tahu. Kan, harusnya dia sama Ibu,” jawabku, masih berusaha mempertahankan nada sopan.
“Jangan bohong, ya, kamu! Ini masalah orang dewasa!” balas ibu Mara membentak kasar.
“Dewasa apa? Mara mau dipaksa nikah? Biar suaminya nanti yang ngelunasin utang-utang Mara, begitu?!”
“Hah?!” Ibu Mara kaget, sejenak tampak kebingungan dengan seranganku. “Jadi kamu enggak tahu? Mara yang jadi bayaran utangnya! Dia bakal nikah sama rentenir yang minjemin dia uang! Tapi dia malah kabur, mentang-mentang bapaknya udah mati!”
Aku tersentak, napasku tercekat. Fakta itu menamparku dengan keras, namun entah mengapa aku tak lagi heran. Rasanya seperti ada benang kusut yang perlahan mulai bisa kuluruskan di kepalaku. Dan mengetahui kenyataan menjijikkan itu justru membuatku semakin muak menatap sosok wanita di depanku ini.