“Ibu ada apa kok tiba-tiba ke sini?” tanyaku pelan, begitu langkahku kembali masuk ke dalam kamar kos.
“Kenapa memangnya? Nggak boleh?” tanya ibuku balik dengan nada datar.
“Ya... seenggaknya kasih kabar Bara dulu kalo Ibu mau ke sini.”
“Kamu aja udah berbulan-bulan nggak ada kabar. Nggak ada surat, nggak ada telepon. Ibu enggak tahu kamu masih hidup atau nggak,” balas ibuku, dengan tenang membeberkan deretan telak kesalahanku.
Nada bicaranya sama sekali tidak meninggi, tapi sukses membuat nyaliku menciut.
“Terus... Ibu berapa lama di sini?” tanyaku hati-hati.
“Bapakmu lagi di Bekasi, ada saudara jauh yang meninggal. Paling lama tujuh hari. Pokoknya kalau Bapak jemput, ya hari itu Ibu pulang.”
“Ibu mau tinggal di sini?!”
Aku cukup kaget. Kabar bahwa Ibu akan menginap di ruangan sempit sesak ini selama seminggu ke depan bagaikan petir di siang bolong. Lalu bagaimana dengan Mara? Di mana ia harus bersembunyi sekarang? Rencanaku hancur total.
“Ya. Ada masalah?” jawab ibuku tenang, namun tatapannya seolah siap menelanjangi segala rahasiaku jika aku berani membantah.
Aku hanya diam mematung, benar-benar kehabisan amunisi jawaban. Terjebak dalam kebisuan yang menyiksa itu, aku akhirnya memilih menyerah. Tak lama kemudian, aku pamit untuk berangkat bekerja. Aku mencium punggung tangan ibuku, lalu melangkah keluar dan berjalan menuju Bimul dengan isi kepala yang semakin semrawut.
Setibanya di Bimul, Pak Tono langsung menghentikan langkahku yang terburu-buru hendak ke area belakang untuk menemui Mara. Bosku itu lantas menahan lenganku, mengajakku berbicara empat mata di ruangannya.
“Bara, gimana sih? Kok Mara ke sini? Untung aja hari ini ibunya enggak ke sini nyariin dia!” seru Pak Tono dengan nada panik sekaligus kebingungan. Ia jelas heran kenapa Mara malah kembali ke Bimul, sama sekali tidak sesuai dengan rencana yang kujelaskan kepadanya tempo hari.
Ya, memang nggak ada ibunya Mara, Pak. Tapi ada ibuku, rutukku meringis dalam hati. Tapi, untuk apa aku menjawab begitu? Itu hanya akan menambah rumit situasi.
“Kalian berantem? Ada masalah?” selidik Pak Tono, menatapku curiga.
“Ya... sedikit,” jawabku pelan, kebingungan merangkai alasan.
“Aduh, gimana sih, Bar. Mara tadi izin ke saya, katanya mau tidur di sini mulai malam ini. Saya bukannya nggak mau ngasih, tapi saya takut nggak aman,” keluh Pak Tono sambil memijat pelipisnya.
“Iya, nanti saya yang jagain, Pak,” jawabku spontan.
“Kamu mau tidur sini juga?” tanya Pak Tono balik, matanya membelalak menatapku tak percaya.
Aku hanya mengangguk lemas. Isi kepalaku sudah benar-benar buntu. Aku kebingungan setengah mati berusaha mengendalikan keadaan yang terus memburuk setiap detiknya. Rasanya, saat ini semua masalah sedang lepas dari genggamanku dan berlarian liar tak terkendali ke segala arah.
Setelah pembicaraan dengan Pak Tono usai, aku segera melangkah menuju studio lukis.
Kulihat Mara sedang duduk termenung di atas sofa butut. Sebatang rokok menyala terselip di jari tangan kanannya, dengan abu yang sudah memanjang nyaris jatuh.
Mendengar suara pintu terbuka, tatapan kosongnya sempat beralih melihat ke arahku sejenak, sebelum akhirnya kembali menunduk lesu.
Aku berjalan mendekat dan mendaratkan tubuhku duduk di samping Mara tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Perlahan, tanganku menjulur, mencoba meraih dan menggenggam tangannya.
Namun, Mara sontak berdiri tepat sebelum kulit kami bersentuhan.
“Kamu kerja gih,” ucap Mara. Kali ini ia menatap lurus ke arahku dengan sorot mata yang sulit kuartikan, lalu bergegas membuang muka dan mulai menyiapkan alat-alat kerjanya.
Ada banyak pertanyaan yang seketika berkecamuk di kepalaku. Apa barusan dia sengaja menghindariku? Atau itu hanya perasaanku saja?
Tak ingin memperkeruh suasana. Dengan dada yang terasa sesak, aku akhirnya beranjak ke luar studio lukis dan mulai melakukan pekerjaanku.
Hari itu semua berjalan lancar tanpa kendala berarti. Di sore hari, aku menemani Mara merokok di area belakang Bimul. Ia tampak hanya diam menyimak dengan tatapan kosong yang mengawang jauh. Meski ingin sekali aku menegur dan menanyakan ada apa dengannya, aku menahannya. Aku takut kalau jawabannya adalah sesuatu yang tidak akan bisa kuatasi.
Hingga malam tiba dan kami bersiap untuk menutup bioskop, aku kembali ke studio lukis untuk melihat Mara. Ia sedang merapikan alat-alat kerjanya. Mendengar langkahku, ia menoleh ke arahku dan memberikan seulas senyum.
Mungkin semua perasaan tidak enak tadi hanya perasaanku saja.
“Kamu pulang gih. Aku nginep sini dulu,” ucap Mara membuka pembicaraan.
“Aku mau nginep di sini juga, nemenin kamu,” balasku cepat.
“Buat apa? Terus, ibu kamu gimana?” Mara bertanya. Suaranya masih terdengar tenang, tetapi alisnya mulai mengernyit heran.
“Ya... takut di sini enggak aman,” jawabku singkat.
“Nggak aman kenapa? Ibuku? Ibuku nggak akan bisa ngebobol Bimul, Bar,” ucap Mara, seakan mengecilkan kekhawatiranku.
“Aku nggak mau kamu sendirian.”
“Kenapa nggak boleh sendirian? Kalau aku memang mau sendirian, gimana?” Nada bicara Mara mulai meninggi.
“Kamu kenapa sih, Mar? Dari siang tadi kamu aneh.” Aku akhirnya nekat, mencoba membuka kotak pandora di antara kami.
Mara hanya diam, tak merespons dengan sepatah kata pun.
“Ibuku ngomong apa ke kamu, sebelum aku dateng?” cecarku, terus mencoba membobol kunci pertahanannya.
“Nggak ada. Ibu kamu nggak ngomong apa-apa,” jawab Mara, berusaha menepis dugaanku dengan ketus.
“Terus, kenapa kamu kayak gini?”
“Aku capek ngeladenin kamu. Udah puas kamu?” sergah Mara, tiba-tiba nadanya berubah merendahkan.
“Aku nggak mau ngomong begini, tapi kamu maksa terus. Pokoknya aku mau sendirian. Kamu pulang sana!” lanjut Mara.
Aku hanya terdiam, menatap dalam-dalam ke wajahnya. Berbeda dengan tempo hari, kali ini Mara bukan mengusirku dengan ucapan dingin, justru penuh emosi. Jelas ada yang dia sembunyikan.
Aku langsung membalikkan badan dan berjalan ke luar meninggalkannya.
Pasti ada sesuatu yang Ibu bicarakan dengan Mara yang membuatnya terganggu. Tapi dari mulut siapa aku harus mencari tahu? Mara tampaknya menutup rapat kejadian itu. Dan ibuku? Mana mungkin aku berani menginterogasinya. Yang ada, aku malah akan membeberkan aibku sendiri.
Setibanya aku di kos malam itu, Ibu ternyata sudah tertidur. Ibuku memang bukan tipe orang yang suka terjaga larut malam tanpa alasan yang jelas.