Ketika aku sampai di kampus, kelas pertama baru saja bubar. Ya, memang sudah pasti tidak akan terkejar. Aku akhirnya hanya duduk termenung di lorong lantai tiga gedung fakultasku, menunggu kelas berikutnya yang memang akan diadakan di lantai ini.
Tak lama, Adrian dan beberapa temanku yang lain keluar dari kelas dan menghampiriku. Adrian langsung menodongku dengan pertanyaan dari mana saja aku, dan mempertanyakan keberanianku melewatkan mata kuliah salah satu dosen killer di fakultas ini.
Aku tidak bisa menjawabnya dengan lengkap, dan hanya beralasan ada urusan mendadak di tempat kerja. Sialnya, teman-temanku yang lain dengan santainya malah menanyakan apakah pacarku, Asmara, tidak akan pernah ke kampus lagi.
Tadinya, aku berniat menjadikan kampus ini sebagai pelarian dari semua masalah di Bimul yang membuat dadaku sesak, tetapi sepertinya rencana itu gagal total. Masalah itu justru mengikutiku sampai ke sini.
Adrian sepertinya bisa membaca gelagatku yang seketika berubah tidak nyaman ketika anak-anak mulai membahas Mara. Ia pun langsung berinisiatif mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Kadang, si anak setan ini bisa sangat pengertian, meskipun momen seperti itu terbilang sangat langka.
Kelas kedua hari ini akhirnya selesai. Masih ada jeda waktu sekitar empat puluh menit sebelum kelas terakhir dimulai. Adrian langsung mengajakku turun ke kantin fakultas untuk jajan dan nongkrong, dan tentu saja, tujuan utama si anak setan itu cuma satu: dia sudah kebelet merokok.
Adrian dengan santainya duduk di kursi kantin, memegang kopi di gelas plastik, lalu sengaja mengembuskan asap rokoknya tepat ke arahku. Memang kurang ajar bocah ini. Sekali-sekali rasanya perlu kujejalkan wajahnya ke depan knalpot Kopaja.
Aku memang tidak pernah suka asap rokok. Tentu saja, kecuali asap rokok Mara.
Aku mengibas-ngibaskan tanganku, mencoba menghalau asap abu-abu itu dari wajahku, sementara Adrian malah tertawa girang melihatku terbatuk kecil.
“Kalo asap rokok Asmara, pasti langsung dihirup, terus disimpen di paru-paru,” ledek Adrian tanpa dosa.
Ternyata dia memang tetaplah anak setan. Padahal tadinya aku kira dia mengerti kalau aku sedang tidak mau membicarakan Mara hari ini. Mendengar celetukan Adrian, teman-temanku yang lain kontan cekikikan.
Aku tak berniat membalas ledekan itu. Aku hanya membuang muka, menghela napas pelan, lalu tersenyum getir.
Tak lama, ada dua orang perempuan mendekat ke meja tempat kami duduk. Yang satu berambut bob cukup pendek, bergaya tomboi dengan jaket bisbol dan celana jins. Sementara temannya berambut panjang terurai melewati bahu, memakai kacamata, dan mengenakan baju polo berwarna merah muda yang dimasukkan rapi ke dalam celana jins. Wajah-wajah yang sama sekali tidak kukenal. Mungkin mereka anak jurusan lain, atau senior.
“Adrian, kapan mau balikin kaset yang kamu pinjam?” tanya si perempuan tomboi. Sementara temannya yang berkacamata hanya diam berdiri di sampingnya, mendekap tumpukan buku tebal dan sebuah map.
“Iya, Kak. Nanti aku balikin, masih aku dengerin,” jawab Adrian santai.
Kak? Oh, mereka senior rupanya. Pantas saja wajah mereka cukup asing bagiku.
"Jangan alesan melulu ah. Kapan? Yang jelas," paksa si kakak tomboi sambil menarik bangku ke samping Adrian.
Sementara itu, temannya yang berkacamata tampak melirik ke sana kemari. Dia terlihat bingung karena bangku di meja kami sudah penuh terisi. Melihat hal itu, aku langsung berdiri dan mempersilakan si kakak kacamata untuk duduk di tempatku.
Dia mengangguk pelan berterima kasih. Aku lantas beranjak menarik sebuah bangku kosong dari meja sebelah, lalu kembali dan duduk tepat di samping si kakak kacamata.
Aku, si kakak kacamata, dan teman-temanku yang lain hanya diam menyaksikan silat lidah sengit antara si kakak tomboi dan Adrian.
"Ya udah Kak Rini, aku traktir jajan deh sebagai denda telat balikin kaset," tawar Adrian, memberikan solusi dari perdebatan tiada usai mereka.
"Sekalian jajanin teman aku juga," tawar Kak Rini si tomboi.
Adrian tampak berpikir sejenak, wajahnya menunjukkan kalau ia sebenarnya tidak terima. Tapi mau bagaimana lagi, dia yang melakukan kesalahan.
"Yaa... ya udah deh," jawab Adrian pasrah sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Asyik!" seru Kak Rini senang, langsung mengambil uang dari tangan Adrian. Aku hanya tertawa kecil melihat Adrian diperas senior. Akhirnya pembalasan langit telah tiba untuk anak setan ini.
"Kamu mau apa, Bun?" tanya Kak Rini sambil berdiri.
Bun? Bunda? Si kakak kacamata ini ibunya Kak Rini? Ya mana mungkin lah, Bara bodoh.
"Apa aja deh," jawab kakak kacamata singkat.
"Oke, yang paling mahal aja ya, biar nggak ada sisa," usul Kak Rini. Sementara Adrian kaget sampai mulutnya menganga. Aku puas sekali melihat raut wajah Adrian saat ini.
Adrian menyandarkan kepalanya di kursi, seolah kelelahan setelah "kekalahan" telak tadi. Dia menarik rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya menyebar ke udara. Aku melirik sedikit ke arah si kakak kacamata. Perempuan itu tampak menutup hidungnya dengan tangan, sesekali mengibaskannya untuk mengusir asap.
Tanpa berpikir panjang, kakiku di bawah meja langsung mencari kaki Adrian dan menginjaknya keras-keras. Adrian langsung menatapku dengan kesal. Aku balas memberi isyarat agar ia melihat ke arah si kakak kacamata dengan gerakan daguku.
"Eh, maaf, Kak," ucap Adrian setelah melihat bahasa tubuh seniornya itu, lalu buru-buru mematikan rokoknya di asbak.
"Makasih ya," ucap kakak kacamata tanpa menoleh ke arahku atau Adrian. Entah ucapan itu ditujukan untukku—karena sudah menyelamatkannya dari kepulan asap—atau untuk Adrian yang akhirnya mematikan rokok.
Tak lama kemudian, Kak Rini kembali dengan membawa dua mangkuk mi ayam bakso ukuran jumbo. Rupanya Kak Rini benar-benar tidak bercanda soal memesan menu termahal. Sebagai mahasiswa pas-pasan, biasanya aku hanya memesan mi ayam saja atau bakso saja tanpa digabung. Tidak lama berselang, abang tukang minuman datang mengantar dua gelas es teh manis. Total harga jajanan mereka berdua bahkan cukup untuk biaya makanku selama setidaknya tiga hari.
"Aku kayaknya kebanyakan deh," kata si kakak kacamata kaget saat melihat porsi makanan di mangkuknya yang cukup banyak.
"Nggak apa-apa, nanti dihabisin sama temennya Adrian," jawab Kak Rini santai sambil melirik ke arahku.
"Ih, nggak sopan ngasih makanan sisa," balas kakak kacamata setelah melirik sekilas ke arahku yang hanya diam mematung, bingung harus bersikap bagaimana.
Si kakak berkacamata makan dengan suapan yang sangat kecil. Sesekali ia menutupi mulut dengan sebelah tangan agar tidak terlihat oleh kami—segerombolan laki-laki pemalas berwajah suram.
Sementara itu, Kak Rini makan dengan sangat lahap, persis seperti orang yang baru saja selesai membangun Monas seorang diri. Kak Rini tentu saja menyelesaikan makanannya lebih dulu. Ia lalu menenggak es teh manis sampai hampir tandas, sebelum meledakkan sendawa yang cukup keras dari mulutnya.
Benar-benar seorang kuli Monas.
"Adrian, kenalin teman-teman kamu dong," pinta Kak Rini.