Malam itu, aku ingin sekali kembali ke Bimul, bertekuk lutut memohon maaf pada Mara, tapi ibuku melarangku keluar.
“Besok aja,” pinta ibuku singkat saat aku sudah bergegas menuju pintu.
Dan nasihat Ibu mungkin ada benarnya. Mungkin Mara dan aku membutuhkan waktu untuk memproses apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Aku juga perlu merangkai permintaan maafku pada Mara dengan baik, agar tak ada lagi kesalahan.
Tak bisa tidur, kepalaku kembali dipenuhi oleh Mara. Saat aku memperhatikan sekitar, ternyata kamarku tertata sangat rapi. Barang-barangku Ibu rapikan sedemikian rupa, dan barang-barang Mara juga ikut dirapikan di sisi lain kamar, membuat ruang kosku ini terasa lebih lega.
Bodohnya aku, berpikir bisa membohongi ibuku.
Sementara Ibu tertidur dengan nyenyak, aku malah baru menyadari kalau aku melupakan satu pertanyaan penting: apa yang Ibu katakan di Bimul siang tadi sampai membuat Mara menangis sesenggukan?
Pagi itu Ibu kembali membangunkanku. Sarapan sudah disiapkan. Aku mencuci muka dan menyikat gigi, lalu kami sarapan bersama.
"Kemarin Ibu telepon bapakmu. Ibu minta dijemput nanti sore," ibuku mengabari perubahan rencana.
"Loh, Bapak belum mau pulang, kan? Masih di Bekasi?" tanyaku cukup bingung.
"Iya, Ibu nginep di rumah sana aja bareng Bapak, sekalian bantu-bantu di sana," jawab ibuku tenang. Aku hanya mengangguk terdiam.
Setelah menyelesaikan kegiatan pagiku, aku pamit pada Ibu untuk berangkat kerja ke Bimul. Aku mencium tangan ibuku untuk pamit, dan Ibu mengantarku sampai ke ambang pintu.
"Bara," panggil ibuku.
Aku menoleh.
"Kamu sudah besar, tapi jangan cuma besar badan. Kamu harus dewasa juga."
Aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
"Jangan kecewain Ibu dan Bapak ya, Nak. Jangan bikin kami menyesal mengizinkan kamu ke sini," lanjut ibuku.
Ya, itulah gaya mendidik ibuku. Dia tidak memarahiku secara meledak-ledak, melainkan selalu mengingatkanku bahwa aku punya tanggung jawab besar sebagai seorang anak.
Tanpa ragu, aku langsung memutar badan dan memeluk ibuku.
"Maafin Bara ya, Bu," ucapku di dalam pelukan Ibu. "Bara nggak bisa janji apa-apa. Tapi Bara akan berusaha sekuat tenaga."
Ibu menepuk punggungku pelan. Setelah melepaskan pelukan itu, aku memantapkan hati dan melanjutkan langkahku menuju Bimul.
Sesampainya di Bimul, Pak Tono langsung memperkenalkan anggota baru kami, Pak Rio, yang akan bertugas sebagai security di Bimul.
“Ya, kalau melihat kejadian belakangan ini, rasanya memang perlu,” jelas Pak Tono saat memperkenalkan Pak Rio kepada kami di ruang rapat.
Badannya besar dan berotot, rambutnya dipotong cepak tipis, dengan garis wajah yang tegas. Dari penampilannya saja, aku langsung merasa orang ini bukan tipe yang gampang diajak bercanda.
“Pak Rio akan ada di sini dua puluh empat jam, tapi jam kerjanya dari Bimul buka sampai tutup. Liburnya nanti diatur, setiap minggu dapat jatah satu hari, tapi bukan Sabtu atau Minggu. Saya juga sudah menyiapkan ruangan untuk istirahat,” lanjut Pak Tono. Ternyata, Pak Tono sudah menyulap gudang di samping studio lukis menjadi kamar kecil untuk security baru ini.
Aku melirik ke arah Mara. Ia tampak hanya menunduk, sepertinya merasa bersalah karena menganggap dirinya sebagai penyebab Bimul harus menyewa jasa security. Tapi aku justru lebih khawatir memikirkan posisi studio lukis dan kamar Pak Rio yang berdampingan. Kalau malam hari Mara terpaksa menginap di Bimul, itu berarti hanya akan ada mereka berdua di bangunan ini.
Lagi-lagi, pikiranku kembali kusut.
Pak Tono memperkenalkan kami satu per satu—ada aku, Mara, Shiela, dan Bu Marni—lalu mengajaknya berkeliling. Aku benar-benar tidak bisa menebak isi pikiran Pak Rio. Raut wajahnya sama sekali tidak berubah. Datar sekali.
“Nanti ada satu karyawan lagi, Asep, biasa dipanggil Cecep. Dia masuk siang menggantikan Bara,” jelas Pak Tono.
“Siap, Pak!” jawab Pak Rio tegas.
Aku jadi bingung. Sebenarnya Pak Rio ini security atau tentara? Sikapnya kaku sekali.
Setelah perkenalan itu, kami kembali memulai aktivitas seperti biasa. Pak Rio berjaga di depan lobi—tepat di tempat sebuah meja dan kursi kayu sudah disediakan untuknya—sambil sesekali berpatroli ke area belakang. Aku diam-diam memperhatikan gerak-geriknya sambil menyapu lobi.
Biasanya, area belakang adalah teritorial milikku dan Mara. Karyawan lain memang hanya pergi ke sana kalau ada perlu. Tapi sekarang, aku harus selalu waspada terhadap setiap pergerakan Pak Rio.
Akhirnya pekerjaanku selesai. Aku bergegas menuju studio lukis.
Mara, Mara, Mara.
Hanya itu yang memenuhi pikiranku pagi ini. Aku membuka pintu studio lukis itu, mantap bersiap meminta maaf atas kesalahanku. Tapi, pemandangan di dalam malah membuat hatiku kalut.
Pak Rio dan Mara sedang tertawa bersama. Pak Rio tampak berdiri di belakang Mara yang sedang melukis.
Apa-apaan ini! Masa bapak-bapak ini menjadi sainganku?
“Ada apa, Bar?” tanya Mara setelah sisa tawanya mereda.
“Nggak, mau bersihin studio ini aja,” jawabku, sekadar mencari alasan.
“Tumben,” cetus Mara dingin.
Apa sih? Memangnya aku nggak boleh ke sini tanpa alasan? Aku masih pacarmu, kan?
Ingin sekali aku berteriak begitu. Namun, sudah pasti hal itu hanya akan memperburuk keadaan.
“Ya sudah, Mara, saya balik ke depan dulu,” izin Pak Rio kepada Mara.
Dia sudah memanggil Mara dengan namanya saja, tanpa embel-embel Dek atau Mbak. Aku tahu betul, pasti itu permintaan Mara. Tapi hatiku tetap saja jengkel mendengar keakraban mereka yang terjalin secepat itu.
“Mari, Mas Bara,” sapa Pak Rio sambil melangkah pergi melewatiku.
Kini hanya ada aku dan Mara. Aku lekas duduk di sofa sambil menyandarkan punggung.
"Ketawain apa sama Pak Rio? Seru banget," sindirku.
Bodoh memang diriku ini. Padahal jelas-jelas tadi tujuanku untuk meminta maaf, sekarang aku malah mengusik singa yang sedang tenang.
"Kamu mau apa ke sini?" Mara malah balik bertanya dengan nada dingin.
"Sekarang kalau mau ketemu kamu harus ada alasannya?" tanyaku balik.