Pagi itu, suara mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan kamar kosku. Tak lama kemudian, disusul oleh suara ketukan beruntun di pintu.
“Bar, ayo, Bar! Udah siap belum?” suara Adrian terdengar berseru dari luar.
Mara membukakan pintu, menyambut kedatangan Adrian dan mempersilakannya masuk dulu sembari menungguku yang masih berada di dalam kamar mandi.
“Eh, Asmara. Nginep sini? Ikut, kan? Bara mana?” tanya Adrian beruntun.
Mara hanya menunjuk ke arah kamar mandi. Dari dalam, terdengar suara air bergemericik saat aku sedang mengguyur tubuhku.
“Ya udah, aku tunggu di mobil aja,” pungkas Adrian.
Setelah itu, Mara mengetuk pintu kamar mandi, memintaku untuk mandi lebih cepat. Aku hanya berteriak mengiyakan dari dalam.
Begitu selesai dan keluar dari kamar mandi, aku seketika terpaku melihat Asmara yang sudah siap berangkat.
Cantik sekali.
Rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai, dibelah tengah hingga memperlihatkan keningnya yang bersih. Ada yang berbeda dengan wajahnya hari ini.
Mara pakai make up? Warna bibirnya juga tampak agak merah. Lipstik? Tumben sekali.
Mungkin ini adalah kali pertama aku melihat Mara tampil dengan riasan secantik ini—bahkan rasanya jauh lebih cantik dibandingkan saat kami pergi kencan ke taman bunga waktu itu. Kenapa, ya? Entahlah, tapi aku jelas tersipu dan tak bisa mengalihkan pandangan melihat pacarku secantik ini.
“Udah, sana pakai baju. Jangan ngeliatin aku mulu. Udah ditungguin Adrian, tuh,” tegur Mara membuyarkan lamunanku. Ia mendorong bahuku ke arah lemari.
Aku baru tersadar kalau aku masih berdiri mematung hanya dengan lilitan selembar handuk di pinggang.
“Aku tunggu di luar, ya,” ucap Mara santai, lalu berlalu ke luar kamar.
Aku buru-buru bergegas mengenakan pakaian.
Aku nggak boleh membiarkan Mara berada di luar bersama Adrian terlalu lama. Bisa-bisa si anak setan itu ngomong yang nggak perlu soal aku!
Setelah siap, aku bergegas keluar. Aku melihat sebuah mobil sedan terparkir. Mara dan Adrian sedang merokok di sampingnya, sudah terlihat persis seperti teman nongkrong.
“Come on! Let’s go!” seru Adrian sambil menggerakkan tangannya, menyuruhku bergegas masuk ke mobil.
"Mobil siapa ini?" tanyaku.
"Bokap," jawab Adrian santai.
Ternyata si anak setan ini anak orang tajir. Padahal kalau ke kampus dia selalu naik kendaraan umum atau nebeng motor teman SMA-nya yang satu kampus dengan kami.
Kami pun segera masuk ke dalam mobil.
“Kurang ajar ya lu, Bar. Masa lu duduk di belakang? Emangnya aku supir? Sini di depan!” Adrian belum apa-apa sudah melayangkan protes.
“Ogah, ah. Aku mau duduk di samping Mara. Nanti Kak Rini aja yang di depan,” tolakku tegas.
Mara hanya senyum-senyum melihat perdebatanku dengan Adrian, sementara Adrian tampak kesal karena aku menolak duduk di sebelahnya dan malah asyik berpegangan tangan dengan Mara di bangku belakang.
Akhirnya Adrian pasrah dan tidak mengganggu kami lagi. Sekitar sepuluh menit melaju dari kosanku, Adrian tiba-tiba menepikan mobilnya di pinggir jalan.
“Bar, jemput Kak Rini gih. Kosannya di gang itu,” ucap Adrian sambil menunjuk ke arah gang kecil di seberang jalan.
"Nggak, ah. Kenapa nggak kamu aja?" tolakku.
"Nanti lama dengerin dia ngomel dulu," kilahnya.
Setelah perdebatan alot, akhirnya aku menyerah. Aku terpaksa turun berjalan kaki menjemput Kak Rini. Rumah biru dengan pagar hitam—begitulah ciri-ciri kosan Kak Rini yang diberikan Adrian.
"Permisi! Permisi!" seruku agak kencang saat menemukan rumah yang cocok dengan ciri-ciri tersebut.
Tak lama kemudian, Kak Rini keluar. Kak Rini juga terlihat cantik hari ini. Ia mengenakan kaus tanpa lengan yang dimasukkan ke dalam celana gombrang berwarna hitam, sementara tangan kirinya dengan santai menenteng jaket yang disampirkan di bahu.
“Eh, Bara. Come on,” ucap Kak Rini saat melihatku, lalu ia langsung berjalan mendahuluiku.
Entah kenapa hari ini jadi banyak orang sok Inggris. Tadi Adrian, sekarang Kak Rini.
Sambil berjalan, aku dan Kak Rini mengobrol soal kaset apa yang akan kami buru hari ini, serta alasan kenapa malah aku yang harus menjemputnya ke dalam dan bukan si pelaku utama, Adrian.
Saat kami sudah hampir keluar dari mulut gang, mobil Adrian sudah terlihat. Adrian dan Mara rupanya sedang berdiri di luar mobil, tertawa lepas bersama.
Aibku yang mana lagi yang diceritakan si anak setan itu ke Mara kali ini?
“Itu kakak cantik siapa, Bar? Kakaknya Adrian?”mata Kak Rini tertuju pada Mara dan Adrian yang sedang tertawa bersama.
“Bukan, itu pacarku, Asmara,”
“Itu pacar kamu?” tanya Kak Rini dengan nada ragu seakan tak percaya.
“Iya, yang waktu itu disebut Adrian.”
“Oh, beneran belum putus? Hmm… berat nih,” gumam Kak Rini menutup kalimatnya.
Apa coba maksudnya "berat nih"? Entahlah, tak terlalu kupikirkan.
Setelah kami menyeberang jalan, Kak Rini langsung kuperkenalkan dengan Mara. Tentu saja, adegan manis itu tak berlangsung lama karena setelahnya Kak Rini langsung memarahi Adrian dengan bahasa yang “sopan”.
Kami segera masuk ke dalam mobil. Kak Rini duduk di bangku depan di samping Adrian, membuat si anak setan itu makin terpojok dan berkeringat dingin. Sementara itu, aku kembali duduk di belakang di samping Mara.
Kami melanjutkan perjalanan. Namun, setelah sekitar dua puluh menit berlalu, Adrian malah membelokkan mobilnya masuk ke sebuah kawasan perumahan.
Mau apa lagi?
“Kita mau ke mana?” aku heran.
“Kita jemput Embun dulu, Bar,” jawab Kak Rini santai.
“Kak Embun ikut?” tanyaku kaget, karena aku sama sekali baru tahu soal ini.
“Iya, pas aku ceritain kalau hari ini kamu juga ikut, dia tiba-tiba minta ikut juga. Eh…,” jawaban Kak Rini mendadak terpotong. Ia tampak tersentak dan langsung menutup mulut rapat-rapat dengan sebelah tangannya, menyadari kecerobohannya barusan.
Adrian sontak melirik dengan mata membelalak lebar ke arah Kak Rini. Aku bisa melihat pantulan ekspresi ngerinya dengan sangat jelas dari kaca spion tengah.