Minggu pagi, aku sedang sibuk menyapu lobi Bimul, sementara Mara sudah berada di dalam studio lukis. Meski tanganku bergerak membersihkan lantai, pikiranku masih terus melayang pada buku itu.
Apa benar Mara membelikannya untukku?
Kalau iya, kenapa belum juga dia berikan padaku?
Dari semalam hingga pagi ini, tak ada tanda-tanda ia akan menyerahkan apa pun. Kantong plastik hitam misterius itu justru menghilang entah ke mana. Sepertinya sengaja disembunyikan oleh Mara.
"Bara, sini," panggil Pak Tono sambil melambaikan tangan, memintaku mendekat.
Aku segera menghentikan sapuanku dan menghampirinya.
"Kamu harus hati-hati ya, Bar. Bang Codet udah bebas, ditebus keluarganya," bisik Pak Tono dengan raut wajah serius.
Mendengar nama itu, jantungku rasanya seperti copot. Bagaimanapun juga, akulah penyebab utama preman jalanan itu ditahan polisi.
Kalau sedang berada di dalam Bimul, aku sebenarnya tidak terlalu takut. Apalagi sekarang sudah ada Pak Rio. Tapi yang membuatku khawatir dan mendadak berkeringat dingin adalah satu hal: Bagaimana kalau dia merencanakan sesuatu di luar Bimul?
Menjelang siang, suasana Bimul mendadak sibuk sekali. Pengunjung membeludak, bahkan Mara sampai harus ikut membantu Shiela di loket. Sementara itu, Pak Rio harus turun tangan membantuku mengatur lalu lalang pengunjung di depan.
Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba Bu Marni memanggilku masuk ke ruang kantor. Ternyata ada telepon masuk dari bapakku.
“Nak, apa kabar?”
Suara Bapak yang sudah lama tak kudengar langsung mengalun di seberang sana.
“Baik, Pak. Sudah di kampung, Pak?” tanyaku.
“Belum, Nak. Nanti malam kami baru pulang.”
“Hati-hati ya, Pak.”
“Kamu juga ya, Nak.” Seketika Bapak terdiam sebentar di ujung telepon. “Kamu lagi ada masalah, ya?” tanya Bapak tiba-tiba, sukses membuatku kaget.
“Nggak kok, Pak. Memangnya kenapa?”
“Ibu semenjak pulang dari tempat kamu beberapa kali nangis. Kalau Bapak tanya, selalu jawab nggak apa-apa.”
Aku hanya diam. Tak punya jawaban atas ucapan Bapak. Hatiku ngilu membayangkan Ibu menangis situasiku.
“Jangan maksain diri ya, Nak. Kalau terlalu berat di Jakarta, pulang ke rumah. Bapak dan Ibu nggak akan marah,” ucap Bapak pelan, mengakhiri pesannya untukku.
Tanpa sadar, air mataku berlinang. Hangatnya suara Bapak menembus ruang, meresap langsung ke dalam hatiku.
“Nggih, Pak,” jawabku pelan dengan suara sedikit bergetar.
“Nanti Bapak telepon lagi pas ulang tahun kamu, ya.”
Bapak pun menutup pembicaraan.
Aku tertegun sejenak, lalu lekas menoleh melihat ke arah kalender dinding di ruang kantor. Ternyata, ulang tahunku memang sebentar lagi! Aku sampai sama sekali lupa karena kesibukan dan beragam hal yang terjadi bertubi-tubi belakangan ini.
Ah, jangan-jangan Mara memang sengaja mau menjadikan buku itu sebagai hadiah ulang tahun untukku?
Aku buru-buru menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
Jangan kepedean kamu, Bara.
Hari Minggu berjalan seperti biasa tanpa masalah, selain jumlah pengunjung yang cukup membeludak. Malam harinya, aku dan Mara sama-sama kelelahan dan langsung tertidur lelap.
Hari Senin tiba, dan tampaknya belum ada tanda-tanda Mara akan memberikan buku itu. Sepertinya tebakanku benar, buku itu sengaja disimpan untuk hadiah ulang tahunku di hari Rabu nanti.
Menyadari hal itu, aku jadi sadar kalau aku harus sudah mulai memikirkan akan memberi hadiah apa untuk ulang tahun Mara nanti. Syukurlah aku masih bisa bernapas lega karena ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi. Tapi tetap saja, aku harus bersiap dari sekarang.
Pagi hari di kampus, aku dan teman-temanku sedang berdiri menunggu dosen di depan kelas. Adrian belum datang. Senin pagi memang sudah jadi jadwal rutinnya untuk bangun kesiangan.
Tiba-tiba, ada seseorang yang melambaikan tangan dari balkon seberang. Kak Embun.
Ah, kelasnya di lantai ini juga rupanya.
Aku pun membalas lambaian tangannya sekadar untuk membalas sapaannya dengan sopan. Namun, bukannya diam di sana, ia malah berjalan menghampiri ke arahku.
“Dosen kamu juga belum datang?” tanya Kak Embun yang kini sudah berdiri di depan kelasku. Beberapa teman sekelasku mulai mencuri pandang ke arah kami.
“Iya, nih,” jawabku singkat.
“Sama dong, kayaknya dosen-dosen lagi ada rapat, deh,” ucap Kak Embun lagi.
Beberapa teman perempuanku kemudian melambaikan tangan dan menyapa Kak Embun. Sepertinya mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Sementara aku sendiri justru baru mengenal Kak Embun belakangan ini. Aku memang jarang berkeliaran di kampus dan sama sekali tidak ikut UKM atau organisasi kemahasiswaan apa pun. Jadi, bisa dibilang aku ini memang agak kurang pergaulan.
“Nanti Kamis pengumuman lolos berkas, lho, Bar.”