Kelas terakhir hari ini akhirnya selesai. Sepanjang jam kuliah, otakku masih saja dipenuhi rasa penasaran dengan kata-kata Adrian di kamar mandi tadi siang: jadian dengan Kak Rini karena diancam.
Lalu bagaimana nasib pendekatannya dengan Sukma? Padahal setahuku, mereka berdua sudah kencan beberapa kali.
“Gagal total,” jawab Adrian lemas saat aku kembali mencecarnya dalam perjalanan kami menurunu tangga kampus.
Lalu bagaimana ceritanya si anak setan ini bisa sampai jadian dengan Kak Rini?
“Gara-gara kaset sialan! Kak Rini nggak percaya gue bakal beneran nyari gantinya. Jadi dia bilang, selama kaset itu belum ketemu, gue harus jadi pacarnya.”
Mendengar itu, aku harus menahan diri mati-matian agar tidak tertawa meledak di depannya. Meskipun Adrian jelas-jelas terlihat terpaksa dan menderita, tapi rasanya bisa menjadi pacar seorang Kak Rini itu adalah sebuah jackpot. Kak Rini itu sebenarnya sangat cantik. Gaya tomboinya selama ini memang membuat dia terasa garang dan tak tersentuh, tapi justru hal itulah yang menambah pesona dan daya tariknya.
“Itu sih emang lu aja yang seleranya liar kayak gitu! Aku tuh sukanya yang ayu-ayu, yang kalem!” bantah Adrian sewot, lagi-lagi menepis sudut pandang positifku dengan wajah merengut.
Baru saja kami melangkah keluar dari pintu gedung fakultas, Kak Rini rupanya sudah berdiri di sana menunggu Adrian. Ia langsung melambaikan tangan, persis layaknya seorang kekasih yang sedang menunggu pujaan hatinya untuk pulang bersama.
Melihat itu, Adrian sontak mengambil napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan berat, lalu berjalan gontai mendekati Kak Rini yang menyambutnya dengan senyum semringah.
Menurut firasatku, sepertinya Kak Rini ini memang beneran menyukai Adrian. Hanya Adrian saja yang terlalu bodoh dan tidak peka.
Tak lama, Kak Rini berpamitan kepadaku, seolah meminta izin untuk mengambil Adrian dariku agar mereka bisa pulang berdua.
Aku, layaknya seorang bapak-bapak yang merestui hubungan putranya, membalas pamitan itu dengan hanya melambaikan tangan penuh rasa bangga dan senyum tertahan. Sementara itu, saat ditarik pergi oleh Kak Rini, Adrian menyempatkan diri menoleh ke arahku dengan raut wajah memelas yang seolah bertuliskan huruf S.O.S besar-besar.
Kejadian konyol di kampus itu langsung kuceritakan kepada Mara setibanya aku di Bimul untuk masuk bekerja.
Mendengar ceritaku, Mara tertawa lepas karena tidak menyangka. Ia yang sedari tadi sedang asyik melukis di studio sampai harus menghentikan gerakannya sejenak hanya untuk menghabiskan sisa tawanya.
“Kalau Embun? Kamu tadi ketemu Embun, nggak?” Tiba-tiba arah pembicaraan Mara melenceng.
Entah kenapa ia malah menanyakan Kak Embun, padahal ceritaku soal Adrian dan Kak Rini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan seniorku itu.
Aku akhirnya hanya bercerita secukupnya saja—bahwa tadi kami sempat ke perpustakaan dan aku dipinjami buku oleh Kak Embun. Aku lalu mengeluarkan kedua buku tersebut dari dalam tasku untuk kutunjukkan padanya.
“Oh, Embun udah punya pacar?” Lagi-lagi, topik Mara melompat ke sana kemari.
“Bukan, dia lagi dikejar mantannya yang maksa minta balikan.” Itu adalah penjelasan singkat dariku dengan harapan bisa segera mengakhiri topik tentang Kak Embun ini.
Namun, alih-alih berhenti, Mara justru memperpanjang topik soal mantan yang memaksa balikan itu. Dengan nada ketus, ia bilang ia sangat benci pada laki-laki yang terus-terusan meminta balikan setelah diputuskan, apalagi sampai memaksa.
Entah kenapa, mendengar rentetan kalimat Mara, aku merasa seperti sedang tersindir.
“Kalau demi balikan sama kamu, aku malah bisa lakuin hal yang lebih nekat lagi dari mantannya Kak Embun,” cetusku spontan, sedikit defensif.
Mara sedikit kaget. Gerakan tangannya yang baru saja kembali menyapu kanvas, kini terhenti lagi.
“Itu namanya kamu nggak bisa menghormati keputusan orang lain, Bar,” balas Mara dengan nada yang tiba-tiba berubah tajam.
Ya masa bodoh. Kalau aku masih suka dan sayang, ya jelas aku nggak akan pernah mau putus.
Aku akhirnya hanya diam, menelan kembali sisa bantahanku.
Kenapa tiba-tiba obrolan santai ini mendadak berubah jadi sangat serius dan tegang begini, sih?
Setelah beberapa kali saling membantah satu sama lain, akhirnya ruangan studio kembali dikuasai sunyi. Di tengah keheningan itu, tiba-tiba saja pikiranku melayang pada sosok ibu Mara yang belakangan ini sudah tak pernah lagi terlihat mengintai di sekitar Bimul.
Apa dia benar-benar sudah puas hanya dengan mengetahui kalau Mara masih bersembunyi di sini? Lalu, apa kira-kira langkah ibu Mara berikutnya?
Aku tiba-tiba jadi kepikiran. Rasanya ingin sekali aku menanyakan hal itu langsung kepada Mara, tapi niat itu lekas kuurungkan karena aku takut pertanyaanku malah hanya akan menambah beban pikirannya.
Aku akhirnya memilih beranjak dari posisiku, berjalan pelan mengelilingi studio dan melihat ke sana kemari, sementara Mara masih sibuk memulaskan cat pada reklame yang sedang ia lukis.
Langkahku terhenti di satu sudut.