Rabu pagi itu, aku terbangun oleh sebuah kecupan hangat dan bisikan ucapan selamat ulang tahun dari Mara. Dengan cepat aku memasang senyum, membuat raut wajahku berubah cerah, meski sejujurnya hatiku terasa sangat berat untuk sekadar berbahagia.
Sebelum bersiap berangkat, aku meminta Mara untuk datang ke kampusku siang nanti— memenuhi todongan traktiran dari Kak Rini. Kuberitahu bahwa teman-temanku berencana merayakan ulang tahunku kecil-kecilan di tempat nongkrong dekat kampus.
Mara mengiyakan ajakanku sambil tersenyum lembut, lalu membelai kepalaku perlahan.
Aku hanya ingin lebih banyak melibatkan Mara dalam setiap detik sisa waktu kami.
Rasanya berat sekali hatiku untuk pergi meninggalkannya ke kampus hari ini. Tapi aku teringat peringatan keras Shiela kemarin; aku tidak boleh bertingkah aneh yang bisa membuat Mara curiga. Meski begitu, sepertinya keenggananku untuk beranjak dan tatapan mataku yang sendu sudah terbaca olehnya. Saat Mara mengantarku ke pintu dan melepasku pergi dengan sebuah kecupan di kening, aku lagi-lagi tak kuasa menahan diri dan langsung mendekapnya erat.
“Udah, nanti kamu telat,” tegur Mara halus, perlahan mengurai tanganku yang mengunci tubuhnya.
Dengan langkah gontai dan sisa-sisa berat hati, aku pun terpaksa pergi ke kampus.
Sepanjang hari, materi kuliah yang silih berganti sangat sulit kuperhatikan dengan saksama. Pikiranku terus-menerus melayang tertinggal di pelukan Mara. Hingga akhirnya, kelas terakhir hari itu pun selesai.
Begitu aku melangkah keluar, sayup-sayup kudengar lagi desas-desus dan keramaian obrolan mahasiswa tentang kehadiran sesosok perempuan cantik di lobi fakultas. Mendengar itu, aku tersenyum tipis. Kali ini, aku sudah bisa menebak dengan pasti siapa penyebabnya.
Mara sudah datang.
Aku dan Adrian segera menuruni tangga menuju lobi fakultas untuk menyambut Mara. Sesampainya di bawah, langkahku sempat terhenti. Ternyata di sana sudah ada Kak Rini dan Kak Embun. Mereka bertiga tampak sedang berdiri berbincang, entah topik apa yang sedang mereka bahas.
Dari kejauhan, Mara tampak sangat cantik dengan gaya kasual andalannya. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak merah hitam yang kancingnya dibiarkan terbuka, dengan bagian lengan yang digulung sebatas siku hingga memperlihatkan ukiran tinta indah di lengan kirinya. Di baliknya, ia memakai kaus hitam ketat tanpa lengan, dipadukan dengan celana jins biru pudar yang robek di bagian lutut.
Entah berapa kali lagi aku bisa melihat langsung sosok bidadariku ini, sebelum nantinya semua ini hanya akan bisa kuputar di dalam ingatanku.
Lagi-lagi, dadaku sesak dan rasanya aku ingin menangis. Aku mengatupkan rahang kuat-kuat, menarik napas dalam-dalam untuk menahan perasaan dan luapan air mata yang mendesak di pelupuk mataku.
Tiba-tiba, Mara menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya dengan senyuman yang begitu hangat.
Melihat senyum itu, rasanya aku ingin segera berlari, melompat ke dalam dekapannya, dan mati saja di sana saat ini juga. Agar hari esok tak perlu lagi repot-repot mengunjungiku.
Di tangan kanannya, Mara tampak menenteng sebuah kantong plastik berisi sesuatu berbentuk persegi yang telah dibungkus rapi dengan kertas kado. Meski aku sudah bisa menebak apa isinya, aku bertekad untuk bersikap seolah tak tahu apa-apa.
Kami akhirnya mulai berjalan meninggalkan lobi fakultas, mengekor di belakang Kak Rini layaknya sekelompok serigala yang sedang mengikuti sang alpha. Bedanya, si alpha yang satu ini memimpin jalan sambil menggandeng erat tangan si beta—alias Adrian, cowok malang yang kini berstatus sebagai pacarnya itu. Pemandangan yang benar-benar aneh dan konyol.
Sementara Kak Embun berjalan sendirian di belakang mereka berdua, aku dan Mara mengikuti di posisi paling belakang.
Tangan kami terus bertautan erat.
Sepanjang jalan, aku tak bisa berhenti menatap wajah Mara dari samping. Pandanganku terus terpaku padanya seolah ia akan menghilang detik itu juga, sampai-sampai Mara harus berkali-kali mendorong daguku dengan telunjuknya, memutar paksa wajahku agar aku kembali melihat lurus ke depan.
“Silakan pesan apa saja, yang penting murah,” aku mengumumkan setibanya kami di sebuah kedai roti bakar rekomendasi Kak Rini.
“Wuuuu!” serempak para manusia tidak tahu terima kasih itu berteriak memprotes.
“Nanti kalau kurang, aku tambahin,” bisik Mara di telingaku.
Aku segera menoleh kepadanya.
“Makasih, Sayang,” ucapku lembut, kemudian spontan mengecup pipinya.
“Gila! Bara gila! Nggak tahu malu, lu!” suara Adrian terdengar tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sementara Kak Rini dan Kak Embun hanya diam terpaku.
Tak lama, pahaku terasa perih. Sebuah empos mendarat telak dari tangan Mara di bawah meja—cubitan keras yang langsung membuatku mengaduh pelan sambil memohon ampun.
Mara tampak kesal, tetapi wajahnya memerah menahan malu.
Sayang sekali. Mau dicubit atau di-empos berapa kali pun, itu nggak akan membuatku kapok.
“Oh iya, harusnya Adrian sama Kak Rini ikut bayar, dong. Kalian kan baru jadian.” Aku menyambar tanpa rem.
Wajah Kak Rini memerah. Ia langsung menundukkan pandangan, menatap ujung meja. Sementara itu, Adrian berusaha menembakkan laser dari matanya ke arahku. Kak Embun tampak menahan tawa. Sepertinya dia sudah tahu. Sudah pasti Kak Rini menceritakan semuanya kepada teman dekatnya itu.
“Nanti aja. Sekarang ulang tahun Bara dulu,” Adrian buru-buru menepis permintaanku.
Aku hanya tertawa puas melihat wajahnya yang semakin tertekan.
Setelah makan dan bercanda tak karuan, Kak Rini mendadak mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Maaf ya, nggak dibungkus,” ujarnya sambil menyodorkan sebuah kaset pita.
I Will Always Love You - Whitney Houston.
Dalam hati, aku bertanya-tanya, dari mana Kak Rini tahu kalau aku sedang menyukai dan mendengarkan lagu-lagu barat?
“Waktu nyari kaset hari Sabtu kemarin, Adrian bilang kamu sebentar lagi ulang tahun. Jadi sekalian aku beliin.” lanjut Kak Rini, menjawab kebingunganku.
Oh, jadi dari situ awal mula berita ulang tahunku bisa tersebar. Aku senang sekali menerimanya, tapi sayangnya aku tidak punya radio atau tape player untuk memutar kaset tersebut. Mungkin setelah ini aku harus mulai menabung.
“Makasih ya, Kak Rini,” ucapku tulus. Kak Rini hanya mengangguk singkat.
“Nih, dari aku,” giliran Adrian yang bersuara sambil meletakkan sebuah benda di hadapanku.
Aku langsung mengenalnya begitu melihat bentuknya. Itu adalah walkman yang sering ia pakai dan bawa ke kampus—bahkan aku sudah pernah beberapa kali meminjamnya. Sialan. Walkman bekas dijadikan kado ulang tahun? Dasar anak setan ini!