Satu hari telah berlalu. Aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah maupun bekerja ke Bimul. Tubuhku memang masih memar dan nyeri di beberapa bagian, meskipun sebenarnya aku masih sanggup beraktivitas seperti biasa. Namun, entah kenapa rasanya enggan sekali meninggalkan kamar kosku yang sempit ini.
Mungkin, jauh di lubuk hatiku, aku sedang mencoba memancing simpati. Mencari perhatian dari Mara, tepatnya. Aku ingin terlihat menyedihkan agar dikasihani dan tak perlu repot-repot meminta maaf atas tingkah gilaku tempo hari.
Shiela sempat datang kemarin siang, tepat setelah semalam aku dihajar habis-habisan oleh Bang Codet. Ia tampak terkejut melihat keadaanku yang babak belur. Tapi aku segera meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa dan hanya butuh istirahat. Aku memintanya menyampaikan izin absensku kepada Pak Tono.
Meski sejujurnya, diam-diam aku berharap berita tentang keadaanku akan sampai ke telinga Mara, lalu ia luluh dan datang menjengukku karena khawatir. Sungguh sebuah pemikiran yang sangat picik.
Sore harinya, giliran Adrian yang muncul. Dia sama sekali tidak tahu kalau aku bolos kuliah karena dihajar preman. Dia pikir aku mengurung diri murni karena kekacauan di perayaan ulang tahunku. Saat melihat wajahku yang lebam, ia sempat terkejut, namun fokus utamanya tetap pada perubahan sikapku yang drastis hari itu. Aku tak mampu menjelaskan apa-apa selain bergumam, “Maaf, waktu itu aku lagi banyak pikiran.” Untungnya, Adrian menelan penjelasanku begitu saja dan tak lagi mencecarku.
Kini, hari sudah beranjak siang. Tiba-tiba, aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku.
Jantungku berdegup kencang. Aku berharap setengah mati bahwa sosok di balik pintu itu adalah Mara—yang datang untuk melupakan semua kesalahanku dan merawatku. Namun, begitu pintu kubuka, aku harus buru-buru menyembunyikan helaan napas yang sarat akan kekecewaan.
Bukan Mara. Kak Embun dan Kak Rini berdiri di depan pintu kamarku, menenteng beberapa bungkus makanan dan buah-buahan.
Begitu masuk dan melihat kondisiku dari dekat, tanpa basa-basi Kak Rini langsung melipat tangan dan mencecarku, menuntut penjelasan bagaimana ceritanya aku bisa sampai dihajar oleh preman-preman jalanan.Tanpa mengungkit kekacauan hari ulang tahunku.
Aku hanya memberikan penjelasan seperlunya kepada Kak Rini. Kuceritakan garis besarnya saja, bahwa aku dan kawanan preman itu memang punya masalah di masa lalu yang sempat membuat bos mereka ditahan polisi.
Sementara aku diinterogasi, Kak Embun entah kenapa malah sibuk mengurus pekerjaan rumahku. Ia membawa piring-piring kotorku yang berserakan di lantai dan mencucinya sampai bersih. Diam-diam mataku terus memperhatikannya dari atas kasur. Ibuku adalah orang terakhir yang membereskan kekacauan kamarku seperti ini.
Setelah selesai mencuci, Kak Embun menyajikan makanan yang mereka bawa ke atas piring agar siap kusantap. Aku tak punya cukup tenaga untuk bertanya, apalagi mencegahnya. Kak Rini kemudian mewanti-wantiku dengan nada tegas agar aku lebih berhati-hati, sebelum akhirnya pamit pulang lebih dulu karena ada urusan, meninggalkanku berduaan saja dengan Kak Embun di kamar kos yang sempit ini.
Kak Embun perlahan membantuku bangkit untuk duduk. Meski sebenarnya aku masih bisa bangun sendiri, kali ini aku sama sekali tidak menolak sentuhan dan perhatian lembutnya. Entahlah, mungkin batinku memang sedang putus asa mencari kehangatan, tak peduli lagi dari siapa datangnya.
Kini, Kak Embun duduk manis di sampingku, memegang sepiring nasi rames dengan lauk telur dadar dan tempe orek. Dengan telaten, ia mengambil sebuah suapan kecil—persis seperti porsi suapan yang biasa ia lakukan saat makan sendiri—lalu perlahan menyodorkan sendok itu ke depan mulutku.
Awalnya aku merasa canggung. Kuulurkan tanganku mencoba mengambil alih piring itu darinya, tapi tangan Kak Embun dengan sigap menghindar. Ia menatapku dan menggelengkan kepalanya pelan, mengisyaratkan agar aku diam saja.
Aku mengalah, mengerti maksudnya meski situasi ini terasa aneh. Kubuka mulutku perlahan. Karena porsi suapannya dari Kak Embun begitu sedikit, aku tidak perlu membuka mulut lebar-lebar. Aku jadi tak perlu memaksakan diri menahan nyeri akibat tarikan di rahangku yang masih memar dan bengkak.
Saat mengunyah perlahan, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di kepalaku. Apa jangan-jangan Kak Embun sengaja?
Apakah ia memperhatikan rahangku yang memar, lalu dengan sengaja menakar porsi suapan kecil agar aku tidak kesakitan saat makan? Betapa pekanya Kak Embun. Aku benar-benar tidak terbiasa menerima bentuk perhatian yang begitu detail dan tulus seperti ini.
Perhatiannya terasa sangat hangat, namun entah mengapa, kehangatan itu justru menenggelamkanku dalam pusaran rasa bersalah.
“Bara, kita lolos seleksi berkas,” ucap Kak Embun lembut, pandangannya tetap fokus meracik lauk untuk suapan berikutnya di atas sendok.
Kabar itu sama sekali tak memengaruhi suasana hatiku sedikit pun. Semuanya terasa hambar. Aku hanya diam menatap kosong, tak punya jawaban maupun tenaga untuk sekadar menjawab.
Tiba-tiba, gerakan tangan Kak Embun terhenti.
“Maaf ya, Bar. Gara-gara hadiah dariku kemarin, acara ulang tahunmu jadi berantakan,” lanjutnya pelan. Suaranya terdengar begitu sarat akan penyesalan.
Satu kalimat itu seketika menghantam kesadaranku. Sontak menatap wajahnya dengan kebingungan setengah mati.
Apa maksudnya?
Bagaimana dia bisa tahu kalau hadiahnya yang memicu kekacauan dengan Mara? Sejak kapan dia tahu apa isi kantong plastik Mara? Apa jangan-jangan... Kak Embun memang sengaja menyamakan hadiah bukunya dengan kado milik Mara?
Pikiranku mendadak berputar cepat, dipenuhi rentetan tanda tanya yang membuat kepalaku pening. Kalau memang sengaja, untuk apa ia melakukannya? Apa alasannya?
Tanganku spontan menahan lengannya, menolak suapan berikutnya. Aku meraih segelas air yang juga sudah disiapkan olehnya, meneguknya pelan, lalu kembali merebahkan tubuhku ke atas kasur. Tapi kali ini, aku sengaja berbalik memunggunginya.
Aku merasa dikhianati. Tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Mara berniat meninggalkanku, dan sekarang aku bahkan mulai meragukan ketulusan Kak Embun.
Di tengah kamar yang mendadak sunyi, aku merasakan Kak Embun beranjak dari sisiku. Terdengar bunyi karet gelang ditarik—sepertinya ia sedang mengikat dan membungkus kembali sisa nasi rames. Tak lama kemudian, suara air mengalir dari keran terdengar dari arah wastafel.
Setelah itu, keadaan kembali hening.
Hening itu berlangsung begitu lama sampai tubuhku mulai pegal karena terus mempertahankan posisi miring. Apakah Kak Embun sudah pergi? Namun, sedari tadi aku sama sekali tidak mendengar suara pintu dibuka.
Dengan hati-hati, aku memutar tubuh dengan mata tetap terpejam. Perlahan, kubuka kelopak mataku, menyisakan celah sempit untuk mengintip.
Kak Embun ternyata masih ada di sana. Ia berdiri mematung membelakangiku di depan wastafel. Dari balik punggungnya, kulihat tangannya sesekali bergerak menyeka wajah.
Apa dia sedang menangis?
Begitu ia perlahan membalikkan tubuh, aku terkesiap dan buru-buru memejamkan mata lagi. Sayup-sayup, langkah kakinya terdengar mendekati kasur. Napasku tertahan. Aku tak berani membuka mata.
Lalu sebuah tangan hangat perlahan membelai kepalaku, menyingkirkan rambut yang menutupi keningku. Sentuhan itu bertahan sejenak sebelum akhirnya ditarik kembali. Langkah kaki itu perlahan menjauh. Terdengar derit pintu kamar dibuka, lalu ditutup kembali dengan sangat hati-hati.
Aku membuka mata. Kamarku kini sudah kosong melompong. Aku termangu menatap langit-langit.
Apa sebenarnya maksud dari semua sikap Kak Embun ini?
Malam itu, Mara tak juga kembali ke kamar kosku.
Keesokan harinya, Shiela dan Kang Cecep datang ke kamarku cukup pagi. Di tangan mereka tergenggam beberapa kantong kain berukuran besar.
“Bar, Mara minta tolong ke kita buat beresin dan ambilin barang-barangnya,” Kang Cecep menjelaskan maksud kedatangannya bersama Shiela dengan nada yang sangat hati-hati.