Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #21

Mata Asmara

Orang-orang bilang, waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Aku sama sekali tidak setuju. Sebab, kalau saja aku punya cukup uang, aku pasti bisa membeli lebih banyak waktu. Aku tak perlu bersusah payah memaksa diriku terlepas dari dekapan Bara malam ini. Laki-laki yang sangat kucintai.

Wajahnya saat tertidur pulas di atas sofa sempit ini terlihat begitu tenang dan manis, mengubur sejenak kenyataan bahwa beberapa saat yang lalu kami baru saja hancur dan menangis bersama menghadapi perpisahan ini.

Maafkan aku.

Aku tidak bisa membiarkan keegoisanku terus berlanjut. Aku tidak akan sanggup membiarkan keberadaanku merenggut segalanya darimu. Masa depanmu terlalu berharga untuk dihancurkan oleh perempuan sepertiku.

Ibumu salah, Bar. Kamu sama sekali bukan beban untukku. Justru ketulusanmulah yang membuatku jatuh cinta padamu.

Akulah yang akan menjadi beban sesungguhnya untukmu. Kamu masih punya sayap yang utuh, masih sangat mampu untuk terbang jauh menggapai awan. Sementara aku... biarkan aku tetap di sini, memijakkan kakiku di atas tanah yang kotor. Aku tidak mau kamu memaksakan diri membawaku ikut terbang. Pada akhirnya, sayapmu hanya akan patah dan kita berdua akan jatuh ke tanah yang sama. 

Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.

Maafkan juga sikapku selama ini yang mungkin sering membuatmu kebingungan. Maaf untuk semua tingkah kekanak-kanakanku yang membuatmu terpaksa harus selalu mengalah. Mengingat jarak usia kita, padahal aku ini jauh lebih tua darimu. Seharusnya akulah yang bersikap lebih dewasa, bukan malah sebaliknya.

Meskipun aku ingin sekali mengecup wajahmu untuk yang terakhir kalinya, niat itu terpaksa kuurungkan. Aku tak ingin membuatmu terbangun. Aku tak mau menyiksamu lebih dari ini.

Sejenak, aku terdiam menatap sekeliling. Mataku meraba setiap sudut studio lukis yang perlahan telah menjelma menjadi semesta bagi kita berdua. Di ruangan pengap inilah kita akhirnya memutuskan untuk saling mencintai. Dan di ruangan ini jugalah, kamu memelukku untuk yang terakhir kalinya.

Terima kasih, Arya Barata Saputra. Aku mencintaimu.

Dengan langkah gontai dan hati yang tertinggal, aku membalikkan badan dan berjalan ke luar studio lukis. Di luar, aku berpamitan kepada Shiela, Cecep, Pak Rio, Bu Marni, dan tentu saja, Pak Tono.

Shiela dan Bu Marni langsung menghambur memelukku erat sambil menangis. Dadaku berdesir. Aku baru menyadari betapa dalam kami telah saling terhubung, padahal awalnya kami hanyalah orang-orang yang kebetulan bekerja di tempat yang sama.

Pak Tono melangkah mendekat, lalu menepuk-nepuk bahuku dengan senyum kebapakan yang menenangkan. “Kamu jaga diri baik-baik, ya. Tenang aja, nanti Bara kami yang jagain.”

Mendengar kalimat itu, pertahananku kembali runtuh. Aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata betapa besarnya jasa Pak Tono dalam hidupku. Beliau sudah menolongku sejak aku masih berstatus mahasiswi dulu, hingga dengan tangan terbuka mau menerimaku bekerja lagi saat aku kembali terdampar di Jakarta dalam keadaan hancur.

Kini, setelah sempat berhasil menata diri—setidaknya berhasil merasakan apa itu bahagia walau hanya sesaat—aku sudah siap untuk benar-benar pergi. Aku harus berhenti mengandalkan orang lain. Sudah saatnya aku mengambil alih kemudi atas hidupku sendiri.


“Tapi kalau begitu, kita nggak akan pernah ketemu.”

Kata-kata Bara kembali terngiang, bergaung di kepalaku saat aku duduk bersandar di kursi bus malam yang membawaku menjauh dari Jakarta.

Tanganku merogoh saku celana dan bajuku. Sepertinya rokok dan korek gas milikku tertinggal. Sial. Tanpa rokok, aku tak punya cara untuk mengusir pikiran-pikiran yang kini mulai menggentayangi kepalaku. Tanpa asap yang bisa kuhirup, aku terpaksa menyerah, membiarkan diriku terseret ke dalam carut-marut ingatanku sendiri.

Sebuah pertanyaan kembali mengemuka: kira-kira, apa yang akan terjadi kalau saja dulu aku menolak tawaran beasiswa dan tidak pergi kuliah ke Jakarta? Bagaimana jalan hidupku kalau saja aku tidak pernah mengirimkan lukisan untuk pameran di kampus itu?

Aku masih mengingat dengan sangat jelas hari itu. Aroma khas rumah masa kecilku, berbaur akrab dengan bau masakan Ibu dari arah dapur yang sedang menghangatkan lauk untuk makan malam.

“Eh, Sri. Kamu udah pulang, Nak?” suara Bapak menyapa dengan hangat. Beliau menoleh ke arah pintu begitu mendengar langkahku memasuki rumah.

“Mara. Cepat ganti baju, bantu Ibu di dapur,” tanpa basa-basi, Ibuku—seperti biasanya—langsung bertitah dengan nada ketus.


“Oh iya, Sri. Ada surat buat kamu,” ucap Bapak sambil menyodorkan sebuah amplop kepadaku yang sedang mencuci piring di dapur.

Aku segera mematikan keran dan mengeringkan tanganku ke ujung baju. Begitu menerima amplop itu, mataku seketika melebar. Logo yang tercetak di sudut kertas itu... aku sangat mengingatnya. Itu adalah logo salah satu kampus di Jakarta yang akan menyelenggarakan pameran seni.

Beberapa bulan sebelumnya, lewat sebuah iklan di koran bapak, panitia pameran itu mengajak pelukis-pelukis amatir dari seluruh daerah untuk mengirimkan hasil karyanya. Hanya berbekal kenekatan dan rasa penasaran, aku mengirimkan dua buah lukisanku ke sana.

Dengan tangan sedikit gemetar, kubuka lipatan surat itu. Isinya mengucapkan selamat. Salah satu lukisanku berhasil lolos kurasi dan akan dipajang bersama seratus karya amatir lainnya di Jakarta.

Dadaku membuncah. Aku senang sekali hari itu; rasanya seolah ada sebuah jendela kecil yang baru saja terbuka, menawarkan angin segar di tengah pengapnya hidupku.

Melihat senyumku yang merekah, Bapak ikut antusias. Beliau bahkan menawarkan diri untuk mengantarku pergi ke pameran itu, yang rencananya akan diselenggarakan dua pekan lagi.

Namun, setelah kepalaku kembali mendarat di bumi, perlahan niat itu kuurungkan. Pergi ke Jakarta butuh biaya perjalanan yang tidak sedikit, sesuatu yang jelas tidak kami miliki. Lagipula, saat itu aku tengah sibuk-sibuknya belajar karena ujian kelulusan sekolah sudah di depan mata.

Dan tentu saja... Ibu menentang keras gagasan membuang-buang uang hanya untuk pergi melihat "gambar di atas kanvas".

Lihat selengkapnya