Bara Asmara

Subhan Mars
Chapter #22

Jiwa Asmara

Napasku memburu. Seluruh tubuhku mendadak terasa kaku saat melihat Bapak terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Selang-selang medis menjalar, menusuk, dan menopang tubuhnya yang kini terlihat begitu rapuh. Hidup Bapak benar-benar berada di ujung tanduk.

Dokter menjelaskan kondisinya dengan rentetan istilah medis yang rumit dan tak kumengerti. Kepalaku sudah terlalu lelah untuk mencerna itu semua. Aku memotong penjelasannya, hanya ingin tahu satu hal: apakah Bapak akan selamat?

“Nyawanya bisa diselamatkan. Tapi... kemungkinan beliau untuk bisa kembali normal seperti sedia kala sangatlah kecil.”

Ucapan dokter itu terus bergelantungan di kepalaku. Apa yang akan terjadi pada Bapak? Malam itu, aku duduk terjaga menemani Bapak yang tak kunjung membuka mata. Sambil menggenggam tangannya yang dingin, aku berbisik menahan tangis, mengabarkan bahwa anak perempuan kesayangannya sudah pulang.

Pagi harinya, pamanku datang. Ia menyuruhku untuk pulang ke rumah sebentar, sekadar untuk menaruh barang-barang dan membersihkan diri. Aku mengiyakan, tetapi ada firasat janggal yang mulai merayap dan mengganggu benakku.

Ibu ke mana? Kenapa sejak kemarin aku sama sekali tidak melihat batang hidungnya di rumah sakit?


Sesampainya di rumah, Ibu juga tak ada di sana. Justru beberapa tetangga yang menyambut kepulanganku. Mereka menatapku dengan sorot mata penuh iba, memelukku erat, lalu menyuruhku beristirahat.

Tetapi kejanggalan itu semakin menguat, membuat isi kepalaku berisik. Kenapa rumah ini terasa sangat aneh? Kenapa tak ada satu pun dari mereka yang membahas Ibu? Ibu ke mana?

Aku menatap wajah para tetangga itu satu per satu, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Bapak. Kecelakaan macam apa yang beliau alami? Dan Ibu ke mana? Kenapa Ibu tidak menemani Bapak di saat-saat kritis seperti ini?

Mungkin... seharusnya aku tidak pernah menanyakan hal itu. Karena jawaban yang akhirnya keluar dari mulut mereka benar-benar menghancurkanku tak bersisa.

“Bapakmu... Bapakmu mencoba bunuh diri, Nduk...” suara Bu Atiek terdengar bergetar hebat. “Untung ada warga yang sadar, kok Bapakmu nggak keluar-keluar rumah dari pagi. Malamnya juga nggak kelihatan di pos, padahal itu jadwalnya beliau ronda.”

Napasku tercekat. Bunuh diri? Kenapa?

“Lalu... Ibu ke mana, Bu? Kok Bapak bisa sampai sendirian di rumah?” tanyaku dengan suara gemetar yang nyaris tak terdengar.

“Anu...” Bu Atiek menunduk, tak berani menatap mataku, lalu mulai menjelaskan dengan terbata-bata.

Fakta berikutnya yang meluncur dari bibirnya bagai martil yang kembali menghantam kepalaku dengan keras. Ibuku... ternyata sudah meninggalkan Bapak sejak lima bulan yang lalu. Ibu kabur dari rumah, pergi dengan laki-laki lain.

Isi kepalaku seketika kusut berantakan. Otakku menolak keras untuk mencerna rentetan mimpi buruk ini. Dalam ingatan terakhirku saat aku pulang berlibur setahun yang lalu, semuanya masih tampak biasa saja. Semuanya masih berjalan normal sebagaimana mestinya.

Lantas, bagaimana bisa semuanya tiba-tiba hancur berkeping-keping tanpa aku ketahui sedikit pun? Apa yang sebenarnya terjadi selama aku tak ada di sini? Bapak... apa saja yang sudah Bapak sembunyikan dariku?

Namun, di tengah semua kehancuran ini, ada satu hal yang amat kusyukuri: nyawa Bapak masih bisa diselamatkan. Meskipun aku masih belum tahu, keselamatan itu harus dibayar mahal dengan jalan hidupku yang berubah drastis. Belum lagi ditambah dengan urusan masalahku sendiri... benih rahasia yang perlahan mulai tumbuh di dalam rahimku.


Setelah dirawat selama beberapa pekan, Bapak akhirnya diizinkan pulang ke rumah. Tetapi, Bapak yang kubawa pulang tak lagi sama. Beliau sudah tak bisa menggerakkan tubuhnya dengan normal seperti sedia kala. Jangankan untuk berjalan, untuk sekadar beranjak dari ranjang pun beliau harus kubantu. Bapak kini bergantung sepenuhnya pada kursi roda, dan akulah yang harus membantunya beraktivitas setiap hari.

Di sela-sela rutinitas yang melelahkan itu, Adit beberapa kali menelepon. Ia menelepon hanya untuk sekadar menanyakan kabar. Namun, aku tahu betul ada sebuah pertanyaan besar yang mati-matian ia tahan di ujung lidahnya.

Dari getar di suaranya, dari helaan napasnya yang berat, aku bisa dengan jelas membayangkan raut wajah sedihnya di seberang sana. Tetapi Adit memang laki-laki yang sangat dewasa. Ia berlapang dada untuk tidak pernah mencecarku dengan pertanyaan, “Kapan kamu kembali?”

Atau mungkin... Adit hanya terlalu takut menanyakannya, ia takut jawabannya tidak akan pernah sesuai dengan apa yang diinginkan hatinya.

Sampai detik ini, aku masih belum berani menceritakan rahasia terbesarku kepada siapa pun. Aku tak tahu kapan waktu yang tepat untuk meledakkan bom waktu di dalam perutku ini, apalagi di saat kami semua sedang babak belur dihakimi keadaan—baik aku, Bapak, maupun Adit.

Setiap pekan, dengan susah payah, aku membawa Bapak ke rumah sakit untuk melakukan kontrol rutin. Dokter selalu mewanti-wanti dengan keras agar aku jangan pernah membiarkan Bapak sendirian di rumah terlalu lama. Beliau menegaskan bahwa keinginan Bapak untuk kembali mengakhiri hidupnya sangat berpotensi muncul lagi jika ia terlalu lama dibiarkan larut dalam kesepian dan pikirannya sendiri.

Lalu bagaimana dengan kuliah saya, Dok? “Kira-kira... berapa lama Bapak harus terus ditemani seperti ini?” tanyaku pada suatu hari dengan suara parau.

“Tidak bisa dipastikan. Tidak ada rentang waktu yang pasti untuk pemulihan psikologisnya. Tapi beliau harus terus didampingi agar dorongan berbahaya itu tidak muncul lagi.”

Mendengar kalimat saklek itu keluar dari mulut dokter, pijakanku seakan ditarik paksa. Di detik itu, aku menyadari seutuhnya: apa pun urusanku di Jakarta... telah usai. Mimpiku untuk menjadi pelukis, tugas akhirku, semuanya telah tamat.

Aku harus tinggal dan menjaga Bapak di kampung. Selamanya, jika memang itu yang dibutuhkan.

Lantas, bagaimana dengan hubunganku dengan Adit? Keputusannya sudah sangat jelas. Hubungan itu harus berakhir. Laki-laki sebaik Adit tidak pantas terseret ke dalam lubang hitam kehidupanku ini.

Dan jika itu artinya... apa pun yang saat ini sedang tumbuh dan bernapas di dalam diriku juga harus dihilangkan? Maka biarlah. Semuanya itu harus hilang, agar mudah bagiku untuk melepas kepala sangkut paut dengan Adit.


Uang. Aku butuh uang.

Untuk biaya kontrol rutin dan menebus obat-obatan Bapak, aku sudah mulai menumpuk banyak utang. Dan untuk menyingkirkan sisa bukti hubunganku dengan Adit—sesuatu yang kini diam-diam bersemayam dan bertumbuh di dalam tubuhku—aku juga butuh biaya yang tak sedikit.

Dengan sisa-sisa tenaga, aku mencuri waktu keluar rumah di sela-sela merawat Bapak. Memutar otak, melakukan pekerjaan apa saja demi mendapatkan lembaran rupiah. Aku bahkan sempat mencoba mencari keberadaan Ibu, meski hasilnya nihil.

Di tengah jalan buntu dan keputusasaan itulah, takdir mempertemukanku dengan seorang teman lama semasa SMA. Ia baru saja pulang dari Bandung. Di perantauan, rupanya ia sibuk mempelajari seni merajah tubuh alias tato.

Ia bercerita tentang niatnya membuka studio tato sendiri di Bandung. Namun, ia terbentur dua hal: kurang modal dan kurang pengalaman. Tentu saja, tidak ada orang yang mau menyerahkan kulitnya untuk ditato oleh seniman amatir yang belum punya bukti portofolio. Kepulangannya ke kampung sebenarnya untuk menjual rumah warisan orang tuanya yang kelak akan dijadikan modal usaha. Tetapi, selain uang, ia butuh satu hal penting lainnya.

Lihat selengkapnya