Langit sore menggantung sendu di atas gedung SMA Gemilang Jaya. Warna jingga yang mulai pudar jatuh tipis di kaca-kaca kelas yang perlahan kosong satu per satu, memantulkan bayangan murid-murid yang sebentar lagi tak lagi menjadi bagian dari tempat itu.
Angin bulan Mei berembus pelan, membawa aroma rumput basah dari lapangan belakang yang baru saja disiram penjaga sekolah. Udara sore terasa hangat, tetapi entah kenapa menyimpan sesuatu yang samar-semacam perasaan kehilangan yang datang terlalu dini.
Satu bulan lagi kelulusan.
Kalimat itu terus terdengar di mana-mana akhir-akhir ini. Ditulis di caption media sosial, dibahas guru saat jam pelajaran, bahkan diucapkan sambil bercanda oleh murid-murid yang sebenarnya belum benar-benar siap berpisah.
Aneh sekali.
Semakin dekat hari kelulusan datang, sekolah justru terasa semakin hidup.
Koridor kelas dua belas dipenuhi suara tawa yang bersahut-sahutan. Beberapa murid sibuk berfoto memakai kamera digital, mengabadikan wajah-wajah yang mungkin sebentar lagi hanya akan tersisa di galeri ponsel dan kenangan. Ada yang mulai mencoret tanda tangan di seragam teman-temannya, ada pula yang pura-pura menangis dramatis ketika guru BK berkata dengan nada setengah bercanda-
"Sebentar lagi kalian bukan anak SMA lagi."
Dan semua orang tertawa.
Padahal diam-diam, kalimat itu menyesakkan juga.
Rasanya seperti baru kemarin mereka berdiri kikuk di lapangan sekolah saat MOS, memakai atribut aneh sambil dimarahi kakak OSIS. Baru kemarin mereka mengeluh soal tugas, guru killer, dan kantin yang selalu kehabisan es teh.
Tapi waktu memang licik. Ia berjalan diam-diam tanpa permisi, lalu tiba-tiba membawa semua orang ke ujung cerita.
Karena setiap pertemuan, pada akhirnya, memang berjalan menuju perpisahan.
Namun setidaknya, empat manusia ini belum ingin memikirkan itu hari ini.
Kantin belakang sekolah yang tak begitu ramai menjadi tujuan favorit mereka sekali lagi-tempat paling nyaman untuk melarikan diri dari riuh sekolah. Meja pojok dekat jendela itu masih menjadi "singgasana" mereka. Tempat di mana terlalu banyak rahasia, tawa, tangisan, dan cerita absurd pernah tertinggal.
Dan mungkin, sebentar lagi semuanya hanya akan menjadi kenangan.
Dan seperti biasa, Kinasih berjalan sambil memeluk buku catatan tebalnya erat-erat. Gadis pintar dari IPA 1 itu memang tak pernah bisa jauh dari buku.
Ke kantin bawa buku. Duduk di taman bawa buku. Bahkan menurut rumor yang dipercaya teman-temannya, ke kamar mandi pun ia tetap membawa catatan.
Padahal ujian sudah selesai. Tak ada lagi yang harus dipelajari. Namun entah kenapa, Kinasih tetap menggenggam buku itu seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu yang penting di dalamnya.
"Segitunya ya orang pinter."
Celetukan itu meluncur malas dari bibir Alvira.
Gadis itu berjalan di sebelah Kinasih dengan langkah santai penuh percaya diri. Rambutnya bergelombang rapi, parfum mahalnya menyeruak lembut setiap kali angin lewat. Bahkan seragam sekolah yang dipakai Alvira selalu terlihat seperti outfit majalah remaja.
Seperti biasa pula, ia sibuk melambai centil ke arah beberapa siswa laki-laki yang nongkrong di sisi koridor.
"Bye, ganteng!" godanya sambil melempar ciuman manja. Beberapa anak langsung bersorak heboh dibuatnya.
Kinasih yang sejak tadi berjalan santai akhirnya menoleh bingung. Keningnya berkerut kecil. "Hah? Maksudnya?" Logat medok Jawanya terdengar kental dan hangat di telinga. Matanya bahkan sempat melirik ke kanan dan kiri, seolah memastikan siapa sebenarnya yang sedang dibicarakan Alvira.
Dan itu membuat Alvira spontan memutar mata gemas.
Alvira menoleh, menghentikan sementara aksi tebar pesonanya ke penghuni koridor sekolah. Jemarinya yang lentik memainkan ujung rambut ikalnya yang jatuh bergelombang rapi di bahu. Bahkan di bawah cahaya sore yang mulai redup, rambut itu masih tampak berkilau mahal dan sempurna.
"Ya elo, Nasiih..." katanya sambil mendengus. "Emang di sekolah ini ada lagi orang yang meluk buku catatan kayak lagi meluk calon suami?" Nada bicaranya penuh ejekan manja. Alvira menunjuk buku tebal di pelukan Kinasih dengan dagu terangkat malas. "Takut direbut orang apa gimana sih?"
Kinasih hanya berkedip bingung. Polos sekali sampai terkadang terlihat tidak nyata. Tatapan matanya turun ke buku yang dipeluknya sendiri, seolah baru sadar sejak tadi ia memang menggenggam benda itu terlalu erat.
Alvira langsung melanjutkan ocehannya tanpa jeda. "Sebentar lagi kita lulus loh. Ngapain sih lo masih bawa buku imut lo ke mana-mana? Lo mau ngulang ujian?"
Kinasih tersenyum kecil. Senyum tipis yang selalu terlihat malu-malu di wajahnya. "Ooh... nggak," jawabnya pelan. "Cuman kan kamu tahu... aku mau masuk univer-"
"Iya tauuu," sela Alvira cepat. Ia langsung memutar mata dramatis sampai kepalanya sedikit mendongak ke langit.
Ekspresi itu membuat Kinasih otomatis mengulum senyum kecil.
Sementara Alvira mengembuskan napas panjang seperti orang yang sudah hafal isi pidato temannya di luar kepala. Bahkan mengusap telinganya yang tidak gatal saking enggannya mendengar gadis itu mengucapkan hal yang sama untuk kali kesekian.
Bagaimana tidak?
Sejak kelas sebelas, Kinasih selalu membicarakan universitas impiannya dengan mata berbinar yang sama.
Universitas yang terkenal sulit dimasuki. Tempat yang menurut Alvira hanya bisa ditembus orang-orang genius atau anak sultan dengan koneksi dewa.
Dan sayangnya, Kinasih terlalu miskin untuk kategori kedua. Jadi menurutnya, gadis itu terpilih menjadi kategori pertama.
"Ngapain sih pake nanya-nanya segala?"
Suara pemuda tiba-tiba menyelip di antara mereka.
"Lo mau ketularan pinter juga?"
Davin muncul dari belakang dengan kedua tangan masuk ke saku celana abu-abunya. Langkahnya santai, sedikit malas, seperti manusia yang tidak pernah benar-benar punya beban hidup.
Senyum tengil itu sudah terpasang sempurna di wajahnya sejak tadi. Senyum yang menyebalkan. Namun entah kenapa selalu berhasil membuat orang lain ikut tertarik melihatnya lebih lama.
Beberapa siswi yang berpapasan bahkan sempat melirik diam-diam sebelum berbisik kecil pada temannya sendiri.
Davin memang punya bakat alami untuk menjadi pusat perhatian tanpa perlu berusaha.
Alvira melirik tajam. "Cih. Pengennya."
Davin langsung tergelak. Ia melangkah mendekat, lalu dengan santainya merangkul pundak Alvira seperti sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.
"Kalau lo pinter," katanya santai, "ntar nggak ada yang nemenin gue jadi dongo."
"Kurang ajar! Dongo kok ngajak-ngajak!" sengit Alvira. Cubitannya mendarat telak di pinggang Davin.
Pemuda itu spontan meringis sambil menjauh setengah langkah. "Gue nggak ngajak," protesnya sambil mengusap area yang dicubit. "Tapi elo emang udah dongo dari sononya."
Tawanya pecah lagi.
Alvira langsung melotot tidak terima dan kembali mengangkat tangan hendak mencubit untuk kedua kalinya. Namun Davin bergerak cepat menghindar, membuat gadis itu semakin kesal sendiri.
"Emang setan lo," gerutu Alvira sambil memukul lengan Davin cukup keras.
Bukannya kapok, pemuda itu malah makin terkekeh geli.
Kemudian tiba-tiba gadis itu mendengus kecil, seolah baru mendapat ide cemerlang yang bisa menyelamatkan harga dirinya.
"Kalau gue pinter kan," katanya sambil mengangkat dagu, "siapa tahu gue bisa jadi pewaris perusahaan bokap gue."
Davin mengangkat alis. "Terus?"
"Terus lo jadi karyawan gue." Alvira tersenyum manis penuh kemenangan. "Tanpa seleksi."
Davin terdiam sesaat. Sorot matanya mendadak kosong seperti sedang benar-benar mempertimbangkan masa depan hidupnya. Lalu matanya membulat dramatis. "Oh iya..." katanya pelan, penuh pencerahan palsu. "Bener juga."
Alvira langsung tersenyum jumawa. "Tuh kan? Tumben gue pinter." Ia mengibaskan rambutnya dramatis. Aroma parfum dan sampo mahal langsung menyeruak samar terbawa angin. "Gue gitu loh," katanya penuh percaya diri. "Udah hampir setara kan pinternya sama Kinasih?" Tangannya merangkul lengan Kinasih erat, seolah meminta validasi paling penting di dunia.
Kinasih sampai terkikik kecil.
Sementara Davin memandangi mereka berdua bergantian dengan wajah datar penuh penilaian.
Satu sederhana. Satu modis. Satu pintar. Satunya lagi...
Pemuda itu menahan tawanya susah payah. "Setara?" ulangnya akhirnya. "Ngimpi lo?"
Alvira langsung mendelik.
"Lo masih jauh kalau mau disetarain sama Kinasih." Davin terkekeh pelan. "Kalahin gue dulu yang ranking dua puluh dua."
Nada jumawanya sukses membuat Alvira mendecih.
"Halah," katanya sambil mengibas udara malas. "Cuma ranking dua puluh dua."
Davin mendekat lagi. Kali ini sengaja menunduk sedikit hingga bibirnya nyaris sejajar dengan telinga Alvira. "Ketimbang elo..." bisiknya pelan penuh racun, "ranking dua puluh empat dari dua puluh empat siswa."
Hening sepersekian detik.
Lalu-
"DAVIN!" Alvira spontan melotot garang.
Namun Davin sudah lebih dulu kabur sambil tertawa keras sebelum cubitan maut gadis itu kembali mendarat di tubuhnya.
"Kurang ajar lo!" teriak Alvira sambil mengejarnya.
Koridor sore itu kembali dipenuhi suara ribut mereka. Dan di tengah semua kekacauan kecil itu, Kinasih hanya berjalan pelan sambil terkikik geli.
Entah kenapa, melihat Davin dan Alvira selalu terasa seperti menonton dua anak kecil yang tidak pernah benar-benar akur, tapi juga tidak bisa dipisahkan terlalu lama.
Hangat. Ramai. Hidup.
Dan tanpa sadar, hati Kinasih mendadak terasa sedikit sendu.
Sebentar lagi mereka lulus. Sebentar lagi semua kebiasaan kecil ini mungkin akan hilang.
Tak ada lagi suara Alvira yang berisik setiap pagi. Tak ada lagi Davin yang selalu membuat suasana ricuh. Tak ada lagi meja kantin, tugas kelompok dadakan, atau obrolan absurd sepulang sekolah.
Mereka akan berjalan ke hidup masing-masing. Dan pikiran itu terasa aneh sekali di dada Kinasih.
Ting!
Suara notifikasi ponsel tiba-tiba memotong lamunannya. Kinasih sampai tersentak kecil. Entah kenapa, suasana di sekitarnya mendadak terasa turun beberapa derajat.
Ia menoleh sekilas ke belakang. Lalu buru-buru kembali menatap depan begitu menyadari siapa yang berjalan di sana.
Astaga.
Ia hampir lupa kalau pemuda itu berjalan bersama mereka sejak tadi.
Prabu.
Sosok tinggi dengan hoodie hitam yang selalu membuatnya tampak kontras di tengah keramaian sekolah. Tudung hoodie itu menggantung malas di punggungnya, sementara satu tangannya masuk ke saku seperti biasa.
Rambutnya jatuh rapi seperti biasa, lurus dan halus, dengan poni tipis yang membingkai dahi. Wajahnya datar. Terlalu datar.
Bahkan di tengah udara sore yang hangat dan ribut tawa anak-anak kelas dua belas, Prabu tetap terlihat seperti musim hujan yang datang sendirian.
Tenang. Sunyi. Dan dingin dengan cara yang aneh.