Bara di dalam Salju

Gema Senyap
Chapter #4

Bab 2

“Kenapa lo?” Davin langsung mengernyit waspada melihat reaksi Alvira yang terasa terlalu heboh untuk sebuah pengakuan sederhana. Tatapannya menyipit curiga.

“Sorry, sorry!”

Alvira buru-buru meminta maaf sambil menunduk kecil ke arah beberapa murid lain yang sempat menoleh akibat teriakannya barusan.

Setelah itu ia kembali duduk dengan gerakan canggung, merapikan rok seragamnya pura-pura tenang meski isi kepalanya sudah terasa seperti pasar malam yang lampunya menyala semua sekaligus.

“Kenapa sih lo?” Davin masih menatap heran. “Kebelet boker?”

“Sembarangan. Kagak.” Nada Alvira langsung sengak. Tangannya masih sibuk menepuk-nepuk rok seragamnya sendiri tanpa arah, seolah gerakan kecil itu bisa membantu merapikan isi kepalanya yang mendadak berantakan.

Karena jujur saja—kalau asumsinya benar, semuanya akan berubah. Dan anehnya, itu membuatnya gugup.

Di satu sisi, ada rasa antusias yang menggelitik di dadanya.

Bayangan kalau salah satu dari mereka ternyata diam-diam jatuh cinta terdengar seperti cerita drama remaja murahan yang selama ini cuma mereka tertawakan bersama.

Rahasia kecil. Tatapan diam-diam. Perasaan yang disembunyikan di balik candaan. Hal-hal klise semacam itu biasanya hanya terjadi di film atau novel yang suka ditonton Alvira tengah malam sambil ngemil.

Namun sekarang?

Entah kenapa rasanya seperti sedang duduk tepat di tengah cerita itu. Dan sialnya... itu terasa nyata.

Namun di sisi lain, perasaan asing perlahan menyusup di dadanya.

Pelan. Mengganggu.

Karena Alvira tak pernah benar-benar membayangkan persahabatan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dari sekadar saling ejek, rebutan makanan, atau cekcok receh hampir setiap hari.

Selama ini semuanya terasa sederhana.

Hangat. Berisik. Dan anehnya... terasa seperti rumah.

Tak pernah ada jarak aneh di antara mereka. Tak pernah ada tatapan yang terlalu lama. Tak pernah ada perasaan rumit bernama cinta yang diam-diam tumbuh di sela kebiasaan kecil mereka.

Atau mungkin memang ada, hanya saja selama ini mereka terlalu nyaman untuk menyadarinya?

Pikiran itu membuat Alvira mengernyit kecil. Matanya melirik sekilas ke arah sahabat-sahabatnya sendiri.

Kalau salah satu benar-benar menyukai yang lain, bukankah semuanya akan berubah?

Pasti asing rasanya.

Bayangkan saja Davin yang biasanya menyebalkan setengah mati tiba-tiba berubah romantis. Atau Kinasih yang pemalu mulai salah tingkah setiap kali ditatap. Belum lagi Prabu, manusia kulkas itu entah bakal tetap sedingin biasanya atau justru diam-diam berubah paling parah.

Pikiran itu membuat Alvira merinding sendiri.

Dan kenapa pula Davin memilih confess tepat sesaat sebelum kelulusan?

Sialan.

Kalau nanti mereka jadian, Alvira bahkan mungkin nggak bisa lagi seenaknya menghina Davin tanpa merasa seperti obat nyamuk yang mengganggu pasangan orang.

Membayangkan dirinya duduk sendirian sementara tiga manusia lain sibuk dengan urusan perasaan masing-masing mendadak membuat dadanya sesak kecil.

Seolah tanpa sadar, masa-masa mereka memang perlahan menuju akhir.

Namun lebih dari semuanya, satu pertanyaan lain diam-diam muncul di kepalanya.

Apakah gadis itu akan menerima Davin?

Tatapan Alvira melirik sekilas ke arah Kinasih yang duduk di depannya.

Gadis itu masih terlihat tenang di permukaan. Duduk rapi sambil membolak-balik buku fisikanya seperti biasa. Namun jemarinya memutar bolpennya sedikit terlalu kuat. Terlalu gugup untuk seseorang yang katanya santai.

Lalu Alvira buru-buru kembali menunduk.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka berteman—ia mulai takut mendengar nama yang akan keluar dari mulut Davin nanti.

“Ya terus kenapa?” Davin masih mengomel, meski nada tengilnya kini terdengar sedikit dipaksakan. “Kok lo syok banget kalau gue mau nembak cewek? Kayak nggak biasanya aja.”

Ia berusaha terdengar santai. Berisik seperti biasa. Namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang gelisah. Sesuatu yang terus bergerak samar di balik tawa dan nada bercandanya. Seolah ia takut Alvira benar-benar menebak siapa orang yang dimaksud.

Alvira memijat keningnya pelan. “Jelas syok lah,” gerutunya sambil melirik dari balik jemari yang menekan dahinya. “Biasanya juga lo tiba-tiba udah punya gebetan tanpa kita tahu kapan deketinnya. Tau-tau aja udah lo gebet.” Ia mendengus kecil. “Sekarang kenapa pake minta bantuan segala?” Tatapannya menyipit penuh selidik. “Spesial banget ya?” Kalimat itu menggantung beberapa detik di udara. “Beda dari yang lain, kah?”

Deg.

Davin tersentak kecil. Hanya sepersekian detik. Namun reaksi sekecil itu sudah cukup membuat Alvira makin curiga.

“Eh—”

Untuk pertama kalinya hari itu, Davin terlihat kikuk. Tangannya naik menggaruk dahi yang jelas-jelas tidak gatal. Bahunya bergerak gelisah kecil, sesuatu yang jarang sekali terlihat pada laki-laki yang biasanya selalu percaya diri setengah mati itu.

“I-iya sih...” gumamnya pelan. “Beda dari yang lain."

Dan sialnya, mata Davin melirik ke arah Kinasih. Hanya sekilas. Sangat cepat. Namun cukup membuat napas Kinasih tercekat pelan.

Gadis itu refleks menggenggam pulpennya lebih erat di bawah meja.

Karena untuk sesaat... ada harapan kecil yang tumbuh diam-diam di dalam dadanya. Harapan yang selama ini selalu ia simpan sendiri rapat-rapat.

Sebab sejujurnya, sudah cukup lama Kinasih menganggap Davin lebih dari seorang teman, lebih dari seorang sahabat.

Ia sudah lama menganggap Davin sebagai selayaknya pemuda yang mampu membuatnya jatuh hati.

Bukan karena wajahnya paling tampan. Kalau soal itu, Prabu jauh lebih unggul. Laki-laki itu punya surai hitam lurus yang jatuh tipis di dahi, mata sendu yang tenang, serta aura dingin yang entah kenapa selalu terlihat mahal dan sulit disentuh.

Namun Davin berbeda.

Pemuda itu berisik. Menyebalkan. Terlalu banyak bicara seperti knalpot bocor yang tidak pernah kehabisan bensin. Tetapi justru karena itulah dunia Kinasih berubah.

Sebelum mengenal mereka, hidupnya hanya dipenuhi buku, nilai, rumus, dan target masa depan. Hari-harinya berjalan lurus dan rapi seperti halaman-halaman catatan yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Tenang. Teratur. Namun juga sepi.

Lalu Davin datang membawa keributan. Membawa tawa yang terlalu keras. Candaan receh. Gangguan kecil yang sering membuatnya kesal setengah mati.

Dan tanpa sadar, laki-laki itu mengisi ruang-ruang kosong dalam hidup Kinasih yang sebelumnya bahkan tidak pernah ia sadari ada. Membuat hari-harinya terasa lebih hidup.

Lebih hangat. Lebih berwarna.

Dan sekarang—saat Davin mengatakan ada seseorang yang ingin ia tembak saat kelulusan... mustahil rasanya bagi Kinasih untuk tidak berharap sedikit pun.

Sementara itu, Prabu masih berada di posisi yang sama. Diam. Satu tangan menopang dagu, sementara matanya yang setengah sayu bergerak pelan ke arah Davin... lalu beralih kepada Kinasih yang sedang menatap pemuda itu tanpa sadar.

Tatapan Prabu berhenti beberapa detik lebih lama.

Lihat selengkapnya