Bara di dalam Salju

Gema Senyap
Chapter #5

Bab 3

Mall sore itu ramai seperti biasa. Lautan manusia bergerak tanpa jeda di bawah langit-langit tinggi yang dipenuhi cahaya putih kekuningan.

Pintu kaca otomatis terus membuka dan menutup mulutnya, memuntahkan semburan udara dingin bercampur aroma kopi, parfum mahal, dan makanan cepat saji yang menggantung tipis di udara. Suara langkah kaki bergema di lantai marmer mengilap.

Tawa. Obrolan. Dentuman musik dari toko pakaian. Pengumuman diskon yang saling bertabrakan dari berbagai sudut. Semuanya melebur menjadi satu kebisingan khas akhir pekan yang entah bagaimana justru terasa hidup.

Eskalator penuh oleh orang-orang yang naik turun tanpa henti. Anak-anak kecil berlari sambil tertawa, remaja-remaja sibuk berfoto di depan etalase, sementara pasangan dan keluarga berjalan santai membelah kerumunan dengan kantong belanja di tangan mereka. Di area food court, antrean panjang memenuhi hampir setiap gerai. Aroma ayam goreng, kopi hangat, dan roti yang baru dipanggang bercampur samar dengan dingin pendingin ruangan.

Seluruh mall terasa padat. Bising. Hidup.

Namun anehnya, suasana itu justru terasa berbanding terbalik dengan empat manusia yang berjalan berdampingan di tengah keramaian tersebut.

Tak ada percakapan berarti. Tak ada saling ejek seperti biasanya. Tak ada gelak tawa receh yang biasanya memenuhi langkah mereka.

Hanya Alvira yang sejak tadi terus mengoceh tanpa henti. Suaranya naik turun memenuhi ruang di antara mereka seperti radio yang tombol volume-nya rusak.

Entah karena energinya memang terlalu banyak—atau karena gadis itu sadar suasana mereka sedang aneh dan berusaha mati-matian membuat udara di sekitar terasa lebih hangat.

“Terus ya tadi tuh si Rena—”

Blah. Blah. Dan blah.

Kinasih menanggapi seperlunya. Sekadar mengangguk. Sekadar tersenyum kecil. Namun sebenarnya pikirannya sama sekali tidak berada di mall itu.

Otaknya yang biasanya dipenuhi rumus fisika dan catatan pelajaran kini justru dipenuhi satu hal yang sama sejak kejadian di kantin tadi.

Siapa gadis yang disukai Davin?

Pertanyaan itu terus berputar tanpa henti di kepalanya seperti lagu yang diputar ulang berkali-kali.

Secantik apa gadis itu? Sepintar apa? Apakah dia lebih menarik? Lebih menyenangkan? Lebih cocok berdiri di samping Davin dibanding dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan kecil itu tumbuh seperti benang kusut yang perlahan melilit dadanya semakin erat.

Membuat langkahnya terasa berat. Membuat rasa percaya dirinya runtuh pelan-pelan tanpa suara.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kinasih merasa sangat kecil di tengah keramaian sebesar ini.

Orang-orang lalu lalang dengan wajah bahagia, lampu toko berkilau di mana-mana, suara tawa terdengar bersahut-sahutan—namun di tengah semua itu, hatinya justru terasa semakin sepi.

Ia bahkan mendadak ingin pulang. Masuk ke kamar. Mengurung diri di balik selimut sambil melupakan semua hal memusingkan itu.

Kinasih melirik sekilas ke arah Alvira yang masih berceloteh seperti burung beo di sampingnya.

Dan seperti biasa—gadis itu tetap terlihat mencolok bahkan di tengah lautan manusia. Rambut ikalnya jatuh sempurna di bahu. Lip gloss di bibirnya masih mengilap terkena cahaya mall. Seragam sekolahnya tetap terlihat modis meski hari hampir senja. Seolah Alvira memang diciptakan untuk selalu terlihat bersinar di mana pun berada.

Kinasih menghela napas kecil.

Tangannya memeluk tas yang tergantung di depan dada semakin erat. Jujur saja, kalau bukan karena paksaan Alvira, ia pasti sudah memilih pulang sejak tadi. Ada rasa lelah yang aneh memenuhi dirinya. Bukan lelah fisik. Melainkan lelah karena terlalu banyak berpikir.

Kemudian tanpa sadar, Kinasih menoleh sekilas ke belakang. Dua pemuda yang berjalan beberapa langkah di belakang mereka tampak sama diamnya.

Prabu berjalan santai dengan hoodie hitam khasnya dan salah satu tangan masuk ke saku celana. Kepalanya sedikit menunduk menatap layar ponsel seperti biasa, seolah hiruk-pikuk mall terlalu tidak penting untuk menarik perhatiannya.

Sementara Davin—untuk pertama kalinya, pemuda paling berisik di antara mereka itu justru memilih diam. Tak ada celotehan. Tak ada godaan receh. Tak ada tawa keras yang biasanya memenuhi perjalanan mereka.

Dan entah kenapa—justru itu yang terasa paling aneh bagi Kinasih.

Karena Davin yang diam terasa seperti langit yang kehilangan matahari. Sunyi. Asing. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang sedang sibuk dipikirkan terlalu dalam.

Lampu-lampu mall memantul samar di wajah pemuda itu saat ia berjalan pelan di belakang mereka. Tatapannya kosong lurus ke depan, sementara kedua tangannya masuk ke saku celana. Tak biasanya Davin setenang ini.

Dan tanpa sadar—kesunyian itu membuat dada Kinasih semakin tidak tenang.

“Aku mau ke Gramedia, kamu mau ikut?” Suara Kinasih akhirnya menyela ocehan panjang Alvira yang sejak tadi melompat dari satu topik ke topik lain tanpa arah—tentang skincare mahal, dosen TikTok yang viral, sampai teori anehnya soal cowok ganteng yang pasti suka matcha.

Langkah mereka melambat di tengah ramainya lantai mall. Cahaya toko-toko memantul lembut di permukaan marmer yang licin mengilap. Musik dari berbagai gerai saling bertabrakan di udara dingin ber-AC, bercampur dengan suara langkah kaki, denting lift, dan riuh manusia yang datang dan pergi tanpa jeda.

Alvira menoleh sekilas. Lalu matanya mengembara ke kejauhan, menangkap sebuah gerai makanan di arah kanan koridor—lampunya terang mencolok di antara deretan toko lain. “Nggak ah.” Ia menggeleng cepat sambil menunjuk ke sana. “Gue mau ke sana.”

Kinasih mengikuti arah telunjuk sahabatnya. Bahkan dari jarak beberapa meter, aroma ayam goreng dan kentang panas sudah samar menyeruak di udara dingin mall.

“Oh...” Kinasih mengangguk kecil. “Yaudah.” Jawabannya pendek. Pelan. Hampir tenggelam di tengah bising sekitar.

"Lo mau titip?” tanya Alvira lagi santai sambil merogoh saku rok seragamnya, memastikan sisa uang di sana masih cukup untuk membeli setengah isi gerai.

Kinasih menggeleng pelan. “Nggak. Kamu aja.” Ia mengedikkan bahu ringan sebelum melirik dua sosok tinggi di belakang mereka. “Atau tanyain tuh dua bodyguard di belakang. Kali aja pada mau.”

Alvira langsung menghentikan langkahnya. Ia berputar cepat menghadap belakang bersamaan dengan Kinasih, lalu melipat tangan di depan dada dengan gaya seperti bos besar sedang briefing bawahan.

“Gue mau ke sana.” Dagunya menunjuk gerai makanan tadi. “Kalian mau ikut?”

Dua pemuda di belakang mereka menggeleng hampir bersamaan. Tanpa suara. Tanpa minat.

Alvira mengangkat satu alis. “Mau titip?”

Lagi-lagi mereka menggeleng.

Hening sepersekian detik.

Dan entah kenapa, Alvira makin bertanya-tanya. Tatapannya langsung berpindah ke Davin yang sejak tadi terlihat jauh lebih diam dari biasanya.

Aneh. Terlalu aneh untuk ukuran manusia yang biasanya nyerocos seperti radio rusak.

Sementara di samping Davin, Prabu tetap berdiri santai dengan hoodie hitam dan satu tangan di saku. Wajahnya setenang biasa. Dingin. Sulit ditebak.

Namun entah kenapa, dibanding Prabu yang memang selalu diam, justru diamnya Davin terasa lebih mengganggu.

“Dav...” Alvira memicingkan mata, geregetan. “Lo sakit?”

Davin yang sedari tadi menghindari kontak mata akhirnya melirik malas. “Nggak.”

“Masa?” Nada Alvira sengaja dibuat menyebalkan. Ia memiringkan kepala, memainkan ujung rambut ikalnya sambil menatap Davin dengan senyum tengil setengah jadi. Menggoda.

Dan seperti biasa, berhasil.

Kali ini Davin benar-benar menoleh menatapnya dengan wajah jengkel. “Kenapa emang? Kepo amat.”

“Yaelahh...” Alvira terkekeh tengil. “Judes amat sih.” Tanpa aba-aba, gadis itu mendekat cepat dan langsung berjinjit, mengacak rambut Davin seenaknya.

Rambut hitam klimis itu langsung sedikit berantakan.

“EHHH!” Davin langsung memekik protes sambil refleks merapikan rambutnya lagi dengan panik. “Apaan sih!”

Dan sepersekian detik kemudian, Alvira memasang wajah jijik. “Iiiih.” Ia buru-buru mengelap telapak tangannya ke lengan jaket Davin. “Lengket banget anjir." Ia bahkan sampai mencium telapak tangannya sendiri dengan ekspresi menderita. “Kok lo tahan sih rambut lo dikasih pomade segini banyak?” gerutunya. “Nggak pengap emang?”

Lihat selengkapnya