Kinasih sejak tadi terus menggigit bibir bawahnya pelan. Pikirannya berlarian ke mana-mana tanpa arah, membuat kepalanya terasa penuh sendiri.
Deretan judul buku di rak-rak tinggi Gramedia tampak berbayang di matanya, huruf-hurufnya seperti menari dan saling bertabrakan setiap kali ia mencoba fokus membaca.
Padahal penglihatannya baik-baik saja.
Ia bahkan terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam menatap halaman buku tanpa lelah. Namun sekarang, pikirannya sendiri yang mengacaukan semuanya.
Sial memang.
Sejak kejadian di depan toko tadi, jantungnya belum benar-benar kembali normal. Setiap kali mengingat bagaimana lengan Prabu melingkar di pinggangnya, wajahnya langsung memanas sendiri seperti orang demam.
Sementara penyebab kekacauan itu?
Santai sekali.
Sosoknya malah berdiri beberapa rak darinya dengan ekspresi datar khasnya. Hoodie hitamnya terlihat kontras di antara warna-warni sampul buku dan lampu putih toko yang terang. Pemuda itu bahkan tampak sama sekali tidak terusik oleh kejadian beberapa menit lalu.
Malah sibuk menimbang dua buku di tangannya. Tatapannya turun bergantian ke dua cover berbeda, seolah hidupnya benar-benar damai.
Seolah kalaupun ia menghampiri Kinasih sekarang, yang keluar dari mulutnya paling cuma—
“Bagusan cover yang ini apa yang ini?”
Atau mungkin—
“Suka bau buku baru apa buku lama?”
Haaahhhh...
Kinasih mengembuskan napas panjang dalam hati sambil memijat pelipisnya sendiri pelan. Ia benar-benar mulai capek oleh pikirannya sendiri.
Karena jujur saja, tadi ia sempat berharap Prabu akan sedikit salah tingkah juga. Minimal terlihat canggung. Atau menghindarinya setiap mereka tak sengaja berpapasan di antara rak buku.
Tapi kenyataannya?
Tidak ada.
Pemuda itu tetap tenang seperti biasanya.
Dingin. Stabil. Sulit dibaca.
Yang malah kabur-kaburan justru dirinya sendiri. Setiap kali melihat sosok tinggi itu muncul di ujung lorong rak, Kinasih langsung buru-buru pindah bagian lain seperti buronan yang sedang menghindari razia.
Dan sialnya, tubuh Prabu terlalu mencolok untuk diabaikan. Tinggi besar pemuda itu membuatnya terlihat seperti gapura kabupaten yang tiba-tiba berdiri di tengah Gramedia.
Mau bersembunyi di mana pun, tetap kelihatan.
Akibatnya, Kinasih malah bergerak mondar-mandir tidak jelas dari rak novel ke rak pendidikan, lalu nyasar ke bagian alat tulis, sebelum akhirnya balik lagi ke rak novel tanpa sadar. Persis orang yang sedang dikejar debt collector.
“Ini saja yang dibeli, Kak?”
Suara kasir itu meluncur ringan di tengah sunyinya lorong buku. Samar, namun cukup jelas untuk sampai ke telinga Kinasih yang masih berdiri kaku di balik rak bagian novel terjemahan.
“Iya.”
Deg.
Suara itu. Rendah. Tenang. Datar seperti permukaan danau malam hari.
Lalu—
Bip. Bip.
Suara mesin pemindai barcode memecah hening kecil di dalam kepala Kinasih.
Gadis itu refleks mengangkat wajah sedikit, mengintip hati-hati dari sela rak buku.
Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat punggung tinggi Prabu di dekat meja kasir. Hoodie hitamnya tampak kontras di bawah cahaya putih toko.
“Cepet banget...” gumam Kinasih lirih pada dirinya sendiri.
Padahal beberapa menit lalu pemuda itu masih berdiri santai di rak sebelah sana, membolak-balik buku seperti orang yang tidak punya tujuan pulang. Dan sekarang tiba-tiba saja sosoknya sudah berpindah ke hadapan kasir.
Apakah pemuda itu keturunan flash?
Kinasih melirik sekilas ke arah rak di dekatnya. Tangannya bergerak, menyambar satu buku yang tadi sempat menarik perhatiannya tanpa benar-benar memastikan benarkah buku itu yang ingin ia beli. Yang penting ada sesuatu di tangannya. Sesuatu untuk mengalihkan kepalanya yang sejak tadi terasa terlalu ramai.
Jujur saja, sejak kejadian di luar tadi, pikirannya sudah tidak bisa diajak bekerja sama.
Detak jantungnya masih aneh. Pinggangnya bahkan seperti masih menyimpan bekas hangat tangan Prabu. Membuatnya merinding setengah mati.
Sial.
Kinasih langsung mendekap buku itu erat-erat ke dada, seolah benda tipis bersampul glossy itu mampu menenangkan dirinya. Namun matanya tetap waspada mengarah ke meja kasir.
Prabu masih berdiri di sana. Tenang seperti biasa. Satu tangan masuk ke saku hoodie, sementara tangan satunya menerima kantong belanja dari kasir tanpa ekspresi berarti. Tidak ada tanda gugup. Tidak ada salah tingkah. Tidak ada wajah merah memalukan seperti dirinya.
Dan entah kenapa, itu justru membuat Kinasih semakin kesal pada dirinya sendiri.
Kenapa cuma dia yang panik setengah mati?
Seolah baru menyadari sesuatu, Prabu tiba-tiba mengangkat wajah. Matanya bergerak pelan menyapu area toko. Mencari sesuatu. Atau... seseorang.