Bara di dalam Salju

Gema Senyap
Chapter #7

Bab 5

Kinasih terdiam sambil mengunyah snack di tangannya perlahan. Suara renyah kecil itu nyaris tenggelam oleh sunyi kamar yang menggantung lembut di sekelilingnya.

Lampu belajar di sudut meja memancarkan cahaya kekuningan yang hangat, menimpa tumpukan buku, catatan fisika, sticky notes warna-warni, dan pensil-pensil yang berserakan tidak beraturan.

Namun pikirannya sama sekali tidak berada di kamar itu. Matanya terus tertahan pada satu benda di hadapannya. Sebuah buku bersampul glossy biru muda.

Permukaannya memantulkan cahaya lampu tipis-tipis. Warnanya hampir sama dengan buku yang tadi salah ia ambil di Gramedia. Namun kali ini judulnya berbeda.

Benar.

Ini buku yang sejak awal ingin ia beli.

Jemari Kinasih bergerak pelan menyentuh sampulnya, seolah masih memastikan benda itu nyata dan bukan hasil halusinasi akibat hari yang terlalu melelahkan.

Hening.

Lalu helaan napas kecil lolos begitu saja dari bibirnya.

Pikirannya kembali mundur pada beberapa jam lalu.

Pada lorong terang di depan kasir Gramedia. Pada suara bip mesin barcode yang masih samar terngiang di telinganya. Pada sosok tinggi ber-hoodie hitam yang tiba-tiba muncul begitu saja di samping meja kasir seperti bayangan yang sejak tadi diam-diam memperhatikannya.

Prabu.

Pemuda itu bahkan tidak banyak bicara. Tak ada ekspresi dramatis. Tak ada senyum jahil. Tak ada nada sok menolong seperti tokoh laki-laki di novel-novel romantis yang sering diam-diam Kinasih baca sebelum tidur.

Kemudian tiba-tiba muncul—lagi—di depannya setelah keluar dari kasir, menyodorkan buku itu kepadanya dengan wajah setenang langit mendung.

Sudah. Sesederhana itu.

Bahkan pemuda itu bahkan tidak mengecek ulang apakah benar buku mereka tertukar atau tidak. Tidak bertanya macam-macam. Tidak menuntut penjelasan apapun. Seolah semua kekacauan tadi bukan hal besar baginya.

Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Kinasih semakin tidak tenang. Karena bagaimana bisa seseorang terlihat setenang itu... setelah berkali-kali membuat orang lain hampir mati malu?

Kinasih memejamkan mata frustrasi. Kemudian terbuka perlahan. Matanya perlahan bergerak ke samping meja.

Dompet mini bergambar kucing itu kini tergeletak manis di atas tumpukan buku sains-nya.

Kecil. Diam. Tidak berdosa.

Padahal benda itu tadi hampir membuat hidup Kinasih tamat di meja kasir.

Ternyata dompet itu memang jatuh sejak sebelum ia masuk Gramedia. Tepat setelah insiden memalukan di depan Gramedia tadi.

Saat tubuhnya hampir tersungkur. Saat seseorang menariknya ke belakang. Saat tangan besar itu melingkar di pinggangnya. Saat suara rendah Prabu terdengar begitu dekat sampai membuat jantungnya nyaris berhenti bekerja.

Deg.

Wajah Kinasih langsung memanas begitu saja.

Memalukan sekali.

Ia bahkan tidak tahu besok harus bagaimana kalau bertemu pemuda itu lagi.

Sementara Prabu sendiri?

Mungkin sekarang pemuda itu sudah tidur nyenyak tanpa merasa ada yang aneh. Tetap datar. Tetap tenang. Tetap menyebalkan dengan caranya sendiri.

“Ya ampun...” lirihnya pelan. Refleks, gadis itu menjatuhkan wajahnya ke meja belajar.

Bruk.

Pipinya menempel pada permukaan kayu dingin sementara kedua tangannya menutupi sebagian wajah yang sudah merah sampai telinga.

Insiden demi insiden tadi siang kembali berputar jelas di kepalanya seperti potongan film yang dipaksa diputar ulang tanpa ampun.

Dan itu masalah besar. Karena Kinasih benci kenyataan bahwa otaknya mengingat detail-detail tidak penting seperti itu.

Lihat selengkapnya