Bara di dalam Salju

Gema Senyap
Chapter #8

Bab 6

Minggu pagi di Jakarta selalu terasa aneh bagi Kinasih. Tidak benar-benar sepi, namun juga belum cukup ramai untuk terasa sesak.

Suara kendaraan masih mengalir tanpa putus di jalanan ibu kota, bercampur klakson pendek, deru motor, dan desis angin panas yang memantul dari aspal.

Udara pagi membawa aroma khas kota besar—debu, asap kendaraan, serta sisa embun yang kalah cepat menguap sebelum siang benar-benar datang.

Kinasih turun dari angkutan umum sambil mengusap pelan dahinya yang mulai berkeringat. Tas putih kecil di bahunya bergeser turun akibat gerakan tergesa tadi. Rok selututnya ikut berkibar kecil diterpa angin jalanan yang hangat.

Panas.

Padahal jam baru menunjukkan pukul 11 lewat sedikit.

Kinasih berdiri sejenak di tepi trotoar, membiarkan beberapa motor melintas lebih dulu sebelum menyeberang. Jemarinya merogoh ponsel dari dalam tas, lalu membuka kembali pesan terakhir dari Alvira semalam di grup.

Minggu. Jam 11. Depan kafe aja. Jangan telat. Gue gampar.

Kinasih menatap pesan itu beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya menggeleng kecil. Sudut bibirnya bergerak tipis.

Alvira memang ajaib. Bahkan lewat chat pun, gadis itu masih terdengar seperti sedang berteriak tepat di depan wajah orang.

Kinasih mengangkat kepalanya perlahan.

Tatapannya jatuh pada bangunan kafe dua lantai di seberang jalan. Dinding bagian depannya didominasi kaca besar yang memantulkan cahaya matahari pagi. Tanaman rambat menjuntai di beberapa sisi balkon lantai dua, memberi kesan teduh di tengah kerasnya warna abu-abu kota.

Tidak terlalu mewah. Namun terlihat nyaman. Dan entah kenapa, bagian depan kafe itu justru lebih menarik perhatian Kinasih.

Beberapa meja kayu tertata rapi di area luar, tepat di bawah pohon rindang berdaun lebat yang menaungi sebagian halaman kafe. Bayangan daun bergerak pelan di atas permukaan meja, menari lembut setiap kali angin lewat.

Suasana di sana terasa lebih tenang dibanding jalan raya di sekitarnya.

Beberapa orang duduk santai dengan laptop terbuka dan secangkir kopi di tangan. Ada pasangan muda yang sibuk mengambil foto minuman mereka sebelum diminum. Di sudut lain, seorang pria membaca buku sambil sesekali menyeruput espresso.

Kinasih memandangi semuanya beberapa saat sembari berjalan mendekat pelan.

Hari itu, Kinasih terlihat jauh berbeda dari biasanya.

Rambut hitam panjangnya tak lagi dibiarkan jatuh begitu saja di punggung, melainkan diikat tinggi membentuk ekor kuda sederhana. Pita biru dongker melingkar manis di sana, senada dengan rok yang dikenakannya pagi itu. Beberapa helai poni tipis jatuh lembut di dahinya, membingkai wajah mungilnya dengan cara yang membuatnya tampak lebih ringan. Lebih lembut.

Blouse putih berlengan pendek yang ia pakai ikut memberi kesan rapi dan manis—jenis penampilan yang diam-diam membuat orang ingin menoleh dua kali.

Namun tentu saja, Kinasih tidak menyadari itu sama sekali.

Kinasih memilih duduk di bangku kayu panjang paling ujung, tepat menghadap jalan raya. Bangku itu cukup panjang untuk tiga sampai empat orang. Tas putih kecilnya ia letakkan di samping sebelum tubuhnya sedikit bersandar lega. Setidaknya tempat itu terlindung dari sengatan matahari Jakarta yang sejak pagi sudah terasa menyebalkan.

Ia mengembuskan napas pelan.

Suara kota mengalun samar di sekitar. Deru kendaraan bercampur denting gelas dari dalam kafe, bunyi mesin kopi, dan alunan jazz ringan yang mengalir pelan dari speaker luar. Angin bergerak malas di sela dedaunan rindang di atas kepalanya, membuat bayangan cahaya menari lembut di permukaan meja kayu.

Untuk sesaat... semuanya terasa tenang.

Kinasih menopang dagu sambil memandangi jalanan di depannya. Pikirannya mengembara ke mana-mana. Tentang semalam. Tentang ibunya. Tentang dirinya sendiri yang belakangan terasa semakin sulit dipahami.

Matanya masih sedikit berat akibat menangis tadi malam. Untung saja sembab di bawah matanya cukup tertutup bedak tipis. Kalau tidak, Alvira pasti sudah ribut setengah mati sambil memaksa interogasi di tempat umum.

Kinasih menghela napas kecil lagi.

Lalu, sebuah gelas minuman dingin tiba-tiba muncul tepat di depan wajahnya. Butiran air dingin menempel di permukaan plastik beningnya, turun perlahan membentuk jejak kecil.

“Pegang.”

Suara datar itu langsung membuat Kinasih refleks menoleh cepat.

Dan entah sejak kapan, Prabu sudah duduk di sampingnya. Duduk santai dengan satu tangan bertumpu di sandaran bangku.

Topi baseball hitam menutupi sebagian rambutnya, sementara hoodie navy yang ia pakai membuat tubuh tingginya terlihat makin lebar di bangku sempit itu. Bagian bawah kaos putih polos tampak sedikit keluar dari balik hoodie navy-nya. Sederhana. Bersih. Justru memberi kesan rapi tanpa terlihat berusaha terlalu keras. Celana loose putih dan sepatu sneakers sederhana melengkapi penampilannya yang nyaris tanpa usaha.

Sebuah kalung rantai tipis menggantung samar di lehernya. Liontin kecil berbentuk lingkaran perak bergerak pelan saat ia menyandarkan tubuh ke kursi, memantulkan cahaya matahari pagi yang menembus sela dedaunan rindang di atas mereka.

Simple. Sangat simple.

Namun anehnya, justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.

Prabu seperti tipe orang yang tidak berniat terlihat menarik, tapi tetap saja berhasil mencuri perhatian hanya dengan diam. Tidak mencolok. Tidak berisik. Namun keberadaannya terasa penuh.

Dan sialnya, Kinasih selalu menyadari itu. Sejak dulu.

Tatapan gadis itu sempat tertahan beberapa detik lebih lama pada garis rahang pemuda di sampingnya, pada hidung tegasnya, pada cara Prabu menatap lurus ke depan dengan ekspresi tenang seolah dunia tidak pernah benar-benar mampu mengusiknya.

“Ngalamun.” Prabu kembali bersuara pelan. Kali ini tangannya menggoyangkan gelas plastik bening di depan Kinasih hingga bongkahan es di dalamnya saling beradu pelan.

Krek. Krek.

Suara kecil itu entah kenapa terdengar jelas di tengah riuh kota Minggu pagi.

Kinasih langsung tersentak kecil. Tangannya yang sejak tadi menopang dagu buru-buru turun ke pangkuan. Wajahnya memanas seketika. Rasanya seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan.

Menatap terlalu lama, misalnya.

“Aku?” tanyanya gugup, meski jelas pertanyaan itu bodoh karena di bangku itu hanya ada mereka berdua.

Prabu melirik sekilas. Singkat. Lalu kembali menatap jalanan di depan sana. “Hm.”

Kinasih makin salah tingkah. Pandangannya turun ke gelas dingin di tangan pemuda itu sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya pelan, “Buat aku?”

Prabu diam sepersekian detik. Ia menyesap minumannya santai, seolah sengaja membiarkan Kinasih menunggu jawaban. Baru setelah itu sudut bibirnya bergerak tipis nyaris tak terlihat.

“Buat orang lewat.”

Nada suaranya datar seperti biasa. Namun entah kenapa terdengar sedikit kesal. Atau mungkin hanya perasaan Kinasih saja. Dan itu sukses membuat gadis itu meringis malu sendiri.

“Ma-makasih...” lirihnya cepat.

Ia menerima gelas itu hati-hati sebelum langsung menyeruput minuman dingin tersebut. Rasa manis cokelat dan dingin es langsung mengalir di tenggorokannya, menyapu hawa panas yang sejak tadi memenuhi tubuhnya.

Dan sialnya—itu minuman favorit-nya.

Kinasih diam beberapa detik sambil memandangi permukaan es yang bergerak pelan di dalam gelas. Kepalanya kembali dipenuhi pertanyaan aneh.

Kebetulan? Atau Prabu memang tahu?

Namun sebelum pikirannya makin liar—

“PRABUUUU!”

Suara cempreng itu meledak nyaring dari arah park and ride seperti sirene darurat.

Lihat selengkapnya