Bara di dalam Salju

Gema Senyap
Chapter #9

Bab 7

Kafe berlantai dua itu tidak terlalu ramai pagi itu. Hanya ada beberapa orang mengantre di depan kasir sambil sibuk menunduk menatap layar ponsel masing-masing.

Mesin kopi berdengung pelan dari balik meja barista, diselingi suara es yang dituangkan ke dalam gelas plastik dan denting sendok kecil yang beradu dengan kaca.

Aroma susu, kopi, dan karamel menggantung hangat di udara dingin pendingin ruangan. Manis. Menenangkan.

Kinasih berdiri di samping Alvira sambil memandangi sahabatnya yang sejak tadi menatap papan menu digital dengan wajah serius setengah mati.

Alisnya sampai mengerut. Bibirnya mengerucut tipis. Bahkan tangannya terlipat di dada seperti dosen sedang menilai skripsi mahasiswa.

“Kamu lama banget milihnya,” gumam Kinasih akhirnya sambil melirik jam di ponselnya.

Alvira tidak langsung menjawab. Tatapannya masih naik turun membaca daftar topping dan level gula seolah hidupnya benar-benar dipertaruhkan di sana.

“Minuman tuh soal prinsip hidup.” Jawabannya terdengar penuh keyakinan.

Kinasih langsung menoleh dengan ekspresi bingung setengah mati. “Apaan sih?”

Alvira akhirnya memalingkan wajah pelan. Tatapannya tajam dramatis. “Kalau salah pilih topping...” katanya pelan seolah sedang menyampaikan filosofi besar kehidupan, “hidup bisa hancur.”

Hening sepersekian detik.

Lalu Kinasih mendengus kecil sambil menggeleng geli.

Ada-ada saja.

Lalu tiba-tiba—

“Kalian dari dulu deket banget ya?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Kinasih di tengah aroma kopi dan susu manis yang memenuhi udara kafe.

Alvira yang sejak tadi serius memperhatikan daftar menu langsung menoleh bingung. “Siapa?”

“Kamu sama manusia kutub itu.”

Nada Kinasih terdengar santai. Seolah tidak sedang membahas sesuatu yang sejak dulu diam-diam mengganggu kepalanya sendiri.

Alvira sempat terdiam sepersekian detik. Lalu, “Pffft—” Tawanya langsung pecah. “Manusia kutub?” ulangnya sambil menahan tawa. Bahunya sampai bergetar kecil. Jemarinya tetap menunjuk dua menu minuman ke arah kasir, namun matanya kini penuh geli menatap Kinasih.

“Iya.” Kinasih mengangguk mantap. “Prabu.”

Dan itu malah membuat Alvira makin tergelak. “Ya ampun...” Gadis itu sampai memegangi perutnya sendiri. “Masa iya sih?”

“Iyaaa,” rengek Kinasih gemas.

Alvira masih tertawa kecil sambil menggeleng. “Nggak ah. Biasa aja.”

Kinasih langsung berdecak pelan. “Dibilangin juga.”

Nada suaranya mulai mengecil. Sedikit lebih hati-hati. Sedikit lebih serius. Matanya melirik sekilas ke arah luar kafe, tempat Prabu dan Davin masih duduk dan ngobrol santai di bawah pohon rindang. Lalu kembali pada Alvira.

“Jujur deh sama aku,” gumamnya pelan. “Aku janji nggak bakal ngomong ke siapa-siapa. Bahkan ke Davin juga nggak.”

Ekspresi Alvira mulai berubah bingung.

Sementara Kinasih menatapnya penuh curiga. “Kalian pacaran ya?” tanyanya akhirnya. “Kamu sama Prabu?”

“HAH?” Alvira spontan mendelik lebar. Tangannya langsung menutup mulut sendiri, seolah takut tawanya meledak terlalu keras di depan kasir. “Najis banget!” serunya tertahan. “Mending gue pacaran sama batu sekalian daripada sama dia.” Ia mengibaskan rambut panjangnya dramatis, membuat aroma sampo mahalnya samar tercium.

Kinasih meringis kecil. “Dih. Jahat banget.”

“Ya emang.” Alvira menerima dua cup minuman dari kasir sekalian membayarnya. Kinasih reflek membantu menusukkan sedotan ke salah satunya, dibalas senyum manis oleh gadis itu. “Lo tau nggak sih,” lanjut Alvira sambil mengajak Kinasih minggir dari antrean, “susahnya ngobrol sama dia?”

Kinasih langsung mengangguk cepat. “Tau.”

“Kadang gue ngomong lima paragraf...” Alvira mengangkat bahu pasrah. “Dia cuma jawab satu kata. ‘Hmm’ doang.”

Kinasih langsung membayangkan itu. Dan sialnya, memang benar.

“Apa nggak gila gue kalau pacaran sama manusia begitu?” lanjut Alvira sambil menyeruput minumannya.

Mereka berhenti di dekat x-banner menu makanan yang berdiri di sisi pintu masuk. Dari sana, dua sosok laki-laki di luar masih terlihat jelas.

“Bener juga sih...” gumam Kinasih pelan.

“Nah kan.” Alvira tersenyum puas.

Namun Kinasih masih belum sepenuhnya percaya. “Tapi kalian keliatan deket banget,” katanya lagi sambil mengernyit bingung. “Kayak orang pacaran.”

Alvira menyeruput minumannya sekilas sebelum melirik malas. “Gue juga deket sama Davin.” Alisnya terangkat sebelah. “Lo mau nuduh gue pacaran sama Davin juga?”

Kinasih langsung terdiam. “Eh...” Ia berkedip beberapa kali. “Ya nggak juga sih.” Kemudian gadis itu mendesah kecil sambil mengacak ujung rambut ponytail-nya sendiri. “Maksud aku tuh...” gumamnya pelan, “kok kamu bisa akrab sama orang yang nggak banyak ngomong?” Matanya kembali melirik Prabu. Pemuda itu masih ngobrolsantai dengan wajah setenang biasanya. “Padahal kamu kan bawel banget,” lanjut Kinasih tanpa dosa. “Kayak knalpot bocor.”

“Heh!” Alvira menampol pelan lengan Kinasih.

“Kalo sama Davin sih nggak usah ditanya.” Kinasih terkekeh kecil. “Sefrekuensi kalian. Sama-sama nggak waras.”

Alvira langsung mengernyit pura-pura tersinggung. “Ih, nyebelin banget sih.”

“Lah, nyatanya kan?”

Alvira mendecih geli sebelum akhirnya menghela napas pendek. “Kan gue humble orangnya,” katanya sok bangga. “Mau model manusia kayak apa juga bisa gue jadiin temen.” Lalu bibirnya melengkung jahil. “Apalagi jadi pacar.”

“Heh.” Kini Kinasih yang balas menampol lengan Alvira.

Alvira tertawa kecil sebelum kembali menatap ke arah luar kafe. “Tapi kalau sama Prabu?” Ia menggeleng pelan. “Ogah ah.”

“Padahal ganteng,” celetuk Kinasih spontan.

“Banget malah,” sambung Alvira cepat.

Dan anehnya, jawaban itu justru membuat dada Kinasih terasa sedikit aneh.

“Tapi...” Alvira kembali melanjutkan, kali ini lebih tenang, “gue nggak mau makan hati kalau pacaran sama orang kayak dia.”

Kinasih terdiam.

“Bayangin aja,” lanjutnya lirih, “masa gue mulu yang ngajak ngobrol? Gue capek sendiri nanti.”

Angin pagi bergerak pelan dari arah luar, menggoyangkan ujung rambut mereka.

“Berasa cinta sepihak,” gumam Alvira sambil menyeruput minumannya lagi.

Kinasih tak langsung menjawab. Matanya kembali jatuh pada Prabu. Pada sosok tinggi yang duduk diam di luar sana dengan ekspresi teduh yang sulit ditebak.

Dan entah kenapa, ia masih sulit percaya kalau pemuda seperti itu benar-benar akan membiarkan seseorang merasa sendirian.

Bukankah orang yang diam justru sering memperhatikan lebih banyak? Bukankah kadang... perhatian kecil yang tidak diucapkan jauh lebih terasa dibanding ribuan kata?

Pikirannya tiba-tiba kembali pada Gramedia semalam. Tentang tangan besar yang menahannya agar tidak jatuh. Tentang buku yang diam-diam tertukar atau memang sengaja diberikan. Tentang dompet mininya yang ditemukan tanpa ribut.

Prabu memang tidak banyak bicara. Namun setiap tindakannya terasa jelas. Talk less, do moreceunah. Dan sialnya, justru itu yang membuat dada Kinasih perlahan semakin sulit tenang.

“Tapi serius deh...” Kinasih akhirnya kembali bersuara pelan setelah beberapa saat terdiam. Jemarinya memainkan ujung tas kecil-nya. “Kok kamu bisa temenan sama Prabu sih? Gimana ceritanya?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Pertanyaan yang sejak dulu berputar-putar di kepalanya seperti benang kusut yang tidak mau diam.

Alvira langsung menoleh cepat dengan ekspresi tak percaya. “Loh?” Alisnya terangkat tinggi. “Lo nggak tau?”

Kinasih mengernyit bingung. “Nggak tau apa?”

“Nggak tau kalo gue sama Prabu itu—”

“Vir.” Suara lain tiba-tiba menyela.

Kinasih dan Alvira spontan menoleh bersamaan. Dan entah sejak kapan, dua sosok laki-laki itu sudah berdiri di dekat mereka.

Davin muncul lebih dulu dengan rambut klimis rapi dan wajah tengil khasnya, sementara Prabu berdiri sedikit di belakang dengan ekspresi setenang biasanya.

“Pantesan lama banget,” lanjut Davin sambil memasukkan tangan ke saku celana. “Ternyata lagi ngegosip.” Nada suaranya penuh sindiran malas.

Alvira langsung memutar mata malas. “Iyeee,” balasnya tanpa dosa. “Ngegosipin elu. Nape? Kagak terima?”

Lihat selengkapnya