Bus itu sudah nyaris penuh saat mereka naik. Suara mesin tuanya berdengung kasar dari bawah lantai kendaraan, bergetar sampai ke telapak kaki. Aroma bensin bercampur parfum murahan, keringat, dan udara pagi Jakarta yang pengap menyesaki ruang sempit di dalam bus.
Orang-orang berdiri rapat sambil berpegangan pada besi atas yang bergoyang tiap kendaraan itu mengerem. Seorang ibu memeluk kantong belanja di dada. Anak kecil menangis minta duduk dekat jendela. Sementara suara kernet bercampur obrolan penumpang saling bertabrakan memenuhi udara.
Di tengah riuh seramai itu, Alvira masih sempat-sempatnya mendorong punggung Davin dari belakang. “Cepetan napa sih, Dav! Bangku belakang tuh!” serunya sambil menusuk punggung pemuda itu dengan telunjuk tanpa ampun.
Wajahnya sudah setengah meringis jijik tiap kali tubuhnya tak sengaja bersenggolan dengan penumpang lain. Apalagi beberapa bapak-bapak di sekitar mereka membawa aroma keringat bercampur matahari yang cukup membuat Alvira hampir kehilangan keanggunannya.
“Lo nyuruh gue lari di bis goyang begini?” Davin mendelik sambil terus menerobos kerumunan. “Mau gue nyungsep sekalian?”
Alvira mendecih. “Yaudah sih, nyungsep aja. Sekalian jadi hiburan penumpang.”
“Setan.”
Kinasih yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggigit bibir menahan tawa. Kadang ia heran sendiri bagaimana dua manusia itu bisa ribut tanpa kehabisan bahan setiap harinya. Bahkan di tempat sesesak ini pun dua manusia itu masih sempat ribut seperti anak kecil.
Untung saja bangku panjang paling belakang masih cukup kosong untuk berempat. Bangku memanjang yang menempel di sisi belakang bus itu sedikit lebih tinggi dari kursi lain, menghadap lurus ke depan dengan jendela besar tepat di belakangnya.
Alvira langsung menjatuhkan diri di ujung kiri seolah takut tempatnya direbut orang sedetik saja terlambat.
“Haahhh… akhirnya dapet duduk juga,” keluhnya dramatis sambil mengipas lehernya yang mulai berkeringat.
Davin duduk di sebelahnya sambil meringis kecil karena lututnya sempat membentur besi kursi. “Salah sendiri milih bis ini,” gerutunya. “Udah tau penuh, malah lo stop. Rasain sekarang.”
Alvira melirik sinis dengan bibir mengerucut. “Ya maap. Adanya bis ini doang yang mau berhenti. Dari tadi bis lain lewat mulu.”
"Makanya pake mobil aja tadi,” gerutu Davin. Alisnya menukik kesal.
“Kan gue pengen healing membumi,” balas Alvira tanpa dosa.
Davin mendecih. “Healing apaan? Ini mah survival.”
Kinasih terkekeh kecil mendengar mereka. Lalu ia memilih duduk di sisi dekat jendela belakang. Jendela itu terbuka setengah. Membiarkan angin kota masuk bersama suara bising jalanan dan aroma aspal yang dipanaskan matahari siang.
Dan tanpa perlu diberi tahu, Prabu otomatis mengambil tempat di sampingnya. Tubuh tinggi pemuda itu membuat bangku belakang yang sebenarnya cukup panjang terasa mendadak sempit.
Bus kembali bergerak.
Pelan pada awalnya, lalu sedikit menghentak saat keluar dari halte kecil di pinggir jalan. Getaran mesin tua itu merambat sampai ke bangku paling belakang, membuat seluruh tubuh penumpang ikut bergoyang samar. Kinasih refleks memegang sisi kursi ketika tubuhnya terdorong kecil ke samping.
Jendela di dekatnya terbuka setengah. Angin pagi langsung masuk tanpa permisi, menerbangkan poni tipis yang baru semalam ia potong.
Helaian rambut itu bergerak lembut menutupi sebagian matanya sebelum kembali tersapu angin. Pita navy di ekor kudanya ikut bergoyang pelan mengikuti arah udara.
Udara sebenarnya cukup panas.
Aspal jalan memantulkan hawa gerah yang bahkan terasa sampai ke dalam bus. Namun entah kenapa, angin jalanan yang bercampur aroma pohon, debu kota, dan sisa hujan semalam justru membuat suasana terasa nyaman dengan cara yang aneh.
Kinasih menopang dagu di dekat jendela sambil memandangi kota yang bergerak mundur perlahan.
Pohon-pohon rindang di trotoar. Warung kaki lima yang ramai pembeli. Motor-motor yang menyalip seenaknya di sela kendaraan. Lampu merah dengan klakson yang saling bersahutan tanpa sabar.
Jakarta terasa hidup. Berisik. Padat.
Namun anehnya, sudut kecil di bangku paling belakang itu justru terasa jauh lebih tenang dibanding seluruh isi bus.
Alvira masih sibuk ngoceh tentang festival yang ingin ia datangi lebih dulu. Tangannya bergerak ke sana kemari penuh semangat, sementara Davin membalas setengah malas sambil memainkan ponselnya.
“Gue bilang kita masuk wahana dulu.”
“Lo masuk rumah sakit juga gue dukung.”
“Davin, sumpah ya—”