Bus terus melaju membelah padatnya jalan kota. Mesin tuanya berdengung berat di bawah lantai kendaraan, sementara guncangan kecil dari roda yang menghantam jalan berlubang membuat tubuh para penumpang ikut bergoyang samar.
Udara siang masuk lewat jendela belakang yang terbuka setengah, membawa aroma aspal panas, debu jalanan, dan angin kota yang berembus malas.
Namun Kinasih sudah terlalu mengantuk untuk peduli. Kepalanya beberapa kali terangguk pelan ke depan sebelum kembali tegak karena refleks tubuhnya sendiri.
Poni tipis di dahinya bergerak lembut tertiup angin. Kelopak matanya terasa berat, apalagi setelah semalaman nyaris tidak benar-benar tidur.
Sampai kemudian—
CIIITTTT.
Suara rem mendadak memekakkan udara. Seluruh isi bus langsung tersentak keras.
Tubuh para penumpang terdorong ke depan nyaris bersamaan.
Ada ibu-ibu yang spontan memekik kecil. Suara barang jatuh terdengar dari arah depan. Seseorang mengumpat pelan karena hampir kehilangan pegangan.
Bahkan Alvira refleks menjerit sambil memukul pundak Davin yang ikut terlonjak dari duduknya. “ANJIR—!”
“Apaan sih, Vir?!”
Keributan kecil langsung pecah di dalam bus.
Dan di tengah semua itu, Kinasih terbangun. Napasnya tercekat samar. Matanya terbuka perlahan dengan pandangan yang masih kabur akibat kantuk yang belum benar-benar hilang.
Namun sebelum kesadarannya terkumpul sempurna, ia menyadari satu hal.
Ada sesuatu yang hangat menempel di dahinya. Besar. Kokoh. Dan... dekat sekali.
Kinasih berkedip pelan. Pandangannya perlahan fokus sebelum matanya bergerak naik ke atas.
Lalu seketika itu juga, dadanya seperti berhenti berdetak sesaat.
Tangan Prabu.
Telapak tangan pemuda itu tertahan tepat di depan dahinya, menahan tubuh Kinasih sebelum sempat terhempas ke depan akibat rem mendadak tadi.
Jarak mereka terlalu dekat. Terlalu dekat sampai Kinasih bisa melihat jelas garis rahang Prabu di bawah bayangan topi baseball hitamnya. Bisa melihat kantung mata tipis yang masih tertinggal di wajah tenang itu. Bahkan bulu mata pemuda itu tampak jelas dalam jarak sedekat ini. Lentik, tebal dan gelap. Terlalu indah untuk ukuran seorang laki-laki.
Napasnya bahkan terasa dekat. Hangat.
Dan sialnya, Prabu tetap terlihat setenang biasa. Tidak panik. Tidak canggung. Seolah posisi mereka sekarang bukan sesuatu yang mampu membuat jantung orang lain berantakan setengah mati.
Sementara Kinasih?
Dadanya justru langsung dipenuhi suara gaduh yang memekakkan. Degup jantungnya terasa terlalu keras sampai ia takut Prabu ikut mendengarnya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Prabu menarik tangannya pelan dari dahinya. “Bis berhenti mendadak,” ucapnya datar. Tatapannya turun sebentar ke arah Kinasih. Suara rendahnya nyaris tenggelam oleh riuh penumpang di dalam bus. “Lo-nya mau jatoh.”
Entah kenapa, kalimat sesederhana itu justru membuat wajah Kinasih semakin panas. Dan berbeda dengan nada suara Prabu yang tetap tenang dan datar seperti biasa, jantung Kinasih justru semakin ribut bukan main.
Dan sialnya, pemuda itu kembali duduk santai seperti tidak terjadi apa-apa. Seolah hanya Kinasih yang nyaris kehilangan napas.
“Eh, kita turun di sini aja yok. Udah deket juga ke weekend festival.” Suara Alvira mendadak memecah kekacauan kecil di kepala Kinasih.
Gadis itu bangkit lebih dulu dari kursinya sambil menepuk-nepuk rok mini cokelat tua-nya yang sedikit kusut akibat duduk terlalu lama. Rambut panjangnya ikut bergoyang saat ia berdiri di tengah bus yang masih bergerak pelan akibat para penumpang masih ribut pasal rem dadakan tadi.
Davin mengangkat sebelah alis. Tatapannya naik turun menilai Alvira seolah sedang mempertanyakan kewarasan gadis itu.
“Serius? Mau jalan?” tanyanya tidak percaya.
Kepalanya menoleh ke arah luar jendela, memperhatikan deretan jalan yang mulai padat sebelum akhirnya melirik jam tangan hitam di pergelangannya.
“Butuh lima belas menit loh kalo jalan kaki. Kalo lanjut naik bis, paling lima menit lagi nyampe.”
“Jalan aja,” balas Alvira santai. Ia menjinjit sedikit, melongok ke arah depan bus di sela tubuh para penumpang yang berdiri berhimpitan. “Ini kayaknya bakal lama deh.” Wajahnya langsung mengerut tidak nyaman. “Mana gerah banget lagi.” Tangannya mulai mengipasi wajah sendiri dramatis.
Davin mendengus pelan sebelum menyandarkan punggungnya ke kursi. “Gue sih nggak masalah.” Bibirnya tertarik miring penuh sindiran. “Tapi kalo tuan putri solo satu ini kecapekan, gue juga yang repot nanti.”
Kinasih yang mendengar itu langsung menutup mulutnya, menahan tawa agar tidak lepas terlalu keras.
Karena jujur saja, ia cukup yakin ini pertama kalinya Alvira benar-benar naik bus umum. Gadis itu terlalu terbiasa dijemput mobil nyaman ber-AC dengan sopir pribadi.
Dan sekarang mendadak mau jalan kaki lima belas menit di tengah panas Jakarta?
Ajaib.
Alvira langsung menatap tajam. “Siapa putri solo?”
Davin mengedikkan bahu santai seolah tak berdosa. “Yaudah deh, ayo.” Pemuda itu akhirnya bangkit lebih dulu dari kursi, lalu melangkah membelah lautan manusia di dalam bus.
Namun baru dua langkah, ia berhenti dan menoleh ke belakang lagi.
“Tapi kalo nanti tuan putri solo ini kecapekan, gue nggak mau gendong yee.” Senyumnya makin tengil. “Saya bukan asisten pribadi.” Kemudian kembali melangkah seolah tanpa dosa.
“Najis banget sih lo,” desis Alvira kesal. Kakinya sampai menghentak kecil sebelum akhirnya ikut mengekor di belakang Davin sambil sibuk menjaga diri agar tidak bersentuhan dengan penumpang lain. Sesekali wajahnya meringis jijik tiap pundaknya hampir tersenggol orang.
“Permisi... permisi... aduh, panas banget sih...”
Kinasih hanya menggeleng geli melihat tingkah sahabatnya itu. Lalu perlahan ia ikut berdiri dari kursi belakang. Dan seperti biasa, Prabu bergerak menyusul tanpa banyak suara.
Kinasih berjalan lebih dulu di depan, berpegangan pada sandaran kursi agar tidak kehilangan keseimbangan saat bus kembali berguncang kecil.
Sementara Prabu berjalan tepat di belakangnya. Seolah tanpa sadar menjaga langkah Kinasih agar tidak terdorong para penumpang lain.
Dan entah kenapa, keberadaan pemuda itu di belakangnya terasa begitu aman. Seperti tembok sunyi yang selalu ada beberapa langkah di belakang Kinasih, tanpa banyak bicara, tapi diam-diam memastikan ia tetap aman.
Namun—
“Anjing! Bangsat lo!”
Teriakan kasar itu tiba-tiba mengguncang seisi bus. Lalu semuanya terjadi terlalu cepat.
BRUK!
Suara benturan keras membuat para penumpang spontan menoleh panik. Tubuh seseorang terlempar dari arah depan bus, menghantam kursi-kursi dengan brutal sebelum nyaris menubruk ke arah bangku belakang.
Kinasih membelalak kaget. Napasnya tercekat begitu saja. Tubuh mungilnya bahkan nyaris menjadi sasaran jatuh pria itu jika saja, Prabu tidak bergerak lebih dulu.
Refleks. Cepat. Tanpa banyak pikir.
Tangan besar pemuda itu langsung menangkap pinggang Kinasih dan menariknya menjauh bersamaan dengan tubuhnya sendiri.
Dalam satu gerakan spontan, mereka berdua jatuh ke salah satu bangku kosong di sisi bus.
Tubuh Kinasih terdorong ke belakang lebih dulu sebelum pundaknya membentur sandaran kursi. Dan sepersekian detik kemudian, tubuh Prabu ikut tertahan di depannya, melindunginya dari arah keributan.
Degup jantung Kinasih langsung kacau. Bukan cuma karena kaget. Tapi juga karena jarak mereka—lagi-lagi terlalu dekat.
“Nasiiihhhh!”
Suara Alvira terdengar nyaring dari luar bus.
Kinasih yang masih syok spontan menoleh cepat ke arah jendela. Di luar sana, Alvira dan Davin ternyata sudah lebih dulu turun. Berdiri di pinggir jalan sambil melambai panik, menyuruh mereka segera keluar dari bus.
Namun perhatian Kinasih kembali buyar ketika suara makian lain terdengar dari depan. Keributan itu belum selesai.
Orang-orang mulai berteriak panik. Beberapa penumpang buru-buru menjauh. Ada yang memaki sopir karena tidak segera menghentikan keributan.
Sementara Kinasih, masih membeku di tempat.
“Prab—”
“Kita keluar dari pintu belakang.”
Suara Prabu memotong ucapannya tenang. Rendah. Tegas.
Kinasih menoleh perlahan. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal pemuda itu, ia bisa melihat sesuatu yang berbeda di mata Prabu.
Bukan panik. Bukan takut. Tapi kewaspadaan tajam yang membuat sorot matanya terasa jauh lebih serius dari biasanya.
Prabu berdiri lebih dulu. Tubuh tingginya otomatis bergerak sedikit ke depan, menutupi Kinasih yang masih terduduk pucat di belakangnya. Seolah tanpa sadar, pemuda itu menjadikan dirinya penghalang di antara Kinasih dan keributan yang semakin kacau di dalam bus.
“Bisa berdiri?” tanyanya singkat.
Kinasih mengangguk kecil walau jemarinya masih dingin karena syok.
Prabu mengulurkan tangannya. Dan tanpa sempat berpikir panjang, Kinasih langsung meraih tangan itu erat. Hangat. Kokoh. Menenangkan.
Sementara di depan sana, suara bentakan dan dorongan semakin menjadi-jadi, Prabu justru menggenggam tangan Kinasih sedikit lebih erat.
Pria yang tadi melempar lawannya kini kembali maju dengan emosi membara. Wajahnya merah penuh amarah. Tangannya terangkat lagi, siap melayangkan pukulan berikutnya pada pria yang kini tergeletak lemas di lantai bus.
Namun tepat sebelum tinju itu kembali melayang—
“Stop.”
Suara Prabu terdengar rendah. Tidak keras. Tidak membentak. Namun entah bagaimana, satu kata itu cukup membuat gerakan pria tersebut tertahan sepersekian detik di udara.
Suasana bus mendadak terasa menegang.
Prabu berdiri tegak di depan Kinasih. Tubuh tingginya menghalangi sebagian besar pandangan gadis itu terhadap keributan di depan sana. Hoodie navy yang dikenakannya bergerak pelan tertiup angin dari pintu bus yang terbuka.
Matanya menatap pria itu lurus. Datar. Terlalu datar untuk situasi seperti ini.