Bara di dalam Salju

Gema Senyap
Chapter #12

Bab 10

Setelah hampir lima belas menit berjalan menyusuri trotoar yang dipenuhi lalu-lalang manusia dan deru kendaraan, keramaian itu akhirnya mulai menampakkan dirinya dari kejauhan.

Mula-mula hanya suara. Dentingan musik yang samar terbawa angin siang yang terik. Lalu cahaya.

Samar-samar dari kejauhan, beberapa lampu gantung berwarna keemasan mulai terlihat berpendar di antara rimbun pepohonan, seperti bintang-bintang kecil yang sengaja diturunkan ke bumi.

Semakin dekat mereka melangkah, semakin jelas semuanya terlihat.

Weekend Festival.

Tulisan besar itu berdiri megah di atas gerbang masuk, dihiasi lampu neon yang berkedip lembut di bawah langit siang yang begitu panas menyengat. Cahaya matahari memantul di permukaan dekorasi warna-warni, membuat seluruh area tampak hidup dan hangat.

Arus manusia memenuhi pelataran depan tanpa putus.

Ada pasangan muda yang sibuk berfoto di depan papan festival, tertawa saat hasil fotonya dianggap gagal. Sekelompok remaja berlarian melewati mereka sambil membawa kantong belanja dan minuman dingin di tangan. Anak-anak kecil mengejar gelembung sabun yang beterbangan di udara sambil berteriak riang.

Tak jauh dari sana, seorang bocah laki-laki menangis keras karena gulali merah mudanya jatuh ke tanah. Sang ibu berjongkok di depannya, membujuk dengan sabar sambil menggendong bayi yang terus menarik-narik ujung kerudungnya.

Di kejauhan, sebuah komidi putar berputar perlahan. Kuda-kuda kayunya naik turun mengikuti irama musik ceria yang terdengar samar. Cahaya lampunya berkelip lembut, memantulkan warna-warna hangat ke wajah anak-anak yang duduk di atasnya.

"WOOOOO, FINALLY!"

Alvira menjadi orang pertama yang berseru begitu mereka tiba di depan gerbang festival. Suaranya nyaris tenggelam di tengah riuh pengunjung yang lalu-lalang, tetapi tetap cukup nyaring untuk membuat beberapa orang menoleh.

Gadis itu menunjuk ke arah gerbang besar di depan sana seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke taman bermain.

Pipinya memerah tersengat matahari siang. Beberapa helai rambutnya menempel di pelipis karena keringat.

Namun berbeda dari yang dibayangkan Kinasih, Alvira ternyata tidak banyak mengeluh sepanjang perjalanan. Sesekali memang terdengar, "Panas banget sih," atau keluhan kecil tentang tumit sepatunya yang mulai pegal.

Tapi setelah itu ia akan kembali tertawa, kembali berjalan paling depan, seolah rasa lelah tak pernah benar-benar berhasil mengejarnya.

"Anjir, rame banget."

Davin mendongak menatap lautan manusia di balik gerbang sambil mengusap peluh di dahinya. Matanya menyipit ketika cahaya matahari yang jatuh tepat ke wajahnya.

Namun Kinasih justru terdiam. Langkahnya melambat tanpa sadar. Matanya menyapu seluruh pemandangan di depan sana perlahan-lahan.

Cantik.

Itu hal pertama yang muncul di kepalanya.

Festival itu terasa hidup. Terlalu hidup.

Suara tawa berhamburan dari berbagai penjuru. Musik dari panggung utama mengalun samar di kejauhan. Lampu-lampu gantung mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya keemasan yang berpendar di antara pepohonan.

Aroma mentega yang meleleh, gula kapas yang manis, daging bakar yang mengepul di atas bara, dan wangi berbagai makanan jalanan bercampur menjadi satu di udara.

Suara para pedagang saling bersahutan, bercampur dengan tawa pengunjung dan alunan musik dari dalam area festival.

"Popcorn caramel! Masih hangat!"

"Tahu bulat di goreng dadakan! Panas! Baru matang!"

"Es krim! Murah, Kak!"

Untuk sesaat, beban yang sejak tadi menggantung di dadanya terasa sedikit terangkat. Semua perlahan memudar, tertelan oleh hiruk-pikuk festival yang seolah menolak memberi ruang bagi kenangan buruk.

Lalu tanpa sadar, pandangannya bergeser. Ke sosok yang berdiri beberapa langkah di sampingnya.

Prabu.

Pemuda itu masih berdiri dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku hoodie navy-nya. Topi hitam yang dikenakannya sedikit terangkat oleh hembusan angin.

Ia tidak tampak terkesan. Tidak juga terlihat antusias.

Namun entah kenapa, tatapannya tertuju lurus ke depan dengan keseriusan yang membuat Kinasih ikut memperhatikan.

Matanya mengikuti arah pandang pemuda itu. Ke tulisan besar yang berdiri di atas gerbang masuk.

Kinasih mengernyit kecil.

Apa ada yang aneh?

Tulisan itu terlihat biasa saja. Lampunya menyala normal. Tidak ada yang rusak.

Lalu kenapa pemuda itu menatapnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang penting?

Atau mungkin memang Kinasih saja yang terlalu sering mencoba menebak isi kepala pemuda itu.

Dan seperti biasa, hasilnya nihil. Sulit sekali membaca seseorang yang bahkan ekspresinya nyaris tak pernah berubah.

"Nasiiihhh!"

Suara Alvira tiba-tiba meledak dari depan.

Membuyarkan lamunan Kinasih seketika. Ia berkedip, lalu menoleh cepat ke arah sumber suara.

Alvira tengah melambai-lambaikan kedua tangan dengan semangat berlebihan, seolah takut Kinasih hilang ditelan keramaian festival.

"Yok, masuk."

Alvira langsung berlari kecil menghampiri Kinasih dan menggamit lengannya dengan antusias yang nyaris meluap-luap.

Kinasih terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya itu.

"Ayo," jawabnya sambil mengangguk kecil. Namun langkahnya belum juga bergerak. "Tapi kita duduk dulu ya?" Ia mengembuskan napas panjang. "Aku capek banget. Masih untung tadi nggak pingsan di jalan."

Nada memelas itu membuat Alvira spontan menoleh. Tatapannya langsung melembut. Baru sekarang ia benar-benar memperhatikan wajah Kinasih.

Peluh sebesar biji jagung berkilau di sepanjang dahi yang tertutup poni tipis. Pipi gadis itu masih sedikit pucat setelah kejadian di bus. Bahkan napasnya terdengar lebih berat dibanding biasanya.

Rasa bersalah kembali menyelinap ke dada Alvira.

"Okeee..." jawabnya panjang.

Kemudian ia merangkul lengan Kinasih sedikit lebih erat, seolah sedang menghibur anak kecil yang kelelahan.

"Sambil makan..." matanya langsung berbinar. "...arum manis. Mau?"

Kinasih menoleh. Senyum kecil muncul di bibirnya. "Boleh." Lalu senyum itu berubah sedikit jahil. "Tapi kamu yang traktir."

Alvira langsung menyipitkan mata. Ia tahu sekali senyum macam itu. Senyum orang yang sedang memanfaatkan rasa bersalah temannya. Namun bukannya protes, ia malah mendengus geli.

"Boleeehhh." Kali ini ia menyerah dengan sukarela. "Yaudah, yok masuk."

Mereka pun kembali melangkah. Peluh masih mengalir di pelipis. Telapak kaki terasa pegal setelah berjalan jauh. Bahu sedikit berat oleh lelah yang menumpuk sejak siang.

Namun anehnya, tak satu pun dari mereka benar-benar mengeluh. Karena ada kebahagiaan sederhana dalam rasa lelah yang dirasakan bersama. Seolah penat itu menjadi lebih ringan ketika dibagi berempat.

Begitu melewati gerbang, keramaian festival langsung menyambut mereka sepenuhnya.

Lebih hidup. Lebih riuh. Lebih berwarna dibanding yang terlihat dari luar.

Lampu-lampu gantung mulai memancarkan cahaya keemasan di antara pepohonan. Musik dari panggung utama terdengar lebih jelas sekarang, bercampur dengan gelak tawa pengunjung dan suara para pedagang yang saling menawarkan dagangan.

Deretan stan berdiri rapat di kanan dan kiri jalur pejalan kaki; stan makanan. Stan minuman. Permainan. Aksesori. Kerajinan tangan. Pakaian. Bahkan ramalan tarot dan lukis wajah pun ada.

Warna-warni lampu dan spanduk memenuhi pandangan.

Kinasih sampai harus menoleh ke segala arah. Rasanya seperti masuk ke kota kecil yang hanya hidup selama beberapa hari.

Segalanya ada. Segalanya bergerak. Segalanya bernapas.

Dan di tengah lautan manusia itu, mereka berempat kembali berjalan berdampingan, membiarkan diri mereka hanyut perlahan ke dalam hangatnya festival yang baru saja dimulai.

"Duduk di sana aja."

Alvira menjadi orang pertama yang menghentikan langkah setelah beberapa saat mereka sibuk mengagumi suasana festival yang berkilauan di hadapan mereka—setidaknya tiga orang mengaguminya. Prabu tetap sama seperti biasa; datar, tenang, dan sulit ditebak.

Jari telunjuk Alvira mengarah ke sebuah bangku besi panjang yang masih kosong di bawah pohon rindang.

"Kebetulan banget," ujarnya lagi, matanya tiba-tiba berbinar menemukan sesuatu di kejauhan. "Deket sama stan arum manis."

Nada suaranya langsung berubah seperti pemburu yang baru menemukan mangsa.

Kinasih mengikuti arah pandangnya.

Tak jauh dari sana, gulungan-gulungan gula kapas berwarna merah muda dan biru muda berputar pelan di bawah cahaya lampu gantung.

"Oh iya," gumamnya sambil tersenyum. "Bener."

"Lo ke sana dulu aja sama Davin." Alvira mendekatkan wajah ke telinga Kinasih, lalu pura-pura berbisik. "Sama si manusia kutub juga."

Bisikannya begitu keras hingga nyaris terdengar oleh semua orang di radius dua meter.

Kinasih melirik ke belakang. Kemudian ikut mendekat dan pura-pura membalas bisikan itu. "Awas, ntar dia denger." Matanya melirik ke arah Prabu. "Ngamuk lagi."

Alvira langsung memutar bola mata. "Dia kapan pernah ngamuk coba."

"Tadi." Jawaban itu meluncur begitu saja.

Dan sialnya, begitu kata itu keluar, ingatan Kinasih langsung menyeretnya kembali ke dalam bus beberapa saat lalu.

Tamparan keras. Tatapan dingin. Cara Prabu berdiri di depannya. Cara pemuda itu menggenggam tangannya dan menariknya keluar dari keributan.

Ada sesuatu yang hangat sekaligus aneh mengalir pelan di dalam dadanya saat mengingat semuanya. Sesuatu yang membuat tengkuknya meremang tanpa alasan jelas.

Alvira langsung menepuk dahinya. "Oh iya."

Kinasih terkikik pelan.

Sementara Prabu hanya melirik mereka sekilas sebelum memalingkan wajah lagi, seolah terlalu malas menanggapi dua manusia yang sedang menjadikannya bahan candaan.

Davin mendengus. "Kalau mau bisik-bisik, bisa nggak suaranya dipelanin dikit, para tuan putri?"

Ia merangkul bahu Alvira seperti biasa. Refleks. Natural. Sudah seperti kebiasaan sehari-hari.

Alvira langsung menepis tangan itu tanpa ampun. "Ikut campur bae sih lo."

Lalu dalam sekejap wajah judesnya berubah menjadi memelas. Ia menatap Davin dengan mata berbinar-binar.

"Eehh... ikut gue yok beli arum manis."

Kelopak matanya berkedip beberapa kali dengan sengaja.

Davin langsung memasang ekspresi jijik. "Ogah." Tangannya bersedekap. "Duit gue abis."

Alvira berdecak. Tangannya ikut terlipat di depan dada. "Tau aja kalau mau gue suruh traktir."

"Mak Lampir emang."

"Yaudah sih." Alvira mengibaskan tangan. "Kalian duduk aja sana. Mumpung masih kosong."

Kemudian ia menunjuk bangku yang tadi dipilihnya.

"Gue beli arum manis dulu." Dan tanpa menunggu jawaban siapa pun, ia langsung berlari menjauh.

"Iyaaa... jangan lari-lari!" seru Kinasih spontan. "Ntar kesandung!"

Belum sempat kalimat itu selesai sepenuhnya—

Alvira benar-benar tersandung kabel panjang yang melintang di jalur pejalan kaki.

"Eh, anjir!"

Tubuhnya oleng ke depan. Tangannya langsung bergerak panik mencari keseimbangan. Untung saja ia berhasil bertahan sebelum benar-benar mencium aspal festival.

Davin langsung meledak tertawa. "Yaelah!" Sampai harus memegangi perut. "Baru juga dibilang!"

Lihat selengkapnya