Keramaian festival tak pernah benar-benar surut. Justru ketika matahari mulai turun dan langit perlahan dilapisi warna jingga keemasan, jumlah pengunjung semakin bertambah. Arus manusia mengalir dari satu stan ke stan lain seperti sungai yang tak pernah kehabisan arah.
Lampu-lampu gantung semakin banyak yang menyala di antara rimbun pepohonan. Cahaya hangatnya berkelip lembut seperti kunang-kunang yang sengaja dipelihara. Dari panggung utama, musik mengalun semakin jelas, bercampur dengan suara tawa, teriakan permainan, dan panggilan para pedagang.
Aroma mentega cair, daging bakar, gula kapas, jagung panggang dan beberapa makanan lainnya masih memenuhi udara sore yang perlahan mendingin.
Di tengah semua hiruk-pikuk itu, tawa Kinasih pecah pelan.
Tangannya buru-buru menutup mulut yang masih penuh oleh sosis bakar.
Pipi gadis itu menggembung saat mengunyah, membuat Alvira langsung menunjuknya sambil tertawa gemas. "Tuh kan! Lucu banget kalau lagi makan."
Kinasih mendelik malu sambil terus mengunyah. Entah sudah jajanan keberapa yang masuk ke perutnya hari ini.
Es krim. Arum manis. Jagung bakar. Kentang goreng. Minuman manis. Dan kini sosis bakar yang masih tersisa tusukannya di tangannya.
Mereka juga sudah mencoba berbagai wahana sejak tadi. Semuanya menyenangkan. Setidaknya bagi dua orang. Prabu, jelas dia tetap tenang, seolah semua hal yang terjadi tak ada yang istimewa. Dan bagi Davin, hari itu terasa seperti simulasi kematian berkali-kali.
"Nyawa gue cuma satu, Vir."
Kalimat itu sudah keluar entah untuk keberapa kalinya. Kedua tangannya semakin erat memeluk tiang listrik.
Namun Alvira sama sekali tidak tersentuh. "Gue punya serep-nya." Jawaban itu meluncur ringan dari bibirnya saat ia mencoba menyeret Davin menuju wahana kora-kora yang menjulang tidak jauh dari sana.
Mata Davin langsung membelalak. "Anjir. Emang lo kucing? Segala punya serep."
Tubuhnya semakin merapat ke tiang lampu yang berdiri di dekat antrean. Kedua tangannya melingkar erat. Sudah seperti koala yang menolak dipisahkan dari pohon tempat tinggalnya.
Alvira berdecak. Baru kali ini ia menemukan manusia yang bisa lebih lengket daripada permen karet.
"Baru tau lo?" katanya santai. "Gue emang jelmaan kucing." Kemudian ia mengangkat kedua tangannya seperti cakar. "Ngaooong~."
Davin mendelik tidak percaya. Sementara Alvira justru semakin bersemangat menarik jemarinya satu per satu dari tiang tersebut.
"Lepas, Vir! Gue nggak mauuu!" seru Davin histeris.
"Lah ini lagi gue bantu lepas."
Davin menggeleng dramatis. "Bukan itu maksud gueeee!"
Suara Davin nyaris terdengar seperti ratapan. Tubuhnya bahkan mulai bergetar saat satu tangannya berhasil dicopot dari tiang.
"Nggak mauuu..." Nada suaranya berubah semakin dramatis. Sampai beberapa pengunjung yang lewat mulai melirik heran.
Kinasih yang berdiri tidak jauh dari sana sampai memegangi perutnya sendiri. Terlalu banyak tertawa. Terlalu keras. Air mata bahkan mulai menggenang di sudut matanya.
"Ya ampun..." Ia terkekeh sambil menghapus ujung matanya. "Kamu bantuin gih." Jemarinya tanpa sadar mencubit pelan ujung lengan hoodie Prabu yang berdiri di sampingnya.
Prabu melirik. Tatapannya jatuh pada jemari kecil yang masih mencengkeram kain hoodie miliknya. Hanya sesaat. Namun cukup lama untuk membuat sesuatu yang hangat bergerak samar di dadanya.
Lalu ia mengalihkan pandangan.
"Bantu siapa?" Suaranya tetap datar. Tetap tenang.
Kinasih berusaha meredakan tawanya. "Alvira." Masih ada sisa tawa di suaranya. "Biar Davin nggak jadi tontonan umum." Dagunya bergerak menunjuk ke arah antrean. "Kasian. Malu banget diliatin orang."
Matanya kemudian menangkap seorang bocah kecil yang sedang berbisik pada ibunya sambil menunjuk Davin. Bocah itu terlihat jauh lebih berani daripada pemuda yang kini memeluk tiang lampu.
Tawa Kinasih kembali pecah.