Batas Rindu

Tri handayani
Chapter #1

1. Tak Dianggap

Kanaya menatap senja dari balkon lantai dua. Cahayanya berpendar begitu elok dengan warna jingga, merah dan ungu. Gradasi yang begitu indah dilihat mata. Dia tersenyum sembari meremas kertas yang ada di tangannya. 

Kertas putih dengan deretan tinta berwarna hitam itu lusuh karena ulahnya. Dia melakukan itu cukup lama. Sekitar lima belas menit. 

Senyum tadi semakin memudar, digantikan oleh ekspresi sedih. Matanya berkaca-kaca, namun dia tahan sekuat tenaga. 

“Sudah berusaha maksimal pun ternyata percuma ya… “ Bibir itu tersenyum, meskipun ada luka dalam hatinya. 

Kanaya menunduk, melihat kertas lusuh dalam genggamannya. Dia merenggangkan tangan dan membuka kertas itu. Ada angka seratus di pojok kanan atas yang dilingkari dengan pena berwarna merah. Dibawahnya ada deretan angka-angka matematika yang dia kerjakan dengan perhitungan tepat. 

Nilai sempurna. 

Tapi, tidak ada yang bebangga dengan nilai itu kecuali dirinya sendiri. Bukan sanjungan atau pelukan hangat yang dia dapat, melainkan tuduhan melakukan kecurangan. 

“Neng Naya, makanan sudah siap. Mau makan di bawah atau di kamar?”

Terdengar suara ketukan pintu lalu disusul oleh suara lembut Bi Sarmi. Kanaya menoleh ke arah pintu kemudian berjalan mendekat kesana. Sebelum membuka pintu kayu itu, dia membuang kertas lusuh dalam genggaman tadi ke dalam tempat sampah. 

“Di sini saja ya, Bi. Ayah sama ibu masih marah. Mereka pasti nggak mau lihat mukaku,” jawab Kanaya. 

Bi Sarmi menghela napas. Dia memegang bahu Kanaya dengan lembut. “Sabar ya, Neng. Suatu saat—”

“Mungkin nggak ada suatu saat, Bi. Mereka mau keluar negeri. Bibi nggak mungkin lupa,” ucap Kanaya. 

“Masih lama, Neng. Sekitar setengah tahun lagi. Masih ada waktu untuk—”

Kanaya menggelengkan kepala. “Setengah tahun itu nggak lama. Setelah aku lulus SMA, mereka bakalan pergi. Dan aku? Sendirian disini.”

Bi Sarmi menatap sendu. “Ada Bi Sarmi.”

“Gimana kalau aku nggak bisa bayar Bi Sarmi?” Kanaya tersenyum. 

“Tidak masalah. Bibi akan nemenin Neng Naya.” Senyum Bi Sarmi benar-benar tulus, dipenuhi cinta dan kasih. 

Kanaya mendekat lalu memeluk wanita yang sudah berada di rumah ini lebih dari lima belas tahun itu. 

“Makaish, Bi.” Pelukan itu lepas. 

“Jadi, mau makan dimana? Di sini?” tanya Bi Sarmi. 

Lihat selengkapnya