Batas Rindu

Tri handayani
Chapter #2

2. Kanaya Bukan Kania

“Eh, kamu?”


Kanaya menatap lekat laki-laki yang berdiri di depannya itu. Wajahnya datar, rambutnya bergerak pelan tertiup angin. Wajahnya cool dengan kulit putih, hidung mancung dan bibir tipis. Mendekati sempurna. 


“Siapa ya dia?” gumam Kanaya sembari mengamati wajah laki-laki itu. 


“Kamu siapa?” tanya laki-laki itu dengan tatapan datar. 


Kanaya tersentak. Dahinya langsung berkerut. “Serius kamu nanyain ini sana aku? Ini rumahku loh,” jawab Kanaya. “Harusnya aku yang tanya kamu siapa.”


Laki-laki itu masih memasang wajah datar. Dia mendekat ke arah Kanaya lalu berhenti tepat di depannya---hanya berjarak satu meter. Laki-laki itu mengamati wajah Kanaya dengan serius. 


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Kanaya sembari memeluk kantong kresek berisi makanan yang diberi oleh Ayunda. 


“Wajahmu hampir mirip dengan Kania, tapi bisa dibilang tidak mirip. Siapa kamu?” 


Kanaya langsung memalingkan muka. Dia selalu kesal saat orang lain bilang dirinya tak mirip dengan Kania. Ya memang kenyataannya tak mirip meskipun mereka kembar. 


“Saudara kembarnya,” jawab Kanaya. 


Laki-laki itu terkejut, namun tetapenunjukkan wajah datarnya. “Saudara kembar? Kenapa beda?”


Kanaya menoleh ke arah laki-laki itu. “Punya hak apa kamu tanya begitu? Kamu siapa?”


“Kenzo,” jawabnya singkat. 


Kanaya mengerutkan dahi. Menghela napas. Baru ingat kalau orang tuanya kedatangan tamu. “Huh, kenapa bisa lupa. Dia pasti tamunya ayah dan ibu,” gumamnya pelan. 


“Kamu ngomongin aku?”


Kanaya menggeleng. “Nggak.”

 

Kanaya menghela napas pelan, berusaha mengabaikan tatapan Kenzo yang masih tertuju padanya. Dia tak ingin percakapan itu berlanjut lebih jauh. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia  berbalik dan melangkah meninggalkan halaman belakang rumah.


Langkahnya sedikit dipercepat. Dalam benaknya hanya satu hal—dia tidak boleh terlihat terlalu akrab dengan tamu orang tuanya. Jika sampai ayah atau ibunya melihat, bisa panjang urusannya. Lagi pula, bukan kewajibannya untuk meladeni pembicaraan dengan laki-laki itu.


Kenzo hanya diam, menatap punggung Kanaya yang semakin menjauh. Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah menemukan sesuatu yang menarik. Tanpa terburu-buru, ia kemudian berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam rumah.


Lihat selengkapnya