Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #1

Berdua Saja

Udara pegunungan lereng perbukitan itu membawa aroma pinus dan dingin yang merayap perlahan ke balik pori-pori. Baskara berdiri di balkon villa kayu, menatap hamparan lembah yang mulai tertutup kabut tipis. Di usianya yang sudah melewati kepala tujuh, tentu saja tubuhnya tidak lagi setegap saat ia masih memimpin podium di universitas, namun sorot matanya tetap memiliki wibawa yang sama.

Ratih muncul dari balik pintu geser, membawa syal wol berwarna abu-abu gelap. Tanpa diminta, ia melingkarkan kain hangat itu ke leher Baskara. Jemarinya halus bergerak cekatan merapikan simpul syal, memastikan tidak ada celah bagi angin malam menyentuh kulit renta suaminya. Baskara tidak menoleh, namun ia menaruh telapak tangannya di atas punggung tangan Ratih yang masih berada di pundaknya.

“Terima kasih, Ratih,” gumam Baskara. Suaranya berat dan stabil, jenis suara yang selalu menjadi arah kompas bagi hidup Ratih selama empat dekade terakhir.

Ratih hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya di lengan suaminya. Mereka berdiri dalam diam yang intim. Di tempat itu, mereka adalah dua orang manusia yang saling memiliki, jauh dari rutinitas di Wisma Astana, sebuah nama yang mereka sepakati bersama untuk menyebut rumah besar keluarga mereka. Keberadaan mereka di villa lereng gunung itu bermula dari undangan resmi silaturahmi pihak universitas. Sebagai salah satu guru besar sepuh yang meletakkan batu pertama kejayaan kampus, universitas selalu menyediakan ruang penghormatan khusus bagi Baskara di setiap agenda tahunan mereka. Ratih merasakan detak jantung Baskara di balik kemeja flanelnya, suara yang baginya adalah musik paling menenangkan di dunia.

Baskara memutar tubuhnya sedikit, menatap wajah istrinya di bawah remang lampu balkon. Ia merapikan sehelai rambut perak yang jatuh di kening Ratih dengan ujung jarinya. Gerakannya sangat lambat, seolah sedang menyentuh sesuatu paling berharga yang pernah ia miliki. “Kau selalu tahu kapan aku mulai kedinginan, bahkan sebelum aku menyadarinya sendiri, Rat,” ujarnya dengan binar mata lembut, tatapan yang hanya ia berikan khusus untuk Ratih.

Ratih tertawa kecil, suara tawanya bening dan ringan. “Itu karena aku sudah menghafal setiap tarikan napasmu, Mas. Kalau bahumu sedikit terangkat, aku tahu kau butuh syal. Kalau kau mulai mengetuk-ngetukkan jari di pagar, aku tahu kau butuh teh hangat,” jawab Ratih. Ia merapikan kerah kemeja Baskara dengan kasih yang meluap, rutinitas pengabdian yang ia jalani bukan sebagai beban, melainkan sebagai bentuk rasa syukur.

Malam itu, mereka memutuskan untuk berjalan perlahan menuju kedai kecil di ujung jalan villa. Baskara menggandeng tangan Ratih, tidak dengan tarikan yang kuat, melainkan dengan genggaman hangat. Langkah mereka selaras, lambat dan penuh perhitungan. Setiap beberapa meter, Baskara berhenti sejenak, memastikan Ratih tidak kelelahan, meski sebenarnya dialah yang lebih sering membutuhkan jeda.

Lihat selengkapnya