Uap tipis mengepul dari lubang tutup teko porselen saat Ratih menuang teh melati ke enam gelas kaca yang sudah berbaris di meja jati. Di teras belakang Wisma Astana yang berada di Jalan Kenanga nomor dua belas, ia bergerak di antara aroma adonan gorengan, memastikan letak sendok berada di posisi benar.
Suara gemericik air dari selang plastik di halaman tiba-tiba berhenti. Baskara muncul dengan kaus oblong lembap di bagian punggung karena keringat. Ia meletakkan gunting rumput di lantai semen sebelum melangkah ke keran air untuk membasuh sisa tanah yang terselip di sela kuku. Ratih tidak perlu menoleh untuk tahu suaminya sudah selesai, ia cukup mendengarkan bunyi derit kursi jati ditarik Baskara.
“Pisang ini lebih manis dari yang kemarin, Rat,” ujar Baskara setelah kunyahan pertama. Ia membiarkan uap panas dari potongan pisang itu keluar dari sela bibirnya.
“Mungkin karena digoreng saat Mas sedang semangat mengurus anggrek,” sahut Ratih. Ia duduk di hadapan Baskara dan menggeser piring berisi pisang itu agar lebih dekat dengan Baskara.
“Beberapa anggrek mau mekar. Mungkin dua hari lagi,” balas Baskara pendek sambil meraih cangkir tehnya.
Keheningan mereka pecah saat Satria dan Arum muncul dari pintu ruang tengah, disusul Wistara dan Kinar yang masih melepas sepatu kerja. “Sebenarnya ada acara apa kok mendadak sekali mengumpulkan kami, Yah? Tumben pakai syarat tidak boleh bawa keluarga dulu,” tanya Satria sambil menatap bergantian ke arah Baskara dan Ratih, penasaran jika ada pengumuman penting. Baskara hanya menoleh perlahan, lalu menjawab singkat dengan wajah lempengnya, “Ibumu kangen.” Mendengar jawaban itu, seketika Satria dan adik-adiknya tertawa riuh, merasa baru saja kena prank oleh ayahnya sendiri.
“Proyek di perumahan yang baru ini kacau, Yah. Semen terlambat datang dua hari," keluh Satria sambil langsung menyambar sepotong pisang.
Baskara menoleh perlahan. “Semen dari distributor mana? Biasanya mereka telat kalau ada proyek pemerintah yang lebih besar.”
“Persis, Yah. Distributor Pak Gun. Katanya truknya dialihkan semua ke proyek jalan tol,” jawab Satria dengan nada kesal.
Ratih menyodorkan gelas teh ke depan Satria. “Minum dulu, Mas. Biar tidak panas kepalanya.”
“Terima kasih, Bu,” Satria menyesap teh dengan cepat. “Tapi benar, Yah. Kalau minggu depan belum datang, aku bisa kena denda kontrak.”
Arum, yang sejak tadi sibuk membetulkan letak bantal kursi, ikut menimpali. “Sudah, Mas. Di sini jangan bahas semen dulu. Ibu, ini pisangnya beli di mana? Kok bisa kuning sekali begini?”
“Pasar subuh, Rum. Pak Mangun baru bongkar satu truk tadi pagi,” jawab Ratih singkat sambil tangannya bergerak merapikan lipatan taplak meja yang tersenggol siku Satria. Ratih kemudian memandang Satria dan Arum bergantian, “Ambar sehat, Sat? Usaha butiknya gimana? Bimo sama Dinda kok ya tidak pernah kelihatan main ke sini.
Satria tersenyum mantap, “Sehat, Bu. Ambar titip salam, butiknya sedang banyak pesanan seragam. Bimo-Dinda sibuk les.”
Arum, bagaimana keadaan Hadi? Si Gendis sudah bisa ditinggal mengajar?”
Arum mengangguk, “Mas Hadi juga sehat, Bu, jam mengajarnya lagi padat. Gendis aman di rumah, dijaga pengasuh.”
“Ayah sepertinya harus mengganti lampu di gudang belakang," sela Wistara tiba-tiba. “Tadi aku lihat berkedip-kedip saat aku naruh tas.”
Baskara mengangguk pelan. “Nanti saja, setelah makan malam selesai. Ibu biar yang pegang senternya.”
“Biar aku saja yang ganti besok. Ayah tidak usah naik-naik tangga lagi,” tawar Wistara.
“Tidak usah. Itu belum tentu bolamnya. Ada banyak kabel di situ, dan ayah hafal. Nanti kamu malah bisa korslet,” sahut Baskara dengan nada datar, membuat Wistara tidak membantah lagi.
Kinar, si bungsu, memperhatikan ibunya sejak tadi tidak berhenti bergerak. Ratih tahu kapan harus menuangkan kembali teh ke cangkir Baskara tanpa pria itu perlu meminta. “Ibu, duduk dulu. Dari tadi gerak terus, teh Ibu sendiri sampai dingin tuh,” tegurnya.
Ratih hanya tersenyum tipis. “Ibu tidak apa-apa, Kinar. Sebentar lagi, ini tinggal sedikit.”