Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #3

Tiba-Tiba Sunyi

Suara napas Baskara terdengar berat dan tidak beraturan di dalam kamar gelap. Ratih yang baru saja memejamkan mata setelah memijat pundak suaminya, langsung terduduk tegak. Ia meraba sakelar lampu di dinding, seketika cahaya putih neon menerangi ruangan dan memperlihatkan Baskara sedang mencengkeram dadanya. Kaus oblong putihnya basah keringat, wajahnya yang tadi sore hanya tampak pucat kini berubah menjadi abu-abu kebiruan.

“Mas? Mas Baskara!” Ratih memegang pundak suaminya yang gemetar. Ia tidak berteriak, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Baskara tidak menjawab. Mulutnya sedikit terbuka, seolah sedang berebut udara dengan sesuatu yang tak terlihat. Tangannya yang biasa kuat mengurus anggrek kini meremas sprei dengan sisa tenaganya. Ratih segera menyambar ponsel di atas nakas, tangannya gemetar saat mencari nama Satria di daftar kontak. Pada pukul dua dini hari, dengung telepon yang terdengar selama panggilannya tersambung terasa bagai dengung bor di tengah kesunyian Wisma Astana.

“Satria, ke sini sekarang. Ayahmu,” hanya itu yang keluar dari mulut Ratih saat panggilan tersambung. Ia tidak menunggu jawaban, langsung mematikan sambungan dan kembali fokus pada Baskara.

Ratih mengambil minyak kayu putih, mengusapkan ke dada dan leher suaminya, berharap kehangatan itu bisa membuka jalan napas yang tersumbat. Namun, tubuh Baskara perlahan kehilangan ketegangannya. Remasan pada sprei melonggar. Matanya yang biasanya menatap Ratih dengan ketenangan, kini hanya menatap langit-langit kamar tanpa kedip. Ratih meletakkan telapak tangannya di depan hidung Baskara. Tidak ada embusan. Ia bergeser ke leher, mencari denyut nadi yang biasanya berdetak stabil di sana. Sepi.

Wisma Astana mendadak berubah menjadi pusaran aktivitas yang dingin. Bi Nah, yang biasanya hanya datang saat matahari sudah tinggi untuk membantu mencuci dan menyapu, pagi itu sudah tiba lebih awal. Tanpa diperintah, ia langsung mengambil alih urusan dapur, menyeduh kopi pahit untuk para pelayat yang mulai berdatangan, membiarkan Ratih tetap tenang di sisi suaminya. Di dekat meja makan, Ambar tampak sibuk berembug dengan Bi Nah dan beberapa ibu-ibu tetangga. Dengan sigap, ia mengatur letak air mineral gelas, memesan puluhan kotak camilan untuk para pelayat, serta memastikan urusan konsumsi di belakang berjalan lancar tanpa mengganggu ketenangan Ratih yang sedang terpaku di depan jenazah.

Satria datang dalam waktu kurang dari lima belas menit, disusul oleh Arum yang datang dengan mata sembab dan rambut berantakan. Wistara dan Kinar tiba saat hari mulai terang, ketika bendera putih sudah terpasang di depan pagar Jalan Kenanga nomor dua belas. Di sudut teras depan, Bimo dan Dinda duduk berdampingan dengan wajah pias dan mata sembap. Bimo yang mengenakan kemeja hitam sesekali merangkul pundak Dinda yang terus terisak pelan sambil memandangi ponselnya, mencoba mengabari sanak saudara dekat tentang kepergian mendadak sang kakek. Kursi-kursi lipat mulai ditata di halaman, menutupi rumput yang kemarin sore baru saja disiram oleh Baskara.

Ratih duduk di kursi kayu dekat jenazah suaminya yang kini tertutup kain jarik cokelat, batik yang kemarin sore mereka bicarakan untuk dipakai ke acara nikahan anak Pak Subur. Ia tidak menangis meraung-raung. Matanya kering, hanya menatap ujung kain yang menutupi kaki Baskara. Orang-orang berdatangan, memberikan pelukan, membisikkan kata-kata sabar, namun Ratih hanya membalas dengan anggukan pendek. Baginya, suara-suara itu terdengar seperti dengung lebah yang jauh.

“Bu, minum dulu. Sejak subuh Ibu belum menelan apa pun,” Arum menyodorkan segelas air putih sambil terisak. Pipi Arum basah, suaranya serak karena terlalu banyak menangis.

Ratih menerima gelas itu, meminumnya seteguk, lalu meletakkannya di lantai. “Bapakmu tadi malam hanya makan nasi sedikit sekali, Rum. Dia bilang sambalnya kurang tomat, padahal Ibu sudah kurangi cabainya.”

Arum tidak menjawab, justru tangisnya kembali pecah dan memeluk lutut ibunya. Di sudut ruangan, Satria sedang sibuk mengatur urusan pemakaman dengan para tetangga dan kerabat. Suaranya terdengar tegas, berusaha menjaga wibawa keluarga meski matanya merah. Hadi berdiri setia di sebelah kakak iparnya itu, sesekali mengangguk patuh dan membantu mencatat nama-nama kerabat yang harus dikabari, kadang ia  melangkah cepat ke depan gerbang untuk menyambut dosen-dosen rekan kerja mendiang Baskara dari universitas yang mulai berdatangan memberikan penghormatan terakhir. Wistara berdiri di dekat pintu, sesekali melihat jam tangan, sementara Kinar duduk di lantai, memegangi tangan kiri ibunya yang dingin.

Lihat selengkapnya