Batas Tabu

Yuditeha
Chapter #4

Ritual Ratih

Wisma Astana selalu memiliki aroma sama setiap pukul lima sore, perpaduan antara tanah baru saja disiram dan uap teh melati dari dapur. Bagi Ratih, angka lima di jam dinding ruang tengah bukan sekadar penanda waktu, melainkan jam ritual yang tidak tertulis. Ia melepas celemek biru motif bunganya, mencuci tangan hingga bersih, lalu mengambil teko porselen berwarna putih dengan motif mawar.

Denting sendok beradu dengan dinding gelas kaca menjadi suara pengisi keheningan dapur. Ia menuang air mendidih, membiarkan helai-helai daun teh menari dan perlahan mengubah warna air menjadi kuning kecokelatan. Dua buah gelas disiapkan di atas nampan kayu, takaran kental dan sepetnya disesuaikan persis dengan selera suaminya dulu.

Pekerjaan berat di rumah itu biasanya sudah selesai sebelum tengah hari. Bi Nah, yang sudah belasan tahun membantu keluarga mereka, memang hanya bekerja dari pagi hingga pukul dua siang. Selebihnya, Ratih lebih suka menguasai dapurnya sendiri. Baginya, menyiapkan segala sesuatu di meja makan adalah tugas istri yang tak ingin ia delegasikan pada siapa pun, bahkan ketika anak-anaknya berkumpul seperti saat perjamuan terakhir sebelum Baskara pergi.

Langkah kakinya yang mengenakan sandal rumah terdengar konstan saat ia berjalan menuju teras belakang, meletakkan nampan di meja kayu yang permukaannya sudah halus karena sering diusap. Dengan gerakan hati-hati, ia menaruh satu gelas di hadapannya, dan satu gelas lagi tepat di depan kursi jati di seberang meja. Kursi yang selalu ditempati Baskara selama empat dekade.

Ratih duduk perlahan, membiarkan uap panas dari kedua gelas menerpa wajahnya, memberikan kehangatan semu. Ratih menatap kebun anggrek yang mulai tidak terawat, beberapa rumput liar mulai tumbuh di sela-sela pot. Baskara tidak ada di sana untuk mencabutnya. Sebuah pot anggrek macan yang dulu sering dibanggakan Baskara tampak layu, kelopaknya kecokelatan di bagian pinggir karena kurang perhatian.

“Mas, anggreknya sepertinya haus,” bisik Ratih. Suaranya serak, nyaris menyatu dengan desau angin yang menggoyang dahan pohon mahoni di belakang pagar.

Ia terdiam lama, memberikan jeda panjang, seolah-olah ia sedang menunggu jawaban dari kursi kayu di depannya. Tidak ada suara gemericik air dari selang yang biasa dipakai Baskara. Tidak ada bunyi gunting rumput yang beradu dengan dahan kering. Hanya ada hening yang semakin lama menghimpit dada Ratih hingga ia harus menarik napas panjang.

Ratih menyesap tehnya. Panas cairannya menyentuh lidah, namun ia merasa ada yang salah dengan rasanya. Mungkin karena ia lupa menambahkan sedikit kayu manis. Di depan matanya, gelas teh milik Baskara masih utuh. Uapnya perlahan menghilang, menyisakan permukaan air yang tenang dan dingin.

Lihat selengkapnya